Mahasiswa Pancasila Lampung Gelar Diskusi Publik 'Tangkal Radikalisme'


FOKUS LAMPUNG -- DPD Mahasiswa Pancasila Provinsi Lampung menggelar Diskusi Publik dengan tema “Generasi Muda Menangkal Radikalisme", yang diadakan di Café Dunkin Donuts Kedaton, Bandar Lampung pada hari Juma’t (13/12).

Diskusi ini dihadiri oleh 55 perwakilan pemuda seantero Bandar Lampung serta sejumlah narasumber, antara lain Dr. Sairul Basri, S.Ag., M.Pd.I. (Staf Khusus pada Kanwil Kemenhan RI Provinsi Lampung), Drs. KH. Basyarudin Maisir (Sekretaris MUI Provinsi Lampung), Darmawan Purba, S.IP., M.IP. (Akademisi dari Universitas Lampung), dan Husni Mubarok, SH. (Ketua HMI Cabang Bandar Lambung).

Sementara itu, Dr. Sairul Basri, S.Ag., M.Pd.I. mengatakan mahasiswa dan seluruh generasi muda adalah pemimpin di masa depan, jadi jangan pernah meninggalkan kearifan lokal Indonesia agar tetap utuh NKRI.

Beberapa penyebab orang dapat menjadi sangat radikal adalah adanya ketidakpuasan individu maupun kelompok terhadap keadaan sosial politik, faktor ekonomi dan ketidak adilan, adanya kelemahan dalam memahami Agama, permainan isu dan media sosial, krisis Wawasan Kebangsaan, serta  kehilangan karakter.

“Islam bukan penyebab radikal dan terorisme, namun bisa dimainkan sebagai isu yang memecah belah. Pihak berkepentingan di luar memainkan isu supaya Indonesia tidak stabil dan riuh terus melalui berbagai isu tersebut,” kata Sairul Basri.

Drs. KH. Basyarudin Maisir mengatakan MUI telah menegaskan bahwa Islam wasathiyah adalah paham yang cocok di Indonesia, sebab paham ini mengajarkan agar kita selalu berada ditengah. Sistem kenegaraan dalam Islam tidak mengatur bentuk negara.

'Indonesia dibentuk atas dasar kesepakatan tokoh pimpinan dan semua agama. Jadi, jika ada orang yang baru datang lalau ingin mengganti Pancasila dengan nilai-nilai mereka maka hal itu tidak diperbolehkan,” ujar Maisir. (dade)

Senada dengan hal tersebut, Darmawan Purba, S.IP., M.IP menerangkan bahwa radikalisme adalah paham ideologi yang menginginkan perubahan mendasar dalam lingkup sosial politik dengan menggunakan kekerasan.

“Para generasi muda dan masyarakat umum jangan terjebak dengan isu agama dan nilai-nilai radikalisme. Tidak ada kecenderungan ke satu agama, namun hal ini terus dihembus-hembuskan. Lingkungan kampus adalah termasuk dalam komunitas yang rentan, banyak terjadi diskusi, dan mahasiswa rentang terpapar nilai-nilai radikalisme,” ujarnya.

Diskusi publik yang dimulai pukul 14.00 WIB, ditutup oleh pernyataan dari Husni Mubarok, SH yang menyampaikan bahwa perlu ditekankan kepada generasi muda agar jangan sampai berkembang sudut pandang yang merongrong negara, melainkan agar lebih dikedepankan sisi positif dari pemanfaatan teknologi terkait. (dade)

Terkini