CIREBON, FC – Dua perguruan tinggi di lingkungan Buntet Pesantren menyatakan kesiapan untuk bertransformasi menjadi institut. Komitmen tersebut disampaikan oleh Dr. Mariyah Ulfah, M.E.Sy selaku Ketua Bidang I yang membawahi Pendidikan Tinggi, Riset, Pengembangan, Badan Harian Pembina Perguruan Tinggi, dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) YLPI Buntet Pesantren, saat membuka kegiatan Ngaji Bareng Gen-Z: Perempuan dalam Fiqh Islam: Dimuliakan Martabatnya, Diberi Ruang Perannya” yang diselenggarakan oleh BEM PTNU se-Nusantara di Akper Buntet Pesantren (15/2/2026).
Dalam sambutannya, Mariyah Ulfah menegaskan bahwa transformasi kelembagaan menjadi institut merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola, memperluas cakupan keilmuan, serta meningkatkan daya saing lulusan di tingkat nasional dan global.
Dua perguruan tinggi yang dimaksud adalah STIT Buntet Pesantren dan AKPER Buntet Pesantren, yang selama ini telah berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai pesantren.
“Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, tetapi perubahan paradigma menuju institusi yang lebih integratif, adaptif, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Kami ingin memperluas rumpun keilmuan tanpa meninggalkan khazanah turats dan tradisi pesantren,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa proses menuju institut telah dipersiapkan melalui penguatan sumber daya manusia, peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah, pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), serta optimalisasi kerjasama dan jejaring luar negeri.
Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa tahapan pengusulan alih bentuk sudah dilakukan dan sedang tahap evaluasi di tingkat kementerian dan badan terkait.
Momentum penyampaian komitmen tersebut dinilai sangat relevan dengan tema kegiatan yang mengangkat peran perempuan dalam fiqh Islam. Menurut Mariyah, perguruan tinggi pesantren harus menjadi ruang yang inklusif, memberikan kesempatan setara bagi perempuan untuk berkembang dalam bidang akademik, kepemimpinan, maupun pengabdian masyarakat.
Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa BEM PTNU se-Nusantara tersebut berlangsung dengan penuh antusiasme. Diskusi yang mengangkat isu-isu keislaman kontemporer sekaligus menjadi ruang refleksi bagi generasi muda dalam memaknai peran strategis perempuan dalam perspektif fiqh dan sosial kemasyarakatan.
Dengan semangat transformasi ini, Buntet Pesantren diharapkan semakin mengukuhkan diri sebagai pusat pendidikan tinggi Islam yang berakar pada tradisi, namun mampu menjawab tantangan modernitas. Perubahan menuju institut diyakini akan memperluas kontribusi akademik dan sosial, sekaligus memperkuat posisi Buntet Pesantren dalam peta pendidikan tinggi keislaman di Indonesia. (din)




















