Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Syekh Nurjati Cirebon gelar Diskusi Demokrasi di Kampus

CIREBON, FC - Senat Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan berani mengadakan kegiatan bertajuk pesta demokrasi lewat program Diskusi Demokrasi yang mengangkat tema "Matinya Demokrasi Negara dimulai dari Matinya Demokrasi Kampus".

Kegiatan berlangsung dari siang sampai malam yang mulanya diadakan di Taman IAIN samping Masjid Al Jamiah berpindah ke ICC IAIN dikarenakan cuaca yang tak menentu.

Hujan bukanlah kendala bagi panitia SEMA-I dalam merealisasikan kegiatan, kegiatan dibuka oleh para Dekan yang terdiri dari Dekan FUA, Dekan FEBI, Dekan Fasya, dan Dekan FITK.

Di pembukaan kegiatan, diisi oleh sambutan-sambutan yang dimulai dari Ketua Pelaksana Omar Qad Panity, menyampaikan bahwa "Diskusi demokrasi berangkat dari kampus yang sedang tidak baik-baik saja dan gagalnya peranan eksekutif dalam mewadahi ruang diskusi terbuka, besar harapan sebagai mahasiswa tak hanya fokus pada isu kampus tetapi juga pada isu negara".

Ditegaskan juga oleh Ketua Senat Mahasiswa Institut, Agam Rahmat Prayogo. Bahwasanya "Agenda kita hari ini adalah salah satu upaya untuk menghadirkan senat di tengah teman-teman semua dan karena prihatin pada kampus yang demokrasinya telah mati, tak lupa mengapresiasi teman-teman panitia".

Mewakili Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dalam sambutannya yang diwakilkan oleh salah satu Dekan. Dr. Anwar Sanusi M.Ag menyampaikan "Permohonan maaf atas pimpinan yang berhalangan hadir baik Rektor maupun Warek 3, oleh karena itu kami ber-4 disini hadir adalah bentuk dari demokratis itu sendiri. Demokrasi di kampus ini masih hidup".

Sesi pembukaan selesai diselingi oleh Live Music dan dilanjut pada sesi inti acara, Diskusi Demokrasi. Dihadiri oleh pemateri dari lembaga-lembaga seperti KPU, Bawaslu, dan LBH. Dan aktifis mahasiswa dari UI, UGM dan IAIN.

Dalam sesi diskusi, moderator acara Nafa Ananda memantik dengan melemparkan pertanyaan ke semua pemateri dengan bertanya apakah tema yang diangkat itu relevan? Menariknya, ada yang pro dan kontra.

Bapak H. Rasjid Ketua LBH Cirebon Raya menyampaikan itu tidak valid, sebab demokrasi sejatinya tidak akan mati, karena ada dalam diri individu masing-masing.

Dari KPU bapak Mardeko menjelaskan hal-hal dasar demokrasi lewat pemilu, sebab baginya mahasiswa adalah pemilih pemula yang perlu di edukasi.

Disambung oleh Nurul Fajri berbagi pengalamannya saat menjadi mahasiswa sampai sekarang di lembaga yang masih mengawal demokrisasi dari kampus ke pemerintahan.

Dari elemen aktifis mahasiswa juga tak kalah menariknya, Muh Kholid Presma UGM 2022 menyampaikan bahwa Demokrasi kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Membawakan data merosotnya the democracy index dari tahun 2015 sebesar 7,03 sedangkan 2022 hanya 6,71 dan world press freedom index tahun 2015nya 59,5 sedangkan 2022nya 54,83. Keruntuhan Demokrasi pun tidak berlangsung begitu saja, ada beberapa momentum dari tahun 2022 ke 2023.

Kemudian dari Fahmi Farhan Mubarok ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa mengatakan peran mahasiswa memang betul mempengaruhi proses demokrasi negara, dan sedikit banyak membawakan regulasi yang mengatur jalannya demokrasi di kampus.

Dan pamungkas dari Ketua BEM UI 2023 Melki Sedek Huang, bahwa anak muda saat ini tak bisa hanya dimanfaatkan oleh kepentingan beberapa pihak, anak muda mesti bersuara dan kritis melawan kebijakan-kebijakan negara yang jauh dari kata demokratis. Dan itu pun dimulai dari ruang kita semenjak jadi mahasiswa. Pasalnya, saat kini ia juga sedang melakukan konsol di LBH Jakarta, dan berharap bisa sama-sama berjuang bersama.

Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang mana moderatori tidak membatasi pertanyaan dan antusias peserta membuat banyak pertanyaan masuk ke para pemateri, beragam peluru ada yang mengenai ke lembaga, di mana sejauh mana peran mereka menyentuh kampus, peluru ke aktifis mahasiswa menyikapi mahasiswa apatis dan politis yang lain saat ini. Bahkan sampai mempertanyakan kinerja atau peran ormawa dalam mengawal demokrasi kampus ini.

Dan sampai di penghujung acara seperti pada acara umumnya, ditutup dengan penyerahan cindemrata dan foto bersama. ICC menjadi saksi akan digelarnya ruang diskusi demokrasi untuk pertama kali dalam sejarah IAIN. (Ara)

Terkini