-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Kabar Siswa TK Teratai Meninggal Usai Santap MBG, DPRD Cirebon Pastikan Hoaks

Selasa, 20 Oktober 2026 | Oktober 20, 2026 WIB Last Updated 2026-10-21T01:44:20Z


CIREBON, FC - Kabar duka yang menyebut seorang siswa TK Teratai meninggal dunia usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat resah warga Kota Cirebon, Selasa (21/10/2026) malam.


Kabar tersebut menyebar cepat melalui pesan berantai WhatsApp dengan narasi singkat, “Ayah ada yang meninggal anak TK Teratai orang Keandra”. Pesan itu beredar dari grup ke grup dan memicu kepanikan orang tua.


Di tengah kepanikan itu, banyak keluarga korban keracunan MBG yang masih bertahan di rumah sakit justru semakin cemas. Mereka yang sejak siang menunggu kabar kondisi anaknya di IGD, harus berhadapan dengan informasi simpang siur yang belum jelas kebenarannya.


Untuk memastikan kebenaran kabar tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani, bergerak cepat melakukan pengecekan langsung ke rumah sakit.


Setelah sebelumnya mendatangi RS Siloam bersama Forkopimda yang dipimpin Wali Kota Effendi Edo, Kapolres Cirebon Kota, Dandim, Kadinkes, dan Kasi Intel Kejari, Harry kemudian melanjutkan pengecekan ke RSD Gunung Jati.


Di RSD Gunung Jati, ia berkoordinasi langsung dengan petugas medis yang menangani puluhan siswa yang diduga keracunan MBG.


"Informasinya ada yang meninggal, jadi saya cek langsung. Dari 31 pasien yang mendapat penanganan medis di RSD Gunung Jati, tidak ada yang meninggal dunia hingga waktu pengecekan dilakukan," ujar Harry, Selasa malam sekitar pukul 22.04 WIB.


Ia menegaskan, hingga pukul 22.04 WIB, tidak ada data maupun laporan medis yang mengonfirmasi adanya korban meninggal dunia di RSD Gunung Jati.


Harry meminta masyarakat untuk menahan diri dan tidak ikut menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Menurutnya, kabar bohong di saat seperti ini justru melukai perasaan keluarga yang sedang berjuang menanti kesembuhan anak-anak mereka.


"Saya meminta masyarakat tidak termakan informasi yang tidak akurat dan tidak langsung menyebarkan berita yang belum tentu benar. Hal seperti ini bisa membuat suasana semakin gaduh," tegasnya.


Hingga kini, puluhan siswa masih menjalani perawatan intensif. Pihaknya berharap warga memberikan ruang dan doa agar seluruh korban segera pulih, serta menyerahkan informasi resmi hanya kepada pihak rumah sakit dan pemerintah. (din)




×
Berita Terbaru Update