Humas Garda Terdepan PTKI Dalam Memenangkan Kompetisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Secara Nasional

BANDUNG, FC Humas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menggelar pertemuan disela-sela kegiatan Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) Ke-II PTKI Se-Indonesia di Bandung. 

Pada kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah narasumber seperti Zaenal Muttaqin (Kepala Pusat Informasi dan Humas UIN Jakarta), Muhammad Mahyudin (Dewan Kehormatan Forum Humas PTKI/UIN Yogyakarta), Nanang Syaikhu (Jurnalis senior & praktisi Humas), dan Feni Arifiani (Koordinator Akademik UIN Jakarta). 

Diskusi dipandu fungsional Humas UIN Salatiga Zidnie Ilman Elfikri, bertempat di Uni Club Harun Nasution UIN Jakarta. Kamis, (15/06/23)

Adapun hasil diskusi adalah Unit Humas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam harus terus diperkuat dalam mendiseminasikan keunggulan kajian keilmuan yang ditawarkan perguruan tinggi Islam di Indonesia. 

Di saat yang sama, unit humas juga perlu meningkatkan adaptabilitas atas perkembangan media informasi kehumasan.

Dalam paparannya, Zaenal mengungkapkan, tantangan perguruan tinggi berbasis keagamaan Islam kini adalah memenangkan kompetisi ketat perguruan tinggi secara nasional. 

Searah perkembangan pendidikan tinggi, perguruan tinggi umum maupun keagamaan berkompetisi ketat menjadi pilihan utama pendidikan generasi muda.

 “Dalam konteks kompetisi ini, PTKI harus memenangkan kompetisi, dimana ketika generasi muda memilih tempat studi, maka PTKI harus berada di nomor urut pertama pilihan mereka”, tuturnya.

Kompetisi ini perlu dimenangkan perguruan tinggi searah transformasi banyak perguruan tinggi keagamaan Islam menjadi universitas dari sebelumnya institut atau sekolah tinggi. 

Melalui transformasi ini, perguruan tinggi Islam turut menawarkan fakultas dan program studi umum berbasis integrasi Islam-Ilmu pengetahuan seperti Prodi Manajemen, Prodi Akuntansi, Prodi Farmasi, Prodi Pendidikan Dokter, Prodi Hubungan Internasional dan lainnya.

Dalam memenangkan kompetisi tersebut, unit Humas dituntut mampu mengemas diseminasi informasi tentang keunggulan perguruan tinggi keagamaan Islam. 

“Intinya, disampaikan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam bukan hanya menawarkan kajian keislaman, melainkan juga keilmuan berbasis keunggulan integrasi ilmu,” jelasnya.

Sebagai elemen dasar memenangkan kompetisi, sambungnya, unit Humas sendiri wajib meng-upgrade pengetahuan, wawasan, dan skill teknis. 

“Di antaranya, perlu adaptif dengan perkembangan media informasi yang terus berkembang,” imbuhnya.

Sejalan dengan penguatan unit Humas PTKI, Mahyudin mendorong institusi perguruan tinggi masing-masing untuk mendukung pelaksanaan fungsi unit humas.

 “Keberhasilan Humas menjalankan fungsi perannya tidak lepas dari perhatian dan dukungan pimpinan institusi masing-masing”, terangnya.

Dalam hal ini, sambungnya, unit Humas mesti ditempatkan dalam unit kerja terdepan bukan semata pelengkap. “Perlu kebijakan yang mendukung penuh pelaksanaan fungsi dan peran kehumasan”, ucapnya.

Selain itu, sumber daya humas sendiri perlu terus meng-upgrade kemampuan komunikasi, inovasi saluran komunikasi, termasuk kemampuan mencitrakan humas sebagai unit terdepan. 

“Misalnya, dari cara berpakaian dan bersikap juga perlu diperhatikan agar trust publik juga tercipta,” tambahnya.

Nanang menambahkan, seorang fungsional humas harus terus meningkatkan kesadaran menginformasikan sebagai elemen dasar tugas kehumasan. Di saat yang sama, sumber daya humas juga dituntut mampu mengemas informasi agar menarik ketertarikan publik.

Searah perkembangan media komunikasi, Nanang berharap tenaga kehumasan perguruan tinggi keagamaan Islam bersikap adaptif terhadap perubahan media komunikasi. 

“Jika dulu media cetak, lalu web, ke depan unit Humas harus adaptif dengan perkembangan sosial media”, paparnya.

Feni menambahkan, fungsi dan peran kehumasan perguruan tinggi keagamaan Islam tidak bisa seratus persen dibebankan kepada unit Humas semata. 

“Semua harus sadar bahwa marketing perguruan tinggi keagamaan Islam adalah seluruh sivitas akademikanya, baik pimpinan maupun bawahan”, terangnya.

Diskusi yang berlangsung hampir dua jam menyepakati perlunya sinergi lebih erat unit humas perguruan tinggi keagamaan Islam. Sharing session tentang praktik, penguatan peran, dan penyelesaian bersama berbagai problematika kehumasan menjadi beberapa ide yang diharapkan bisa terus terus jadi perhatian bersama seluruh fungsional humas. (din)

Terkini