PSGA IAIN Cirebon dan Ormawa Gelar Workshop Penguatan Dan Pencegahan Toxic Relationship Di Lingkungan Kampus

CIREBON, FC - Program Studi Gender dan Anak (PSGA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon melakukan upaya nyata dalam memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diperingati setiap tanggal 25 November, dengan menggelar Workshop Penguatan Relawan dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa). 

Kegiatan yang dimulai Selasa, 21 November, dan berlangsung selama 2 hari hingga Rabu, 22 November, telah menjadi pusat perhatian bagi mahasiswa serta kalangan akademisi.

Workshop yang digelar di Auditorium Lembaga Pengembangan Mahasiswa (LPM) IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini menampilkan berbagai diskusi, pelatihan, dan sesi refleksi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta keterlibatan aktif dalam menangani isu kekerasan terhadap perempuan. Acara ini dihadiri oleh 50 mahasiswa.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dan dalam sambutannya, Prof. Aan menyoroti pentingnya memahami dampak negatif dari kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. 

“Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap masalah ini. Setiap individu harus menjadi agen perubahan dalam memberantas kekerasan terhadap perempuan,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan  17 poin Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah  dilansir dari Indonesia Sustainability dan menjadi fokus-fokus di berbagai negara untuk mewujudkan tujuan yang besar,  salah satu poinnya yaitu Kesetaraan gender (gender equality).

Prof. Aan, juga memberikan wawasan yang mendalam tentang perlunya hubungan yang sehat dan kesetaraan gender. 

“Hubungan yang sehat adalah fondasi dari masyarakat yang damai dan berkeadilan. Kita harus bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman bagi semua,” jelasnya.

Dr. Masriah, Kepala Program Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, yang juga merupakan salah satu penggagas acara ini, mengungkapkan harapannya terhadap workshop ini.

"Kegiatan ini tidak hanya sebatas forum diskusi, tapi juga sebagai tonggak awal bagi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan terhadap perempuan,” jelasnya dengan penuh antusiasme.

Imelda Triadhari selaku ketua relawan PSGA menuturkan bahwa worksop penguatan relawan dan ormawa ini dengan bertajuk toxic relationship sangat bermanfaat bagi generasi muda, yang mana kasus kekerasan terhadap perempuan di seluruh masyarakat terjadi karena relasi kuasa baik dari lingkup pacaran/pasangan maupun dari kalangan lain. 

"Pentingnya workshop ini sebagai penguatan agar dari relawan dan ormawa mengetahui dampak dari toxic relationship dan cara mencegah ataupun mengatasinya," kata Imelda kepada media, Jum'at, (1/12/23).

Khaerul anwar, Ketua Pelaksana juga  menyampaikan terima kasih terhadap para lembaga yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan acara ini Dan terima kasih kepada para relawan atas kehadiran nya, kegiatan ini supaya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan pengetahuan dan diskusi produktif kedepannya.

"Workshop Penguatan Relawan dan Ormawa dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan keterlibatan aktif mahasiswa serta Ormawa dalam memerangi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga dalam skala yang lebih luas dalam masyarakat," ujarnya.

Setelah itu, kegiatan ini dilanjut dengan penguatan relawan dengan dihadiri dari beberapa narasumber yang bergerak di bidang anti kekerasan seksual.

Materi yang disampaikan berupa SK Rektor,  UU TPKS, peraturan pendis, dan kekerasan dalam pacaran. 

Dalam serangkaian acara, para peserta diberikan wawasan mendalam tentang kekerasan terhadap perempuan sekaligus mendapatkan materi yang menguatkan peran mereka sebagai relawan dan anggota ormawa. Salah satu titik fokus dari kegiatan ini adalah untuk memastikan bahwa setiap individu yang hadir memahami urgensi peran mereka dalam menangani isu yang kompleks ini.

Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada relawan agar mereka menjadi agen perubahan yang efektif. Meningkatkan kesadaran relawan tentang pentingnya pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap perempuan. Mendorong relawan untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan peringatan sebagai upaya konkrit untuk menyebarkan pesan anti-kekerasan.

Lanjut, Kepala Program Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, menekankan pentingnya kegiatan ini dalam memberikan penguatan pada relawan PSGA dan Ormawa. 

“Kegiatan ini adalah kombinasi yang luar biasa. Kami tidak hanya memperingati 16 HAKTP, tetapi juga memberdayakan relawan dan ormawa kami dengan pengetahuan yang lebih dalam, mempersiapkan mereka untuk peran yang lebih aktif dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan,” pungkas Dr Masriah. (Ara)

Terkini