-->

Notification

×

Situs Batu Tulis Huludayeuh, Jejak Penting Kerajaan Sunda di Kabupaten Cirebon

Minggu, 24 Mei 2026 | Mei 24, 2026 WIB Last Updated 2026-05-24T11:41:50Z

 




KABUPATEN CIREBON - Situs Batu Tulis Huludayeuh yang berada di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, menyimpan jejak penting peninggalan kerajaan Sunda yang belum banyak diketahui masyarakat.


Lokasinya berada di hamparan sawah dengan panaroma perbukitan yang memanjakan mata.


Batu tulis bersejarah di Cikalahang itu memiliki tinggi sekitar 74 sentimeter dan lebar 36 sentimeter. Terukir tulisan dengan aksara kuno di tubuh batu tersebut.


Kabarnya, Huludayeuh disebut sebagai satu dari dua prasasti batu tulis peninggalan Kerajaan Sunda yang berada di Jawa Barat.


Juru kunci Situs Batu Tulis Huludayeuh, Edi, mengamini kabar tersebut. Edi pun menceritakan awal mula ditemukannya situs bersejarah yang menjadi saksi kekuasaan kerajaan Sunda.


Edi mengatakan, batu prasasti tersebut pertama kali ditemukan warga sekitar sekitar tahun 1930. Saat itu, kawasan tersebut masih berupa hutan belantara dan belum menjadi area persawahan seperti sekarang.


“Dulunya masih hutan. Katanya ada pohon beringin tumbang, lalu di bawahnya ditemukan batu ini,” kata Edi saat berbincang dengan tim Diskominfo Kabupaten Cirebon Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) di lokasi situs.


Meski telah ditemukan sejak puluhan tahun lalu, penelitian terhadap situs tersebut baru dilakukan pada Februari 1991. Setelah itu, prasasti Batu Tulis Huludayeuh ditetapkan sebagai cagar budaya.


Menurut Edi, keberadaan prasasti itu memiliki nilai sejarah penting, karena berkaitan dengan peninggalan kerajaan Sunda.


Ia menyebut, berdasarkan keterangan para ahli, prasasti tersebut dibuat atas perintah seorang raja bergelar Sri Maharaja Ratu Haji.


“Batu ini ditulis atas perintah kerajaan sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan yang telah dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.


Selain menyimpan nilai sejarah, situs tersebut juga terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Edi mengaku senang apabila banyak masyarakat, terutama pelajar dan generasi muda, datang berkunjung untuk belajar sejarah dan budaya.


“Kalau ada kunjungan, saya senang sekali. Pernah juga ada sekolah datang ke sini,” katanya.


Ia menilai Situs Batu Tulis Huludayeuh berpotensi menjadi destinasi edukasi sejarah dan budaya di Kabupaten Cirebon.


Pengunjung tidak hanya dapat melihat langsung prasasti peninggalan masa lampau, tetapi juga mempelajari sejarah Huludayeuh yang diyakini memiliki kaitan dengan pusat pemerintahan pada zamannya.


Ia menjelaskan, berdasarkan penuturan para sesepuh, kata ‘Hulu’ diartikan sebagai kepala atau pusat, sedangkan ‘Dayeuh’ berarti kota. Karena itu, Huludayeuh diyakini sebagai pusat pemerintahan pada masa lalu.


Di tengah perkembangan zaman, Edi berharap generasi muda tetap peduli terhadap pelestarian situs budaya dan sejarah daerah.


“Harus mau berkunjung, supaya tahu sejarah dan ikut melestarikannya,” ucapnya.


Sri Baduga Maharaja


Sementara itu, menurut penelitian arkeolog Hasan Djafar dalam jurnal Berkala Arkeologi Volume 14 (1994) berjudul Prasasti Huludayeuh yang diakses lewat kemdiktisaintek.go.id, peninggalan prasasti di Jawa Barat jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan temuan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Hasan Djafar dalam jurnalnya menjelaskan, penamaan prasasti itu diambil dari lokasi penemuannya. Dalam kajiannya, Hasan Djafar menyebut Prasasti Huludayeuh berkaitan dengan penghormatan terhadap jasa-jasa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Nama raja tersebut juga disebut dalam isi prasasti.


“Raja yang disebutkan dalam prasasti Huludayeuh tersebut tidak lain ialah Ratu Purana Sri Baduga Sri Maharaja Ratu Haji ri Pakwan Sya San Ratu Dewata,” tulis Hasan Djafar dalam penelitiannya.


Ia menjelaskan, prasasti tersebut kemungkinan tidak diterbitkan langsung oleh Sri Baduga Maharaja, melainkan oleh penerusnya, yakni Raja Surawisesa yang memerintah pada 1521–1535.


“Mengingat prasasti Huludayeuh ini isinya berkenaan dengan usaha memperingati jasa-jasa kebajikan Sri Baduga Maharaja, mungkin sekali prasasti ini tidak dikeluarkan oleh Sri Baduga Maharaja sendiri, melainkan oleh raja penggantinya, yaitu Raja Surawisesa (1521-1535),” tulis Hasan Djafar.


Penelitian tersebut juga menyebut kondisi Prasasti Huludayeuh sudah tidak utuh. Sejumlah bagian batu telah patah dan aus, sehingga beberapa huruf dan kalimat sulit dibaca.


Meski demikian, prasasti itu masih menjadi sumber penting untuk menelusuri sejarah kerajaan Sunda di wilayah Kabupaten Cirebon. (din)

×
Berita Terbaru Update