Sya’ban: Bulan Menyucikan Hati, Menata Takdir, dan Menyambut Cahaya Ramadan

H.M.Arifin M.Ag, Humas UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon 


CIREBON, FC - Humas UIN Siber Cirebon, H.M. Arifin M.Ag menegaskan, tatkala kalender Hijriah memasuki bulan Sya’ban, ada getaran lembut yang menyentuh relung batin umat Islam. Ia hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan isyarat spiritual bahwa Ramadan kian mendekat. 

Sya’ban menjadi jembatan sunyi ruang perenungan tempat jiwa membersihkan diri, menata niat, dan mempersiapkan hati sebelum menyambut bulan suci.

Dalam khazanah Islam, Sya’ban menempati posisi istimewa. Rasulullah ﷺ bahkan menyebutnya sebagai “syahri” bulanku. Sebutan ini bukan tanpa makna. Para ulama memaknai Sya’ban sebagai momentum memperbanyak shalawat dan menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Jika Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, maka Sya’ban adalah bulan mahabbah, keteladanan, dan kedekatan spiritual dengan Sang Rasul.

Ulama besar Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki menjelaskan, Sya’ban dinamakan demikian karena dari bulan inilah memancar cabang-cabang kebaikan. Setiap amal, doa, dan taubat yang dipanjatkan memiliki potensi besar melipatgandakan keberkahan. Ia menjadi ladang subur bagi siapa pun yang ingin menata ulang kehidupan batinnya.

Keistimewaan Sya’ban mencapai puncaknya pada malam Nisfu Sya’ban. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, pada malam pertengahan bulan ini Allah SWT menetapkan dan mencatat perjalanan hidup manusia untuk satu tahun ke depan. Kesadaran akan hal tersebut sejatinya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak manusia merenung.

Betapa sering manusia larut dalam hiruk-pikuk dunia mengejar harta, jabatan, dan ambisi tanpa menyadari bahwa ajal, rezeki, dan nasibnya tengah dituliskan. Dari perenungan inilah lahir tiga sikap utama dalam beragama: rasa takut akan dosa, harapan terhadap rahmat Allah, serta sikap berserah sepenuhnya kepada ketentuan-Nya.

Karena keagungannya, para ulama menganjurkan umat Islam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah: shalat sunnah, istighfar, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa. Di Indonesia, tradisi membaca Surah Yasin tiga kali selepas Magrib dengan niat panjang umur, keselamatan, dan kecukupan rezeki telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar ritual, amalan tersebut merupakan proses penyucian batin. Di hadapan Allah, manusia mengadu tentang dosa yang menumpuk, rezeki yang terasa sempit, hidup yang penuh ujian, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Doa-doa Nisfu Sya’ban mengajarkan kerendahan hati: bahwa manusia tak memiliki daya dan upaya kecuali dengan rahmat-Nya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistik, Sya’ban hadir sebagai oase rohani. Saat masyarakat diliputi kecemasan kolektif krisis ekonomi, kegelisahan sosial, retaknya relasi keluarga, hingga kekosongan makna Sya’ban mengajak manusia berhenti sejenak untuk menata ulang orientasi hidup.

Spiritualitas Sya’ban menawarkan terapi jiwa. Ia mengajarkan bahwa ketenangan sejati tidak selalu lahir dari kepemilikan, melainkan dari kepasrahan dan kedekatan kepada Allah SWT.

Hakikatnya, Sya’ban adalah madrasah persiapan menuju Ramadan. Ia melatih konsistensi ibadah, memperkuat doa, memperbanyak shalawat, serta membersihkan hati dari iri, dengki, dan dendam. Siapa yang memuliakan Sya’ban, insyaallah akan lebih siap memuliakan Ramadan.

Sebab Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan transformasi spiritual. Dan Sya’ban adalah pintu masuknya.

Maka, mari sambut Sya’ban dengan kesungguhan. Hidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan doa dan harap. Perbanyak shalawat sebagai tanda cinta. Luruhkan kesombongan dalam sujud panjang. Siapkan jiwa agar pantas menjadi tamu Ramadan. Sebab bisa jadi, inilah Sya’ban terakhir kita. (din)


Terkini