-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Aktivis UIN Siber Cirebon Bedah Strategi Advokasi Kelompok Rentan Lewat Karya Ilmiah

Jumat, 26 Juni 2026 | Juni 26, 2026 WIB Last Updated 2026-06-27T04:02:59Z

 


CIREBON, FC – Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar Workshop Kepenulisan bagi para Relawan PSGAD pada Selasa (23/6/2026). 


Kegiatan yang berlangsung di Auditorium LP2M Lantai 3 ini sengaja dirancang untuk melatih para relawan yang juga menjadi garda depan penanganan kasus Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di kampus agar mampu mengubah pengalaman pendampingan di lapangan menjadi karya tulis yang punya kekuatan advokasi.


Hadir sebagai narasumber utama, Imelda Triadhari, S.Sos., membuka materi workshop dengan menegaskan bahwa menulis tidak boleh hanya dianggap sebagai penggugur kewajiban akademik. 


Aktivis muda sekaligus konselor ini menilai, keterampilan menulis bagi seorang relawan adalah instrumen perjuangan untuk mendesak kebijakan dan mengedukasi masyarakat secara lebih luas.


"Selama ini banyak pengalaman berharga dan fakta penting dari pendampingan kasus PPKS yang menguap begitu saja karena tidak pernah ditulis. Tanpa dokumentasi ilmiah yang kuat, gerakan advokasi kita akan mudah patah dan kalah oleh stigma yang berkembang di masyarakat," ujar Imelda di hadapan para peserta workshop.


Untuk memberikan gambaran nyata kepada peserta mengenai cara mengangkat isu sensitif ke dalam tulisan, Imelda membagikan pengalamannya saat menyusun dua jurnal ilmiah terkait dampak traumatik psikologis pada wanita lesbian. 


Melalui contoh kasus tersebut, ia menunjukkan kepada para relawan bagaimana pendekatan menulis yang empiris bisa digunakan untuk menyuarakan persoalan kelompok rentan yang selama ini sering terabaikan dalam diskusi publik.


Masuk ke ranah yang lebih dekat dengan tugas keseharian peserta, Imelda kemudian membedah artikel jurnalnya yang ketiga mengenai kekerasan seksual di lingkungan kampus. 


Ia menjelaskan bahwa tulisan yang berbasis data lapangan sangat krusial untuk membongkar fenomena gunung es di perguruan tinggi. Melalui draf tulisan yang terstruktur, para relawan diajarkan cara menyajikan fakta komprehensif untuk mendesak birokrasi kampus agar lebih responsif dalam menerapkan UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang TPKS dan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024.


Tidak berhenti di situ, Imelda juga melatih daya kritis peserta workshop dengan mencontohkan jurnal keempatnya tentang pernikahan dini. Ia mengajak peserta melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai tingginya angka dispensasi kawin, lalu merumuskannya ke dalam analisis tulisan yang menyoroti fenomena double burden atau beban ganda pada perempuan.


"Data BPS itu tidak akan bermakna apa-apa kalau relawan tidak bisa menuliskannya secara kritis. Lewat tulisan, kita bisa memetakan bagaimana pernikahan dini memaksa perempuan menghadapi beban domestik sekaligus beban ekonomi di usia yang belum matang. Analisis seperti inilah yang kita butuhkan dalam sebuah karya tulis advokasi untuk mendorong perubahan kebijakan," jelas Imelda saat memandu sesi analisis data.


Agar gagasan-gagasan tersebut bisa dieksekusi dengan benar, paruh kedua workshop diisi dengan bimbingan teknis kepenulisan. Imelda mengajari para relawan cara merumuskan latar belakang masalah, menentukan metode penelitian, hingga teknik parafrase untuk menghindari plagiarisme. 


Peserta juga diajak mempraktikkan langsung penggunaan aplikasi penunjang riset seperti Turnitin, Grammarly, dan Mendeley, serta diberikan strategi taktis agar draf naskah mereka bisa menembus jurnal ilmiah nasional maupun internasional.


Kepala PSGAD UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Hj. Masri'ah, M.Ag., mengapresiasi fokus workshop yang mengawinkan aspek praktis pendampingan dengan tradisi ilmiah ini. Menurutnya, pencegahan kekerasan di kampus membutuhkan relawan yang tidak hanya aktif bergerak di lapangan, tetapi juga memiliki ketajaman berpikir yang dituangkan dalam bentuk tulisan agar dampaknya lebih luas dan diakui secara akademis.


Menutup rangkaian acara, Ketua Pelaksana Najwatunnisa bersama Ketua Relawan PSGAD Periode 2026/2027, Rifaniola, memastikan bahwa pelatihan ini memiliki output yang jelas. 


Workshop kepenulisan ini diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL), di mana draf tulisan yang sudah diinisiasi oleh para peserta selama acara akan terus dikawal pengembangannya hingga siap dipublikasikan ke berbagai media cetak maupun jurnal digital.

×
Berita Terbaru Update