-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Panen Perdana 1 Ton Cabe Organik, Bukti Riset UIN Siber Cirebon Hadirkan Solusi Ketahanan Pangan

Rabu, 24 Juni 2026 | Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-24T02:33:20Z


CIREBON, FC - UIN Siber Cirebon berhasil  panen perdana budidaya cabe organik berbasis Pertanian Purba dan Smart Farming di Desa Sarwadadi, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. 


Keberhasilan ini diwujudkan oleh Tim Penelitian MoRA Kementerian Agama RI–LPDP Tahun 2026, dan ditegaskan bahwa riset tidak boleh berhenti di ruang seminar atau jurnal ilmiah saja.


Hasilnya, panen yang dilaksanakan pada 13–14 Juni 2026 tersebut menjadi bukti nyata bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan, penguatan ekonomi keluarga, dan pembangunan pertanian berkelanjutan.


Program budidaya cabe ini merupakan bagian dari riset unggulan Penelitian MoRA Kemenag RI–LPDP Tahun 2026 yang mengangkat tema besar Transformasi Ekonomi Pertanian Purba Berbasis Syariah dan Smart Farming, selain pengembangan budidaya padi di komunitas pesantren.


Ketua Tim Peneliti MoRA, Prof. Dr. Abdul Aziz, M.Ag, menegaskan bahwa penelitian yang didanai negara harus mampu menghadirkan solusi konkret bagi persoalan masyarakat.


“Kami ingin membuktikan bahwa riset perguruan tinggi Islam tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Pertanian Purba yang kami kembangkan memadukan kearifan lokal, prinsip syariah, dan teknologi sederhana sehingga mampu menghasilkan produk pertanian yang sehat, ekonomis, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Abdul Aziz.


Menurutnya, konsep Pertanian Purba bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan menghidupkan kembali praktik-praktik pertanian ramah lingkungan yang dipadukan dengan pendekatan modern dan berbasis data.


Keberhasilan panen perdana ini terlihat dari produktivitas tanaman yang sangat menggembirakan. Dari sekitar 1.000 pohon cabe yang ditanam, setiap pohon mampu menghasilkan rata-rata 1 kilogram cabe segar, sehingga total produksi mencapai sekitar 1.000 kilogram atau setara 1 ton cabe.


Capaian tersebut menjadi indikator bahwa sistem pertanian organik berbasis media tanam alternatif mampu menghasilkan produktivitas yang kompetitif sekaligus lebih ramah lingkungan.


Keunggulan utama penelitian ini terletak pada penggunaan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan masyarakat.

Media tanam disusun berlapis mulai dari:

Batu kecil sebagai drainase dasar; 

Kedebog pisang sebagai penyimpan air alami; 

Jerami padi; 

Kotoran sapi atau kerbau (kohe); 

Tanah sawah yang dicampur kapur dolomit. 


Seluruh media kemudian disiram menggunakan larutan Mikroorganisme Lokal (MoL) untuk mempercepat proses dekomposisi dan meningkatkan kesuburan tanah secara alami.


Metode ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat, aman dikonsumsi, serta ramah lingkungan.


“Ini baru panen awal. Sebagian tanaman masih berada pada fase produktif dan terus berbunga. Dengan perawatan menggunakan Mikroorganisme Lokal (MoL), kami optimistis hasil panen berikutnya akan lebih besar dalam satu hingga dua minggu ke depan,” jelas Prof. Abdul Aziz.


Salah satu inovasi utama dalam penelitian ini adalah penggunaan galon bekas dan karung sebagai media tanam, sehingga tidak merusak struktur lahan sawah sekaligus menjadi solusi pemanfaatan limbah plastik secara produktif.


Di atas lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi, tanaman cabe dikembangkan melalui sistem tumpang sari bersama tanaman nanas untuk meningkatkan efisiensi lahan dan diversifikasi hasil panen.


Bibit cabe unggul didatangkan dari sentra pertanian Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, yang dikenal memiliki kualitas tinggi dan daya tahan terhadap serangan hama.


Seluruh proses budidaya dilakukan secara organik tanpa pupuk kimia. Media tanam disusun menggunakan batu kecil, kedebog pisang, jerami, pupuk kandang, tanah sawah, serta kapur dolomit yang diperkaya dengan larutan Mikroorganisme Lokal (MoL).


“Pertanian masa depan harus mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan. Karena itu, kami mengembangkan model pertanian yang sehat bagi manusia sekaligus sehat bagi alam,” tambah Prof. Abdul Aziz.


Lebih jauh, Prof. Abdul Aziz menjelaskan bahwa penelitian ini diarahkan untuk melahirkan model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi oleh petani, pesantren, maupun kelompok tani di berbagai daerah.


Menurutnya, tingginya harga pupuk kimia dan ketergantungan petani terhadap bahan produksi pabrikan menjadi tantangan yang harus dijawab melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.


“Masyarakat sebenarnya memiliki potensi besar di sekelilingnya. Jerami, kotoran ternak, batang pisang, hingga mikroorganisme lokal dapat diolah menjadi sumber kesuburan yang murah dan berkelanjutan. Jika ini diterapkan secara luas, biaya produksi petani akan turun dan keuntungan mereka akan meningkat,” katanya.


Ia juga menegaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Maqashid Syariah, yaitu menjaga kehidupan, menjaga lingkungan, menjaga ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Keberhasilan panen perdana ini menjadi inspirasi bahwa sektor pertanian memiliki masa depan yang cerah apabila dikelola dengan inovasi dan pendekatan ilmiah.


Model Pertanian Purba berbasis Smart Farming yang dikembangkan Tim MoRA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan hambatan untuk menghasilkan panen melimpah. Sebaliknya, kreativitas, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi tepat guna mampu mengubah lahan sederhana menjadi sumber ekonomi yang produktif.


“Harapan kami, hasil penelitian ini dapat menjadi model nasional bagi pengembangan pertanian organik berbasis masyarakat. Ketahanan pangan tidak cukup dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan kampus, petani, pesantren, pemerintah, dan masyarakat secara bersama-sama,” pungkas Prof. Abdul Aziz.


Penelitian ini dilaksanakan oleh tim multidisiplin yang terdiri dari para akademisi, peneliti, dan praktisi, yaitu:

1. Prof. Dr. Abdul Aziz, M.Ag (Ketua Tim Peneliti) 

2. Prof. Dr. Sugianto, M.H 

3. Prof. Dr. Aan Jaelani, M.Ag 

4. Prof. Dr. Dedi Djubaedi, M.A 

5. Dr. Dewi Cahyani, M.Pd 

6. Dr. Iwan, M.Ag 

7. Dr. Anwar Sanusi, M.Ag 

8. Dr. Tosuerdi, M.Pd.I 

9. Dr. Deden Kurniawan, M.E 

10. Dr. M. Zidny Hasbi, M.E 

11. Dr. Iis Arifudin, M.Ag 

12. Deden Lesmana 

13. M. Ismail Razi Al Faruqi 

14. Randy Chandra 


Melalui kolaborasi akademik dan pemberdayaan masyarakat ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus membuktikan komitmennya dalam menghadirkan riset berdampak (impactful research) yang tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi ketahanan pangan, ekonomi hijau, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (din)

×
Berita Terbaru Update