Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 07 Juli 2022

Wabup Tinjau Kandang, Pastikan Hewan Kurban Bebas PMK


KABUPATEN CIREBON - Merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak, khususnya sapi dan domba membuat masyarakat khawatir. Terlebih, menjelang Hari Raya Idul Adha, tidak sedikit warga yang ragu akan kualitas hewan yang akan dikurbankan.

Berbagai langkah telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Cirebon. Diantaranya adalah, memberikan sosialisasi pelaksanaan Qurban ditengah wabah PMK, dan juga memeriksa langsung kondisi hewan kurban di kandang.

Seperti yang dilakukan Wakil Bupati Cirebon, Hj. Wahyu Tjiptaningsih SE M.Si, Kamis (7/7/2022) saat mengunjungi salah satu kandang milik Kelompok Tani Ternak Sapi (KTTS) Pengguyangan Desa Jatimerta, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Sidak ini juga sekaligus memastikan kondisi hewan ternak di dalam kandang tersebut dalam keadaan sehat dari PMK maupun penyakit lainnya.

Dijelaskan Ayu, sapaan akrab Wabup, tercatat ada 53 desa dari 23 kecamatan yang terdampak PMK. Untuk jumlah hewan ternaknya sendiri, Ayu sebut mencapai ribuan.

"Ada sekitar 1500 ekor ternak yang terkena PMK. Sudah 500 ekor dinyatakan sembuh. Artinya, hingga saat ini ada peningkatan kesembuhan hewan yang terkena PMK," kata Ayu.

Diungkapkan Ayu, Pemkab Cirebon kesulitan dalam melakukan penanganan terhadap wabah PMK ini. Pasalnya, tidak sedikit anggaran yang dibutuhkan dalam memberikan pengobatan maupun pencegahan hewan ternak terhadap PMK.

"Bantuan biaya tak terduga (BTT), baik dari pemerintah derah, provinsi sudah ada, tetapi Pemkab juga menerima bantuan CSR untuk penanganan seperti pembelian obat dan vaksin. (Bantuan CSR) ini jelas membantu, karena anggaran kita tidak memungkinkan," katanya. 

Di samping itu, Ayu juga merasa senang dengan langkah yang dilakukan peternak dalam menghadapi wabah PMK. Khususnya di lokasi yang didatangi, Ayu sebut para peternak sudah lebih paham cara mencegah maupun mengobati PMK.

"Mereka para peternak menggunakan jamu untuk menjaga kesehatan sapi, sehingga sekarang kondisi sapi di Jatimerta dalam keadaan fit dan siap untuk kurban. Kalau ada sapi yang terkena PMK mereka tidak menjualnya," ujarnya. 

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, drh. Encus Suswaningsih mengatakan kebutuhan hewan kurban di Kabupaten Cirebon sendiri mencapai belasan ribu ekor. Dengan adanya wabah PMK, Encus meyakini ada penurunan jumlah.

"Kalau domba biasa kisarannya 13 sampai 15 ribu ekor. Sedangkan sapi mencapai 15 ribu ekor yang buat kurban. Akan tetapi, tahun sekarang kemungkinan berkurang akibat PMK. Untuk data pasti kita belum bisa sebut, karena biasanya satu sampai dua minggu setelah hari Tasrik. Data nantinya kita kalkulasikan terlebih dahulu," ujarnya. 

Disinggung jumlah kebutuhan keseluruhan tanpa terpengaruh Idul Adha, ia menyebut kebutuhan sapi jenis pedaging yang masuk Kabupaten Cirebon mencapai 18 ribu ekor per tahunnya. "90 persen sapi di Kabupaten Cirebon didapatkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, sapi impor lebih dominan dari sapi lokal," katanya. 

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ternak Sapi Desa Jatimerta, Jumadi mengatakan ada 203 sapi yang ada di kelompok. Namun ada sebagian yang mati akibat PMK. 

"Ada 11 ekor sapi yang dijagal paksa dan empat mati akibat PMK. Sapi yang mati langsung dikubur," katanya. 

Jumadi menjelaskan, sebelumnya ada beberapa sapi milik kelompoknya yang terkena PMK. "Awal PMK ada tujuh sapi yang kena, itu tertular dari ternak sebelah. Namun kami langsung tangani dan sekarang sudah sembuh semua" ujarnya. (Indah)

Dua Jurusan di Fakultas UAD IAIN Cirebon Raih Predikat Unggul

Dr Hajam M.Ag, Dekan Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Syekh Nurjati Cirebon saat memberikan keterangan tentang dua jurusan di FUAD yang mendapat predikat unggul.

FOKUS CIREBON, FC - Kabar gembira datang dari Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), di mana jurusan ini mendapat predikat unggul. Berarti tahun 2022 ini, ada dua jurusan di Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang mendapat predikat unggul. 

"Alhamdulillah, di tahun 2022 ini ada dua jurusan di FUAD yang mendapat predikat unggul, pertama Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) dan Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), dan tentu sebagai Dekan FUAD kami sangat bersyukur dengan raihan predikat unggul ini," ungkap Dekan FUAD, Dr Hajam, M.Ag kepada fokuscirebon.com, Kamis, (7/7/2022).

Selain ungkapan rasa syukur, kata Hajam,  Ini juga merupakan satu kegembiraan, baik kegembiraan secara akademik maupun kegembiraan civitas akademika IAIN Syekh Nurjati Cirebon, karena pencapaian ini merupakan bentuk perjuangan yang luar biasa dengan berbagi macam tahapan-tahapan dalam mencapai nilai SK tersebut.

Soal akreditasi ini, Hajam menjelaskan, bahwa akreditasi itu ada dua, pertama Akreditasi Langsung (AL) dengan 9 standar dan kedua Akreditasi Instrumen Suplemen Konversi (ISK), yaitu dengan mengambil point-point yang penting di antaranya pertama adalah dosen-dosen yang berkualitas yang memiliki standar Lektor Kepala, Doktor dan guru besar.  

Kemudian kedua, capaian kurikulum pada keahlian, juga kurikulum praktek, misalnya mata kuliah sejarah harus ada outputnya dan prakteknya bagi mahasiswa. Dan ketiga adalah mahasiswa, yakni capaian  alumni, yakni mereka yang sudah mencapai target, yakni capaian kerja.

"Jadi ada tiga di Jurusan SPI, dan ketiganya sudah terpenuhi baik sumberdaya manusianya yakni kualitas dosennya, Lektor Kepala dan Guru Besar. Kemudian kurikulumnya dan juga alumni-alumninya yang sudah berkarya dan bekerja," katanya.

Ini kata Hajam, adalah salah satu penilaian urgent atau yang terpenting di dalam pencapaian unggul, begitu juga nilai-nilai yang lain seperti sarana prasarana dan sebagainya.

"Jadi itu, keunggulan tersebut dilihat dari tiga hal tadi pertama dilihat dari kualitas dosen, kedua capaian kurikulum dan ketiga kualitas alumni yang terukur sesuai dengan mata kuliahnya," papar Hajam.

Hajam juga menjelaskan, bahwa standar nilai akreditasi yang diraih Jurusan SPI ini sekitar 375 an, sementara standar unggul minimal harus 366. "Jadi kita sama dengan mendapatkan nilai A plus" katanya.

Untuk itu, Hajam berharap, hasil ini mohon dipertahankan dan ditingkatkan dan bisa memberikan pelajaran, motivasi dan inspirasi bagi jurusan-jurusan yang lain.

Demikian juga harapan Hajam kepada para pimpinan, baik di tingkat akademik, di tingkat fakultas dan Rektorat untuk ke depan jurusan-jurusan itu harus dipersiapkan target unggul.

"Ya, tentunya dengan political will yang terukur dengan standar-standar akreditasi, itu yang terpenting," tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jurusan SPI, Dedeh Nurhamidah, M.Ag menambahkan, dalam meraih nilai akreditasi tersebut dirinya mendapat tugas dalam penyusunan profil jurusan dan juga mengupdate data data jurusan. 

"Karena semula sudah terakreditasi A, kemudian kita mengupdate agar bisa mempertahankan akreditasi A tersebut, dan alhamdulillah kita bisa mempertahankan nilai akreditasi dari BAN-PT ini," ucapnya.

Dedeh juga menjelaskan dalam  mengupdate data-data tersebut, pihaknya juga mengupdate dosen, terutama penilitian-penelitian dosen dan jumlah mahasiswa dan kelulusan mahasiswa- mahasiswa. (din)









Wakil Walikota Cirebon Pimpin Rapat Kerja IPHI dan Hasilkan Tiga Point

FOKUS CIREBON, FC - Wakil Walikota Cirebon, Dra Hj Eti Herawati menghadiri  rapat kerja daerah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Cirebon, Kamis (7/7). 

Sebagai Ketua IPHI Kota Cirebon, Eti Herawati memimpin rapat kerja dan menghasilkan 3 poin utama. Di antaranya susunan kaderisasi, dakwah IPHI dan pembinaan UMKM.

"Semoga bersama IPHI Kota Cirebon kita bisa maju bersama, menjaga kemabruran haji dan memberikan manfaat untuk masyarakat," terang Eti.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Walikota Cirebon juga mengukuhkan pengurus Majelis Taklim Perempuan IPHI Kota Cirebon. (Heri)

DKP Jabar Melalui UPTD PSDKP WS Melakukan Kunjungan dan Monitoring ke lokasi Balai Benih Ikan (BBI) Tonjong Sukabumi

FOKUS SUKABUMI - Untuk mendukung ketertiban dan kesesuaian proses pembudidayaannya, DKP Jabar melalui UPTD PSDKP WS melakukan kunjungan dan monitoring ke lokasi Balai Benih Ikan (BBI) Tonjong yang berlokasi di Kecamatan Pelabuhanratu Kab.Sukabumi. (6/7/22)

Kabupaten Sukabumi merupakan daerah penghasil benih sidat dari tangkapan alam yang tidak hanya menunjang usaha budidaya lokal, namun turut juga menunjang bisnis budidaya sidat di seluruh Indonesia. 

Saat ini tingkat kelangsungan bibit sidat sangat rendah, oleh sebab itu Food and Agriculture Organization (FAO-IFish) bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Pemda Kab.Sukabumi melalui proyek penelitian yang bertempat di BBI Tonjong Sukabumi berupaya untuk meningkatkan survival rate sidat dari fase benih ke anakan. (Sugeng)

Rabu, 06 Juli 2022

Bupati Ajak Warga Jaga Pola Hidup Sehat

KABUPATEN CIREBON - Kasus Covid-19 di wilayah Kabupaten Cirebon saat ini terus melandai. Hanya saja, kewaspadaan masyarakat terhadap serangan penyakit tetap harus terjaga dan tidak boleh lengah.

Hal tersebut dikatakan Bupati Cirebon, Drs. H. Imron M.Ag saat membuka kegiatan Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Vaksinasi Covid-19, Rabu (6/7/2022) di Pondok Pesantren Darul Al Tauhid, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon.

Dijelaskan Imron, saat pandemi Covid-19, tingkat fatalitas paling tinggi yang memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid. Dengan demikian, yang perlu diwaspadai pasca pandemi ini adalah kenaikan jumlah penderita penyakit tidak menular seperti Jantung, Diabetes Militus dan lainnya.

"Dengan menggelorakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), saya yakin penderita penyakit bisa diminimalisir. Ditambah juga vaksinasi Covid, masyarakat bisa lebih terlindungi dari virus Corona," ujar Imron.

Dalam kesempatan ini juga, Imron meminta kepada masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan, serta tidak sembarangan dalam menjalankan pola hidup. 

"Jangan lengah, karena Covid masih ada dan juga penyakit lainnya bisa dicegah dengan pola hidup sehat, seperti gemar olahraga, memakan makanan yang bergizi, dan menjaga pola istirahat. Kita harus optimis, pandemi ini segera berakhir dan masyarakat bisa selalu sehat," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, dr. Edi Susanto menyebut permasalahan Covid dan Germas ini adalah persoalan generasi. Maksudnya, kata dia, Covid dan juga Penyakit Tidak Menular (PTM) lainnya bisa mempengaruhi generasi kedepannya.

"Jika Covid dan PTM tidak diminimalisir, maka kondisi generasi kedepan juga akan terganggu, karena banyak yang sakit. Sesuai dengan pernyataan Pak Bupati, Germas dan Vaksinasi Covid menjadi hal penting dalam kondisi seperti ini," ujar Edi.

Mengenai capaian vaksinasi, Edi menyebut hingga saat ini jumlah vaksin dosis 1 dan 2 sudah melampaui target. Namun, untuk booster atau dosis ketiga masih terus dikejar.

"Untuk dosis 1 sudah 92,3persen, dosis 2 mencapai 83,2persen. Nah, untuk dosis ketiga ini masih berkisar di 35persen dari target 50persen. Memang ada beberapa kendala yang dihadapi, seperti kondisi kesehatan penerima vaksin. Dengan demikian, kembali lagi, Germas akan terus kita sosialisasikan agar masyarakat bisa mendapatkan vaksinasi Covid," tutupnya. (din)

LP2M Gelar Pelepasan Peserta KKN TBM Tahun 2022

FOKUS CIREBON, FC - LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon menggelar kegiatan Pelepasan Peserta KKN Tematik Berbasis Masjid (TBM). Sebanyak 2.348 mahasiswa peserta KKN resmi dilepas oleh Wakil Rektor Bagian Akademik, Dr. H. Saefudin Zuhri, M.Ag mewakili Rektor yang sedang melaksanakan ibadah haji. 

Kegiatan pelepasan ini dilaksanakan secara hibrid, yakni perpaduan luring dan daring melalui Virtual zoom meeting. Dengan resmi digelarnya kegiatan pelepasan ini, maka kegiatan KKN TBM ini siap dilaksanakan oleh para peserta.

Ketua Pelaksana KKN TBM, H Mahbub Nuryadien, M.Ag yang juga sebagai Kepala Pusat PkM, menyampaikan bahwa pada tahun 2022 ini ada sekitar tiga ribu mahasiswa yang mendaftar sebagai peserta KKN. 

Dijelaskan, bahwa model KKN tahun 2022 ini dibagi menjadi tiga, yakni KKN Tematik Berbasis Masjid yang diikuti oleh 2.348 peserta, KKN Gemar Mengaji yang diikuti oleh 586 peserta, dan KKN Nusantara yang dilaksanakan mulai tanggal 15 Juli 2022 di Papua dan diikuti oleh dua peserta melalui seleksi. 

“Tahun 2022 ini merupakan tahun peralihan pasca Pandemi Covid-19, sehingga penentuan anggaran pelaksanaan direncanakan secara daring, namun pada tahun ini menuntut untuk pelaksanaan full luring selama 40 hari. Sehingga bisa dikatakan anggaran KKN masih daring, namun pelaksanaan secara luring,” paparnya.

Sementara ucapan terimakasih langsung disampaikan Ketua LP2M, Dr. H. Ahmad Yani, M.Ag yang juga mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para pimpinan yang selalu mensupport, sehingga LP2M tetap konsisten dengan tugas sebagai pengelola dua dharma Perguruan Tinggi, yakni Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. 

“KKN adalah kewajiban individu setiap mahasiswa, sebagai program intrakurikuler yang harus ditunaikan mahasiswa pada semester enam dengan pendekatan Lintas Keilmuan dan lintas sektoral," terang Yani.

Yani menjelaskan, Peserta KKN harus bisa cepat beradaptasi dengan internal kelompoknya yang terdiri dari berbagai Prodi dan latar belakang, kemudian setelah itu peserta KKN juga harus bisa cepat beradaptasi dengan masyarakat yang menjadi lokasi. 

Ini merupakan kunci awal keberhasilan KKN yang dilaksanakan oleh mahasiswa. Inti dari Pengabdian, bagaimana kita mampu belajar bersama masyarakat, kita belajar dari masyarakat. 

Cara komunikasi masuk ke masyarakat yang tepat ini menjadi kunci sukses kegiatan KKN yang dilaksanakan, maka sangat penting LP2M membekali dengan kemampuan sosial mapping, bagaimana membaca, membangun komunikasi dan berkolaborasi dengan masyarakat yang beragam lintas keilmuan dan lintas sektoral.

Wakil Rektor Bagian Akademik, Dr. H. Saefudin Zuhri, M.Ag menyampaikan, KKN sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak akan berjalan baik jika tidak ada kerjasama dan komunikasi serta koordinasi antar peserta, DPL, dan LP2M, serta bersinergi dengan masyarakat dan juga juga tokoh agama ataupun tokoh masyarakat. 

“Mari kita niatkan dengan sepenuh hati untuk melaksanakan kegiatan KKN ini, agar pelaksanaan KKN bisa berjalan dengan baik, dan mendapatkan hasil maksimal” ujarnya.

Saefudin Zuhri yang saat ini menjadi Pelaksana Harian (Plh) Rektor, resmi melepas peserta KKN secara simbolik dengan memakaikan jas almamater kepada dua perwakilan peserta KKN TBM tahun 2022. (din)

Selasa, 05 Juli 2022

Rembug Stunting, Wabup Sebut Tim Terus Lacak Kasus

KABUPATEN CIREBON - Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Tim Pengendalian Percepatan Penurunan Stunting (TPPPS), terus melakukan pengumpulan data di sejumlah kecamatan yang terindikasi terdapat kasus stunting tinggi. 

Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Cirebon yang juga merupakan Ketua TPPPS Kabupaten Cirebon, Hj. Wahyu Tjiptaningsih SE M.Si saat membuka Rempug Stunting Tahun 2022 Dalam Rangka Upaya Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Cirebon, Selasa (5/7/2022) di Patra Hotel Cirebon.

Dijelaskan Ayu, sapaan akrab Wabup, pihaknya setidaknya sudah melakukan kunjungan di enam kecamatan yang memiliki angka stunting cukup tinggi. Langkah itu dilakukan tim, guna menemukan titik terang penyebab utama dari kasus stunting itu.

"Kita terus mencari solusi tepat, agar kasus stunting ini bisa segera diatasi. Ada beberapa hal penyebab kasus ini masih terjadi dimasyarakat," ujar Ayu.

Disebutkan Ayu, kasus utama penyebab stunting ini adalah kemiskinan. Pasalnya, Ayu mengatakan, penderita stunting ini merupakan anak yang bergizi buruk yang akhirnya berdampak pada perkembangan tubuhnya.

"Berawal dari gizi yang kurang baik, akhirnya penderita ini pertumbuhannya lambat. Faktor kemiskinan ini juga tidak bisa hanya diselesaikan dari satu aspek saja, melainkan semua aspek yang saling berkaitan," tambahnya.

Oleh karena itu, Ayu meminta kepada semua pihak untuk bisa bekerjasama dalam menuntaskan kasus stunting ini. Bukan hanya kesehatan, segi ekonomi dan sosial juga sangat berperan penting dalam mengurangi jumlah stunting.

"Dengan rempug stunting ini, kita berharap semua elemen mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pemerintah desa dan dibantu warga bergandengan untuk menuntaskan kasus stunting. Tanpa kerja sama semua pihak, saya yakin kasus stunting ini sulit diselesaikan," tutupnya.

Sementara itu, Panitia Penyelenggara Rempug Stunting yang berasal dari Dinas Kesehatan, dr. Sudiono membenarkan kegiatan rempug stunting ini, dimaksudkan untuk menyamakan persepsi semua pihak termasuk instansi di Pemerintah Kabupaten Cirebon. Dengan adanya satu pemahaman dan juga komitmen bersama, dirinya optimis permasalahan stunting akan bisa lebih cepat terselesaikan. (Indah)