Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 03 Februari 2026

Keunggulan Kuliah di PTKIN, Melampaui Sekat Kampus Agama

CIREBON - Selama bertahun-tahun, label “kampus agama” masih dipahami secara sempit oleh sebagian masyarakat. PTKIN sering dipersepsikan sebagai ruang akademik yang terbatas, konservatif, dan kurang relevan dengan perkembangan zaman. 

Pandangan ini menempatkan PTKIN seolah berada di pinggiran peta pendidikan nasional, kalah pamor dibanding perguruan tinggi negeri umum. Padahal, asumsi tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga menutup mata terhadap transformasi besar yang telah dan sedang berlangsung di lingkungan PTKIN.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan pragmatis, pendidikan tinggi kerap direduksi menjadi sekadar mesin pencetak tenaga kerja. Kampus dituntut menghasilkan lulusan siap pakai, cepat bekerja, dan instan sukses. 

Orientasi ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi menjadi berbahaya ketika pendidikan kehilangan dimensi pembentukan karakter, kesadaran moral, dan tanggung jawab sosial. Dalam situasi inilah PTKIN tampil menawarkan alternatif yang lebih utuh: pendidikan yang profesional, etis, sekaligus spiritual.

PTKIN: Profesional, Etis, dan Spiritual

PTKIN tidak menolak profesionalisme dan kemajuan. Namun, PTKIN menolak tergesa-gesa dan pragmatisme sempit. Pendidikan di PTKIN tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kesadaran etis dan spiritual. Mahasiswa tidak sekadar diajak bertanya bagaimana menjadi sukses, melainkan juga untuk apa kesuksesan itu digunakan.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan di tengah krisis integritas, maraknya korupsi, menurunnya etika publik, serta melemahnya empati sosial. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar, tetapi justru kekurangan figur berintegritas. Di sinilah PTKIN menemukan signifikansinya: membentuk lulusan yang cerdas sekaligus berkarakter.

“Beli 1 Dapat 2”: Keunggulan Unik PTKIN

Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menegaskan bahwa kuliah di PTKIN sejatinya ibarat membeli satu produk, tetapi memperoleh dua manfaat sekaligus — beli 1 dapat 2.

Ia mencontohkan mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah. Dalam satu jurusan, mahasiswa tidak hanya mempelajari hukum positif sebagaimana di fakultas hukum pada umumnya, tetapi juga mendalami hukum Islam berbasis fiqih. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh dua perspektif keilmuan sekaligus: hukum negara dan hukum agama.

“Di mana lagi kita bisa menemukan model pendidikan seperti ini?” tegasnya.

Inilah keunggulan khas PTKIN yang jarang dimiliki perguruan tinggi lain. Mahasiswa memperoleh kompetensi profesional sekaligus kekuatan nilai. Mereka tidak hanya dibekali keahlian teknis, tetapi juga ditanamkan etika, spiritualitas, dan kepekaan sosial. Perpaduan inilah yang melahirkan lulusan PTKIN yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga matang secara moral, sosial, dan spiritual.

PTKIN Bukan Sekadar Kampus Agama

Transformasi kelembagaan PTKIN, terutama melalui perubahan IAIN menjadi UIN, telah membuka cakrawala keilmuan yang sangat luas. Kini, PTKIN mengelola program studi di bidang sains, teknologi, ekonomi, psikologi, komunikasi, hukum, bahkan kedokteran. Ini menegaskan bahwa PTKIN hari ini bukan lagi semata ruang kajian keagamaan, melainkan pusat pengembangan ilmu multidisipliner yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman.

Keunggulan PTKIN tidak terletak pada banyaknya program studi semata, tetapi pada cara ilmu itu dipahami dan dipraktikkan. Di PTKIN, ilmu tidak berdiri di ruang hampa nilai. Sains dikembangkan dengan etika, ekonomi dibangun di atas prinsip keadilan, dan hukum diarahkan pada kemaslahatan sosial. Pendekatan integratif inilah yang menjadikan PTKIN relevan di tengah krisis nilai yang melanda masyarakat modern.

Ruang Moderasi dan Keadilan Akses

Lebih jauh, PTKIN memainkan peran strategis sebagai ruang moderasi beragama dan kebinekaan. Di tengah polarisasi sosial, menguatnya politik identitas, dan maraknya ujaran kebencian, PTKIN hadir sebagai laboratorium toleransi dan dialog. Tradisi akademiknya mendorong diskusi terbuka, penghargaan terhadap perbedaan, serta penguatan sikap moderat.

Selain itu, PTKIN juga berkontribusi nyata dalam menghadirkan keadilan akses pendidikan. Dengan biaya yang relatif terjangkau, PTKIN membuka peluang pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga sederhana. Dalam konteks ini, PTKIN tidak sekadar mencetak sarjana, tetapi juga membangun mobilitas sosial dan memutus rantai kemiskinan struktural.

Sayangnya, dalam logika gengsi pendidikan, keterjangkauan justru sering dipersepsikan sebagai kelemahan. Kampus mahal dianggap bermutu, sementara kampus terjangkau dicurigai kualitasnya. Cara pandang ini perlu dikritik secara serius, karena menggeser pendidikan dari hak publik menjadi barang mewah, sekaligus memperlebar jurang ketimpangan sosial.

Melampaui Gengsi, Mengembalikan Makna Pendidikan

Memilih PTKIN bukan berarti menutup mata terhadap keunggulan PTN umum. Keduanya sama-sama berperan penting dalam membangun ekosistem pendidikan nasional. Namun, persoalan muncul ketika gengsi dijadikan kompas utama dalam menentukan pilihan kampus. Pendidikan pun kehilangan makna substantifnya, karena dikalahkan oleh simbol, citra, dan status sosial.

PTKIN hadir sebagai perlawanan terhadap cara berpikir sempit tersebut. Ia menawarkan pendidikan yang tidak hanya mengejar nama besar, tetapi membentuk manusia seutuhnya. Di PTKIN, pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan apa yang bisa diraih, melainkan meluas pada untuk apa ilmu digunakan.

Di tengah obsesi ranking, reputasi global, dan pamer prestasi akademik, PTKIN mengingatkan bahwa ilmu tanpa nilai justru mudah kehilangan arah. Melawan gengsi pendidikan berarti berani menata ulang cara pandang tentang arti menjadi terdidik: bukan sekadar bergelar, tetapi mampu berpikir jernih, bersikap adil, dan bertanggung jawab terhadap sesama.

Di titik reflektif inilah PTKIN menemukan tempat strategisnya — bukan sebagai pilihan terakhir karena keterpaksaan, melainkan sebagai pilihan sadar bagi mereka yang memandang pendidikan sebagai jalan pembentukan generasi unggul bangsa.

Kuliah bukan tentang ke mana diterima, tetapi ke mana nilai akan membimbing hidup.

Ayo Kuliah di PTKIN — Kampus Unggul di Bawah Naungan Kementerian Agama! (Nurdin)

Senin, 02 Februari 2026

Dosen UIN Siber Cirebon Menembus Panggung Dunia, Menjadi Pembicara di Forum Internasional


CIREBON, FC – Salah satu dosen terbaik dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Royani Afriani, M.Pd., dosen Tadris Bahasa Inggris, terpilih sebagai pembicara dalam forum internasional Jadal 2026: Muslim Women Navigating Theology, Ethics, and Society, yang diselenggarakan pada 31 Januari–2 Februari 2026 di Al Mujadilah Center & Mosque for Women, Qatar.

Kepastian tersebut tertuang dalam surat resmi panitia Jadal tertanggal 9 September 2025, yang menyatakan bahwa makalah Royani Afriani berjudul “Reciprocity as Resistance: Muslim Women, Gendered Interpretation, and Social Ethics within the Mubadalah Framework” dinyatakan lolos seleksi dan diterima untuk dipresentasikan di forum prestisius tersebut.

Panitia menyampaikan apresiasi atas kontribusi intelektual Royani yang dinilai memiliki relevansi tinggi terhadap isu-isu kontemporer perempuan Muslim, khususnya dalam konteks tafsir keagamaan, etika sosial, serta relasi gender berbasis pendekatan mubadalah (kesalingan).

Jadal 2026 merupakan forum akademik internasional yang mempertemukan 228 akademisi, peneliti, dan praktisi dari lebih dari 17 negara, dengan 68 makalah terpilih. Forum ini tidak hanya berfungsi sebagai konferensi akademik, melainkan juga ruang dialog kolaboratif yang mendorong lahirnya solusi nyata atas berbagai tantangan yang dihadapi perempuan Muslim di tingkat global.

Mengusung semangat “A conversation can change the course of history”, Jadal menjadi ruang perjumpaan gagasan lintas disiplin yang mengintegrasikan dimensi teologi, etika, sosial, dan kemanusiaan dalam format dialog yang mendalam, reflektif, dan transformatif.

Al-Mujadilah Center & Mosque for Women sebagai tuan rumah terinspirasi dari dialog bersejarah antara Rasulullah SAW dan Khawlah binti Tsa’labah, yang melahirkan perubahan sosial signifikan bagi perempuan Muslim. Spirit inilah yang menjadi fondasi penyelenggaraan Jadal sebagai destinasi dialog bermakna dan berdampak global.

Dalam forum tersebut, Royani Afriani mempresentasikan gagasan mubadalah sebagai pendekatan teologis dan etis dalam membaca ulang relasi gender di masyarakat Muslim. Pendekatan ini menegaskan pentingnya prinsip kesalingan, keadilan, serta resistensi terhadap tafsir patriarkis, sebagai basis pembangunan etika sosial yang lebih inklusif, humanis, dan berkeadaban.

Partisipasi ini sekaligus memperkuat peran strategis UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam pengembangan wacana Islam moderat, adil gender, dan berorientasi pada kemaslahatan global, sejalan dengan visi Cyber Islamic University: Unggul Mendunia.

Keikutsertaan Royani Afriani dalam Jadal 2026 juga menjadi pengalaman akademik dan diplomasi budaya yang sangat berharga. Dalam kesempatan tersebut, Royani menyerahkan buku karya Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kepada Direktur Jadal Al-Mujadilah, sebagai simbol pertukaran keilmuan dan penguatan jejaring akademik internasional.

Royani juga berkesempatan bertemu dan berdialog langsung dengan Ibu Retno L.P. Marsudi, mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, serta Ibu Sinta selaku perwakilan KBRI di Qatar beserta jajaran staf, membahas peran strategis diplomasi pendidikan dan penguatan kontribusi perempuan Indonesia di panggung global.

Tak hanya itu, Royani turut bersua dan berdiskusi dengan sesama pembicara dari berbagai institusi ternama dunia, di antaranya perwakilan Paragon Corporation (Indonesia), akademisi dari Habib University Kanada, Stanford University (Amerika Serikat), serta para akademisi dari India, Bangladesh, Nigeria, Chicago, dan Malaysia. Pertemuan lintas negara ini membuka ruang kolaborasi riset, publikasi internasional, dan jejaring akademik global yang lebih luas.

Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas capaian tersebut. Menurutnya, keterlibatan dosen UIN Siber dalam forum akademik internasional merupakan bukti nyata kualitas SDM dan komitmen institusi dalam internasionalisasi tridarma perguruan tinggi.

“Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, tetapi juga memperkuat posisi kampus sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang progresif, inklusif, dan berdaya saing global,” tegasnya.

Keikutsertaan Royani Afriani dalam Jadal 2026 menegaskan bahwa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus melangkah mantap menuju panggung dunia, menghadirkan kontribusi keilmuan yang relevan, solutif, dan berdampak luas bagi peradaban. (din)

Peringatan Dini Cuaca Jawa Barat: Warga Diimbau Waspada, Keselamatan Jadi Prioritas

BANDUNG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat mengeluarkan peringatan dini cuaca pada Senin, 2 Februari 2026, pukul 11.40 WIB. Dalam peringatan tersebut, BMKG menyampaikan potensi terjadinya hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 11.50 WIB.

Sejumlah wilayah di Jawa Barat masuk dalam area yang berpotensi terdampak. Di antaranya Kabupaten Kuningan meliputi Cilimus, Mandirancan, dan Pancalang. Kabupaten Cirebon meliputi Sedong, Mundu, Beber, Talun, dan Greged. Sementara itu, potensi cuaca ekstrem juga terpantau di Kabupaten Sumedang (Surian), Kabupaten Subang (Tanjungsiang), Kabupaten Karawang (Batujaya dan Pakisjaya), serta Kota Cirebon, khususnya wilayah Harjamukti dan sekitarnya.

BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca ini berpotensi meluas ke berbagai wilayah lain, termasuk Perairan Waduk Cirata, serta sejumlah daerah di Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Kuningan, Cirebon, Majalengka, Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, Bandung Barat, hingga wilayah Kota Cirebon lainnya.

Prakirawan BMKG Jawa Barat menyampaikan bahwa kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 15.10 WIB. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, pengendara, nelayan, serta masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir, longsor, dan pohon tumbang.

“Cuaca adalah bagian dari dinamika alam yang perlu disikapi dengan kesiapsiagaan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan saat hujan lebat, mencari tempat aman ketika terjadi petir, serta memastikan lingkungan sekitar tetap aman adalah langkah kecil yang dapat menyelamatkan banyak hal,” demikian imbauan BMKG.

BMKG mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG dan saling mengingatkan antarwarga. Di tengah cuaca yang kurang bersahabat, kewaspadaan dan kepedulian bersama menjadi kunci menjaga keselamatan dan ketenangan seluruh lapisan masyarakat.

Menata Ulang Masa Depan Pendidikan: Guru Agama sebagai Pilar Peradaban Bangsa

 

CIREBON, FC  -- Pendidikan yang unggul tidak lahir dari kebijakan yang bersifat seremonial, tetapi dari keberpihakan nyata terhadap aktor utamanya guru. Dalam konteks pendidikan agama dan madrasah, guru bukan sekadar pengajar, melainkan penanam nilai, pembentuk karakter, dan penjaga moral bangsa. 

Oleh sebab itu, langkah serius Kementerian Agama RI dalam membenahi tata kelola dan meningkatkan kesejahteraan guru agama dan madrasah patut diapresiasi sebagaiC kebijakan strategis dan visioner.

Pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Prof. Dr. Kamaruddin Amin, MA, yang menegaskan bahwa tata kelola dan kesejahteraan guru menjadi prioritas nasional, menandai babak baru dalam reformasi pendidikan keagamaan. 

Kenaikan Tunjangan Profesi Guru (TPG) dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta, percepatan sertifikasi guru melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta afirmasi terhadap guru non-ASN adalah bukti bahwa negara hadir lebih serius dalam menjamin keberlangsungan profesi guru.

Langkah ini tidak hanya berdimensi kesejahteraan, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan. 

Guru yang sejahtera akan lebih fokus dalam menjalankan tugas profesionalnya, lebih termotivasi untuk meningkatkan kompetensi, serta mampu menghadirkan proses pembelajaran yang kreatif, inspiratif, dan bermakna.

Salah satu aspek krusial dalam kebijakan Kemenag adalah penataan tata kelola rekrutmen guru, khususnya guru madrasah swasta dan guru agama di sekolah umum. Penegasan pentingnya koordinasi lintas sektor antara yayasan, pemerintah daerah, sekolah, dan Kemenag merupakan terobosan yang sangat relevan untuk memastikan sistem pendataan yang valid, transparan, dan akuntabel.

Keputusan Menteri Agama Nomor 1006 Tahun 2021 telah menjadi instrumen regulatif yang kuat dalam mengatur proses rekrutmen guru madrasah swasta. Regulasi ini menghadirkan mekanisme yang sistematis mulai dari analisis kebutuhan melalui SIMPATIKA, proses seleksi yang melibatkan unsur Kemenag, hingga pengawasan yang lebih terstruktur. Dengan demikian, kualitas guru dapat terjaga, sekaligus memastikan bahwa kebijakan afirmatif tepat sasaran.

Lebih jauh, pendataan yang tersistem menjadi pintu masuk bagi kebijakan afirmasi, baik dalam bentuk sertifikasi, peningkatan kompetensi, maupun pemenuhan hak kesejahteraan. Tanpa basis data yang kuat, kebijakan pendidikan hanya akan menjadi wacana tanpa dampak nyata.

Fakta bahwa masih terdapat lebih dari 423 ribu guru madrasah yang belum tersertifikasi menjadi tantangan besar sekaligus peluang strategis. Program akselerasi PPG yang dicanangkan Kemenag perlu didukung secara masif oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Sebagai UIN berbasis siber, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki komitmen kuat untuk berperan aktif dalam mempercepat peningkatan kompetensi guru melalui inovasi pembelajaran digital, model PPG berbasis daring, serta penguatan jejaring akademik nasional dan internasional. Transformasi digital dalam pendidikan guru bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan di era disrupsi.

Sertifikasi bukan semata-mata administrasi, melainkan jaminan mutu profesionalisme guru. Guru tersertifikasi diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan karakter, literasi digital, moderasi beragama, dan kecakapan abad ke-21.

Komitmen pemerintah dalam membenahi tata kelola dan kesejahteraan guru harus dipahami sebagai bagian dari agenda besar transformasi pendidikan nasional. 

Pendidikan agama yang unggul dan kompetitif hanya mungkin terwujud jika guru diposisikan sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.

Ke depan, sinergi antara Kementerian Agama, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat harus terus diperkuat. Dunia pendidikan menuntut kebijakan yang adaptif, responsif, dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.

Akhirnya, kita meyakini bahwa guru adalah investasi peradaban. Memuliakan guru berarti memuliakan masa depan bangsa. Kebijakan afirmatif yang saat ini digulirkan menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa pendidikan agama di Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi kekuatan peradaban yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan. (din)

Rektor UIN Siber Cirebon: Guru Agama Pilar Peradaban Bangsa

CIREBON, FC - Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menegaskan bahwa masa depan pendidikan agama di Indonesia sangat ditentukan oleh keberpihakan negara terhadap guru. Menurutnya, guru agama tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga penanam nilai, pembentuk karakter, dan penjaga moral generasi bangsa.

“Pendidikan yang unggul tidak lahir dari kebijakan seremonial, melainkan dari keberpihakan nyata terhadap guru sebagai aktor utama pendidikan. Guru agama adalah pilar peradaban bangsa,” ujar Prof. Aan, di Cirebon, Senin, (2/1/2026)

Pernyataan tersebut disampaikan menyikapi langkah Kementerian Agama RI yang menjadikan tata kelola dan kesejahteraan guru agama dan madrasah sebagai prioritas nasional. Kebijakan itu, kata Prof. Aan, menandai arah baru reformasi pendidikan keagamaan yang lebih berkeadilan dan berorientasi mutu.

Ia mengapresiasi pernyataan Sekretaris Jenderal Kemenag RI, Prof. Dr. Kamaruddin Amin, MA, yang menegaskan komitmen negara dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Kenaikan Tunjangan Profesi Guru (TPG) dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta, percepatan sertifikasi melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta afirmasi terhadap guru non-ASN dinilai sebagai bukti kehadiran negara.

“Kesejahteraan guru bukan tujuan akhir, tetapi fondasi agar guru dapat bekerja secara profesional, fokus mendidik, dan terus meningkatkan kompetensi,” kata Prof. Aan.

Selain kesejahteraan, Prof. Aan menilai penataan tata kelola rekrutmen guru, khususnya guru madrasah swasta dan guru agama di sekolah umum, menjadi agenda penting. Ia menekankan perlunya koordinasi lintas sektor antara yayasan, pemerintah daerah, sekolah, dan Kementerian Agama.

Keputusan Menteri Agama Nomor 1006 Tahun 2021 disebutnya sebagai regulasi penting dalam memastikan proses rekrutmen guru yang transparan dan akuntabel, mulai dari analisis kebutuhan melalui SIMPATIKA hingga pengawasan yang lebih terstruktur.

“Pendataan yang valid menjadi kunci agar kebijakan afirmatif, termasuk sertifikasi dan peningkatan kesejahteraan, tepat sasaran,” ujarnya.

Terkait masih adanya lebih dari 423 ribu guru madrasah yang belum tersertifikasi, Prof. Aan menyebut kondisi tersebut sebagai tantangan besar yang harus dijawab secara kolaboratif. Program akselerasi PPG, menurutnya, membutuhkan dukungan aktif dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Sebagai PTKIN berbasis siber, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menyatakan kesiapan berperan dalam percepatan peningkatan kompetensi guru melalui pengembangan PPG berbasis daring dan inovasi pembelajaran digital.

“Transformasi digital dalam pendidikan guru adalah keniscayaan. Sertifikasi guru harus dimaknai sebagai upaya menjaga mutu dan profesionalisme, bukan sekadar administrasi,” tegasnya.

Prof. Aan menegaskan, komitmen pemerintah dalam membenahi tata kelola dan kesejahteraan guru harus dipandang sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional. Pendidikan agama yang unggul dan berdaya saing hanya dapat terwujud jika guru ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan.

“Memuliakan guru berarti memuliakan masa depan bangsa. Dari ruang kelas dan madrasah, guru menyiapkan generasi yang berkarakter, moderat, dan berdaya saing,” pungkasnya. (din)

Sya’ban: Bulan Menyucikan Hati, Menata Takdir, dan Menyambut Cahaya Ramadan

H.M.Arifin M.Ag, Humas UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon 


CIREBON, FC - Humas UIN Siber Cirebon, H.M. Arifin M.Ag menegaskan, tatkala kalender Hijriah memasuki bulan Sya’ban, ada getaran lembut yang menyentuh relung batin umat Islam. Ia hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan isyarat spiritual bahwa Ramadan kian mendekat. 

Sya’ban menjadi jembatan sunyi ruang perenungan tempat jiwa membersihkan diri, menata niat, dan mempersiapkan hati sebelum menyambut bulan suci.

Dalam khazanah Islam, Sya’ban menempati posisi istimewa. Rasulullah ï·º bahkan menyebutnya sebagai “syahri” bulanku. Sebutan ini bukan tanpa makna. Para ulama memaknai Sya’ban sebagai momentum memperbanyak shalawat dan menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad ï·º. Jika Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, maka Sya’ban adalah bulan mahabbah, keteladanan, dan kedekatan spiritual dengan Sang Rasul.

Ulama besar Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki menjelaskan, Sya’ban dinamakan demikian karena dari bulan inilah memancar cabang-cabang kebaikan. Setiap amal, doa, dan taubat yang dipanjatkan memiliki potensi besar melipatgandakan keberkahan. Ia menjadi ladang subur bagi siapa pun yang ingin menata ulang kehidupan batinnya.

Keistimewaan Sya’ban mencapai puncaknya pada malam Nisfu Sya’ban. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, pada malam pertengahan bulan ini Allah SWT menetapkan dan mencatat perjalanan hidup manusia untuk satu tahun ke depan. Kesadaran akan hal tersebut sejatinya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak manusia merenung.

Betapa sering manusia larut dalam hiruk-pikuk dunia mengejar harta, jabatan, dan ambisi tanpa menyadari bahwa ajal, rezeki, dan nasibnya tengah dituliskan. Dari perenungan inilah lahir tiga sikap utama dalam beragama: rasa takut akan dosa, harapan terhadap rahmat Allah, serta sikap berserah sepenuhnya kepada ketentuan-Nya.

Karena keagungannya, para ulama menganjurkan umat Islam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah: shalat sunnah, istighfar, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa. Di Indonesia, tradisi membaca Surah Yasin tiga kali selepas Magrib dengan niat panjang umur, keselamatan, dan kecukupan rezeki telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar ritual, amalan tersebut merupakan proses penyucian batin. Di hadapan Allah, manusia mengadu tentang dosa yang menumpuk, rezeki yang terasa sempit, hidup yang penuh ujian, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Doa-doa Nisfu Sya’ban mengajarkan kerendahan hati: bahwa manusia tak memiliki daya dan upaya kecuali dengan rahmat-Nya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistik, Sya’ban hadir sebagai oase rohani. Saat masyarakat diliputi kecemasan kolektif krisis ekonomi, kegelisahan sosial, retaknya relasi keluarga, hingga kekosongan makna Sya’ban mengajak manusia berhenti sejenak untuk menata ulang orientasi hidup.

Spiritualitas Sya’ban menawarkan terapi jiwa. Ia mengajarkan bahwa ketenangan sejati tidak selalu lahir dari kepemilikan, melainkan dari kepasrahan dan kedekatan kepada Allah SWT.

Hakikatnya, Sya’ban adalah madrasah persiapan menuju Ramadan. Ia melatih konsistensi ibadah, memperkuat doa, memperbanyak shalawat, serta membersihkan hati dari iri, dengki, dan dendam. Siapa yang memuliakan Sya’ban, insyaallah akan lebih siap memuliakan Ramadan.

Sebab Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan transformasi spiritual. Dan Sya’ban adalah pintu masuknya.

Maka, mari sambut Sya’ban dengan kesungguhan. Hidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan doa dan harap. Perbanyak shalawat sebagai tanda cinta. Luruhkan kesombongan dalam sujud panjang. Siapkan jiwa agar pantas menjadi tamu Ramadan. Sebab bisa jadi, inilah Sya’ban terakhir kita. (din)


DPRD Terima Usulan Mayor Tan Tjin Kie dan Kang Ayip Muh Peroleh Penghargaan

CIREBON – Pimpinan DPRD Kota Cirebon bersama Anggota Komisi II dan III Cirebon menerima usulan masyarakat pegiat seni dan budaya untuk memberikan penghargaan kepada Mayor Tan Tjin Kie.

Rapat yang digelar pada Senin (2/2/2026) tersebut turut dihadiri Staff Ahli wali Kota Cirebon, pejabat dari Disbudpar, Bappelitbangda, DPRKP, DPUTR dan BPKPD Kota Cirebon.

Saat rapat berlangsung, Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani mengatakan, DPRD dan pemerintah daerah mmerupakan bagian dari enyelenggara pemerintahan, sehingga DPRD mesti menjembatani usulan masyarakat kepada pemerintah eksekutif.

Terlebih, pemberian penghargaan bagi tokoh masa lalu yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan budaya Cirebon, yakni Mayor Tan Tjin Kie dan tokoh Keagamaan yakni Al Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya (Kang Ayip Muh) Cirebon.

“Faktanya Mayor Tan Tjin Kie banyak peninggalannya, seperti rumah sakit, pabrik gula, kemudian rumah di santa maria, pabrik di Karangwusuwung, dan ada bangunan yang sudah tidak ada menjadi mal,” terangnya di Griya Sawala gedung DPRD.

Harry menambahkan, peran Kang Ayip Muh membangun umat pun sangat besar. Seperti menghilangkan praktik perjudian di sejumlah wilayah di Cirebon dan sekitarnya.

Ia juga mengatakan, momentum ini bisa menegaskan Kota Cirebon seperti namanya, Caruban yakni akulturasi kebudayaan dan toleransi.

Hal serupa disampaikan oleh Ketua Komisi III DPRD, yusuf MPd. Ia mengatakan, momentum ini mengembalikan literasi kebudayaan di Kota Cirebon. Komisi III mengapresiasi dan berterimakasih karena semua elemen yang hadir mengembalikan ingatan kepada warga terhadap orang-orang yang berjasa membangun Kota Cirebon.

“Ini sebagai bentuk terimakasih kita, maka hal ini mesti diseriusi dan mencari formulasi untuk menjawab usulan yang sudah disampaikan dengan berdiskusi dengan walikota Cirebon, mendorong agar usulan budayawan dan masyarakat bisa terealisasi,” tuturnya.

Anggota Komisi III DPRD, Umar Stanis Klau juga mengatakan, Kota Cirebon memiliki kekayaan budaya dan sejarah, jangan sampai ramai di permukaan tetapi belum memuliakan tokoh besar yang sudah membangun Kota Cirebon.

“Ini pun merupakan motivasi yang positif untuk kebangkitan kembali peradaban Cirebon. Hari ini tokoh tionghoa, mungkin tokoh lain, baik suku arab, india dan lainnya yang pernah berperan membangun Kota Cirebon,” jelasnya.

Masih kata Umar Klau, secara genetika sejarah Cirebon berasal dari berbagai latar belakang negara. “Sepaham dan sepakat, tinggal nanti kita tidak sampai di sini saja, diharapkan tahun ini respon positif dari pemerintah, yakni penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Abah Ayip Muh,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua MESTi Cirebon, Dedi Setiawan mengungkapkan, meminta agar Pemerintah Daerah Kota Cirebon memberikan perhatian dan penghargaan kepada dua tokoh tersebut.

“Jasa kedua tokoh ini jelas, maka sudah seharusnya Pemkot memberikan penghargaan,” ungkap Dedi.

MESTi pun memberikan catatan, jika dalam satu tahun tidak ada respon dari Pemkot Cirebon, maka makam Mayor Tan Tjin Kie akan dipindahkan ke Kota Malang. Karena mereka meminta secara langsung.

“Jika pemda diam, kita akan pindahkan makam Mayor Tan Tjin Kie, karena pemda disana meminta, dan siap memberikan penghargaan,” kata Dedi.

Sebagai informasi, Mayor Tan Tjin Kie (1853-1919), sosok saudagar yang menurut cerita sejarah merupakan sosok saudagar kaya, dermawan dan menjadi pahlawan dalam membangun ekonomi di Kota Cirebon pada masa lampau.

Kemudian sosok Habib Muhammad bin Syekh bin Abu Bakar bin Yahya, atau yang dikenal dengan Kang Ayip Muh dari Pondok Pesantren Jagasatru untuk sama-sama diangkat, atas nama besar dan jasanya dalam hal keagamaan di Kota Cirebon. (Ara)