Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 05 Mei 2023

IAIN Cirebon Raih Terbaik Ke 3 Pada Kegiatan AICIS EXPO

SURABAYA, FC - IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengikuti Expo dalam kegiatan Anual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2023 yang diselenggarakan di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya dari tanggal 2-5 Mei 2023.

AICIS merupakan Konferensi Studi Islam Internasional tahunan yang diprakarsai oleh Kementerian Agama, pada tahun ini diselenggarakan untuk yang ke 22 kalinya. Kegiatan AICIS ini diikuti oleh berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Dalam memeriahkan pelaksanaan kegiatan AICIS tersebut, diadakan pameran/AICIS EXPO yang menampilkan produk-produk unggulan dalam pengembangan kajian Islam dan kekhasan lainnya dari masing-mansing peserta/perguruan tinggi. 

Dalam pameran/EXPO tsb, stand IAIN Syekh Nurjati Cirebon menampilkan profil lembaga, hasil/produk keilmuan berupa buku, jurnal, website dan lain-lain, ada yang dalam bentuk fisik maupun hanya tayangan video dan display gambar. 

Untuk buku, yang ditampilkan adalah hasil karya penelitian dosen maupun karya tulis lainnya, serta buku materi pembelajaran PJJ PAI. Kali ini, produk unggulan/potensi kelembagaan yang ditampilkan adalah Program Pendidikan Jarak Jauh Jurusan/Prodi Pendidikan Agama Islam (PJJ PAI).

Dengan berpartisipasi dalam kegiatan EXPO ini, Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Aan Jaelani, M.Ag. berharap agar IAIN Syekh Nurjati Cirebon beserta program-programnya dapat dikenal luas masyarakat, termasuk tersosialisasikannya program Pendidikan Jarak Jauh Prodi Pendidikan Agama Islam (PJJ PAI) dan diharapkan program pendidikan jarak jauh yang menjadi unggulan juga dapat terwujud untuk beberapa program studi lainnya di samping prodi PAI, terutama dalam rangka mewujudkan transformasi kelembagaan dari IAIN menuju UIN. 

Dalam kegiatan EXPO tersebut Panitia juga mengadakan kegiatan lomba Stand Terbaik melalui like dan view terbanyak dalam video yang di upload di IG masing-masing lembaga/perguruan tinggi. 

"Alhamdulillah IAIN Syekh Nurjati meraih terbaik ke 3 setelah IAIN Kendari dan IAIN Ponorogo di urutan pertama dan kedua," tandasnya. (din)

Kamis, 04 Mei 2023

Stand Ekspo IAIN Cirebon Mendapat Kunjungan Berbagai Pihak

CIREBON, FC - Stand Ekspo IAIN Syekh Nurjati Cirebon menjadi salah stand yang mendapat kunjungan dari berbagai pihak, seperti dari Balai Diklat Surabaya, Kamis, (4/5/2023)

Asesor BANPT dan LAMDIK, serta unsur pimpinan dan dosen berbagai perguruan tinggi Islam yang berkesempatan hadir di acara tersebut. Bahkan stand Expo IAIN Syekh Nurjati dikunjungi oleh Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Dirjen Dikti Kemenag RI, Muhammad Azis Hakim dan Kasubdit Akademik Dirjen Diktis Kemenag RI, Abdullah Faqih. 

Selain itu, stand EXPO juga didatangi oleh mahasiswa S1 hingga S3 UINSA dan UIN Malang. Khususnya mahasiswa S2 dan S3, kebanyakan mereka mencari info tentang jurnal dan hasil penelitian dosen untuk menjadi rujukan  dan inspirasi karya tulis dan tugas penulisan jurnal. 

Yang menarik adalah banyaknya kunjungan dari mahasiswa PJJ PAI semester 2 dan 4 yang berada di wilayah Surabaya dan sekitarnya, serta tutor PJJ PAI. (din)

Sekda : Anggota DWP Kota Cirebon Diminta Bijak Menggunakan Media Sosial

CIREBON, FC - Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Drs. H. Agus Mulyadi, M.Si., saat menghadiri Halal Bi Halal Idul Fitri 1444 H bersama pengurus dan anggota DWP se – Kota Cirebon di Masjid Al-Kautsar Setda Kota Cirebon, Jl.Siliwangi No 84 Kota Cirebon, Kamis (4/5/2023). 

“Kami apresiasi kegiatan rutin setiap bulan yang dilakukan oleh DWP dan bulan ini dirangkaikan dengan halal bi halal,” tutur Agus.

Dijelaskan Agus, dengan kegiatan ini semua hadir bisa bersilaturahim dan saling memaafkan. Juga saling mendoakan agar ibadah yang sudah dilakukan di bulan Ramadhan lalu diterima oleh Allah SWT.

Pada kesempatan itu Agus juga meminta kepada anggota DWP bijak menggunakan media sosial (medsos) di tahun yang dinamis ini. Agus meminta anggota DWP Kota Cirebon untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian. “juga tidak meneruskan informasi yang belum dipahami secara utuh,” tutur Agus. Jangan sampai, lanjut Agus, kegiatan di medsos berimplikasi pada jeratan hukum.

Sebagai seorang ASN, mereka sudah memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi. Untuk itu, Agus meminta dukungan kepada para istri untuk bisa mendukung suami mereka mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

Di tahun yang disebut orang sebagai tahun politik, Agus yakin setiap orang memiliki perbedaan. “Silahkan memiliki perbedaan pada keyakinan maupun pilihan,” tutur Agus. Namun Agus mengingatkan bahwa perbedaan itu jangan sampai menimbulkan perselisihan.

Selanjutnya Agus meminta agar persaudaraan dan silaturahim diantara mereka tetap terjalin. 

“Mudah-mudahan halal bi halal tahun depan kita sudah bisa menempati bangunan masjid yang baru,” harap Agus. Dengan bangunan masjid yang baru diharapkan dapat menjadi tempat menjalin ukhuwah islamiyah dan meningkatkan keimanan. (Nisa)

Pandangan Mashood A. Baderin : Hukum Islam dan HAM

SURABAYA, FC - Harmonisasi sangat perlu dilakukan dalam segala hal termasuk juga perlunya harmonisasi hukum islam dan humas right (Hak Azazi Manusia/HAM). Islam sangat menjunjung hak-hak semua umat manusia. Islam tidak hanya menjadikan HAM sebagai hak asasi manusia, tetapi juga  sangat focus pada kemungkinan dan keharusan akan harmonisasi hukum Islam dan HAM.

Hal ini menjadi salah satu  pembahasan pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2023 yang disampaikan pemateri AICIS 2023, Prof. Mashood A. Baderin  yang megelar Diploma in Arabic Studies with Distriction dari University of Maidugiri, dan First Class LBB (Host) Combined Double Major Degree in Common Law dan Shari’ah Law dari Usmanu Danfodiyo University, Sokoto Nigeria.

Menurutnya problem terberat yang dihadapi sepanjang perjalanan umat manusia adalah menghormati posisi manusia sebagai makhluk yang amat mulia. Pro dan kontra dalam mengimplementasikan Hak Asasi Manusia di kalangan kaum muslimin masih sering  terjadi sampai saat ini, ucap Mashood saat Plenary Session 3, Kamis (04/05/2023).

“Perdebatan yang sering terjadi bermula dari keyakinan umat Islam bahwa ajaran Islam merupakan tuntunan hidup yang teramat sempurna dalam menjaga kehormatan manusia, sedang HAM sebagai kesepakatan manusia modern akibat dari perjalanan panjang penindasan manusia di dunia Barat,”ucapnya.

Pria yang memperoleh hibah beasiswa untuk studi pascasarjana di universitas Nottingham, Inggris mennambahkan bahwa perlu mendialogkan HAM dengan hukum Islam agar tercapai satu pemahaman. Pertama, banyak negara anggota PBB adalah negara Muslim yang memberlakukan hukum Islam baik secara menyeluruh atau sebagian hukum domestik. Kedua, negara-negara Muslim anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bekerjasama untuk mewujudkan tujuan pemajuan dan perlindungan HAM internasional, akan tetapi mereka juga mengemukakan deklarasi dan keraguan dengan mendasarkan pada syariah atau hukum Islam ketika mereka meratifikasi traktat-traktat internasional HAM.

Diakhir paparannya, Baderin  mengatakan pandangan penafsiran tradisionalnya dalam memberikan sejumlah kesulitan dalam memandang diskursus hak asasi manusia dari perspektif hukum Islam. Dalam mendialogkan keduanya, Baderin berpegangan pada kaidah maslahah dengan mengambil rujukan pada penafsiran moderat yang juga digagas oleh banyak ulama. (din)

Ulama dan Akademisi Kaji Prinsip Kesetaraan Dalam AICIS 2023

SURABAYA, FC - 'Bagaimana mungkin budak seperti Abul Aliyah bisa menempati posisi yang lebih tinggi daripada Sepupu Rasulullah SAW, Ibnu Abbas, tak lain karena Islam menyetarakan diantara umat manusia'.

"Maqashid al-syariah as a reference and framework of Fiqh for Humanity" menjadi tema yang diangkat dalam sesi Plennary 3, Kamis, 4 Mei 2023. Bertempat di Gedung KH. Saifuddin Zuhri Sport Center UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, sesi ini dipandu Prof. Siti Aisiyah. M.A., Ph.D., Guru Besar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Hadir sebagai narasumber utama, yakni Prof. Mashood A. Baderin, Pengacara Mahkamah Agung Nigeria dan KH. DR (HC). Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Asembagus Situbondo.

Siti menjelaskan, bahwa sesi pleno ini membahas tentang konsep Maqashid al-Syariah yang dirumuskan para ulama fiqh yang menjadi acuan dalam memecahkan persoalan manusia yang belum dirumuskan secara jelas dan komprehensif.

Oleh karena itu, fiqh harus memberikan solusi yang didasarkan pada kemaslahatan umat dan kemanusiaan. Karena dengan menjadikan Maqashid sebagai asas dan acuan dalam kerangka kemanusiaan, maka kontribusi fiqh dalam mengatasi persoalan manusia akan dirumuskan dengan lebih baik.

“Ada hal yang sangat penting dalam catatan kita adalah General Scope Maqashid. Jadi ada Maqashid yang bersifat umum dan ada Maqashid yang bersifat khusus. Semua itu endingnya adalah bagaimana mendukung, mendorong, dan mengharmonisasi hukum Islam dengan HAM,” terang Siti.

Disinilah peran para akademisi dan peneliti untuk dapat mensyiarkan tentang adanya kesetaraan baik dalam tataran tekstual maupun kontekstual. Dirinya menegaskan, tujuan dari Hukum Islam pada dasarnya adalah untuk kemaslahatan kemanusiaan. Perbedaan yang terjadi selama ini, menurutnya, dikarenakan kurangnya pemahaman akan prinsip dasar dari hukum Islam itu sendiri. Sehingga memunculkan diskriminasi maupun eksklusifitas.

“Dengan adanya Maqashid al-Syariah ini, bagaimana umat Islam dan para pemikir Intelektual Muslim menggunakan ini sebagai dasar berpijak supaya terjadi kesamaan dan kesetaraan dalam kemanusiaan,” ujarnya.

Kedua, jelas Siti, bahwa dalam Al Quran maupun Hadits jelas mengajarkan tentang nilai kesetaraan dan kesamaan. “Perbedaan yang ada di Indonesia maupun golongan itu adalah sunnatullah. Itu tetap harus dijaga untuk menjadi suatu keutuhan sebagai persatuan dan keunikan,” imbuhnya.

Dalam paparan KH. Afifuddin misalnya diceritakan tentang kisah Rafi’ bin Mahram yang dikenal dengan sebutan Abul Aliyah. Ia adalah bekas hamba milik seorang wanita Bani Riyah yang kemudian menjadi tabi’in yang sangat teliti dari penduduk Basrah, dan terkenal dengan ahli fiqh dan Tafsir.

Dalam sebuah riwayat bahkan dijelaskan, bahwa Abul Aliyah memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan Ibnu Abbas, yang adalah Sepupu Nabi SAW. Sedangkan seluruh kaum Quraisy berada dibawah Ibnu Abbas.

“Islam menempatkan orang alim pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang yang punya nasab tinggi,” terangnya.

Sebagai rekomendasi, Siti menjelaskan, bahwa Maqashid al-syariah diharapkan dapat menjadi pijakan dalam hidup bermasyarakat.

“Rekomendasinya itu, tidak usah ribut, tidak usah ada pembedaan, perbedaan itu biasa saja,” tutupnya. (din)