Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 23 November 2019

Rektor IAIN SNJ Cirebon : "Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin" Merupakan Ruh Perguruan Tinggi Islam


FOKUS CIREBON - Keberadaan Perguruan Tinggi Islam, yakni IAIN Syekh Nurjati Cirebon sejak awal berdiri sudah berkomitmen untuk membangun masyarakat islam madani, yaitu masyarakat yang cinta tajug (ibadah), cinta ilmu dan memperhatikan fakir miskin. Karena itu, tema tajug lan fakir miskin sudah merupakan ruh dari perguruan tinggi islam.

Demikian disampaikan Rektor IAIN SNJ Cirebon, Dr H Sumanta Hasyim, MAg sebelum membuka kegiatan Seminar Halaqoh Kemasjidan, yakni "Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin, dengan tema "Masjid Sebagai Benteng Ketahanan NKRI" hasil kerjasama PBNU bersama IAIN Cirebon dan Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Sabtu (23/11/2019) di Lantai 3, Kampus Pascasarja IAIN SNJ Cirebon.

Dalam sambutannya, Sumanta menyampaikan ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada panitia atas terselenggaranya seminar halaqah kemasjidan yang merupakan gagasan PBNU, Kesultanan Kasepuhan Cirebon dan IAIN SNJ Cirebon.


Tajug kata Sumanta, bukan saja memiliki makna sempit hanya sebagai tempat beribadah, tetapi lebih dari itu memiliki makna yang sangat luas.

Tajug ini, ungkap Sumanta, sesungguhnya memiliki misi menangkal Islam radikal atau trans-nasional, yang bertolak belakang dengan Pancasila yang menghargai keberagaman. Dan masyarakat masjid merupakan embrio basis dakwah Islam yang ramah, yang dibawakan oleh wali songo.

Hanya saja, lanjut Sumanta, fungsi  tajug atau masjid saat ini sudah semakin duniawi. Identitas kemasjidan yang dititipkan para wali, sepertinya sudah semakin jauh, masjid sekarang malah hanya menjadi simbol belaka bahkan menjadi tempat perseteruan akibat gesekan politik dan lain sebagainya.

Lalu apa realisasi dari perguruan tinggi islam terhadap titipan sunan gunung djati ini, selain memakmurkan masjid, IAIN SNJ Cirebon juga memperhatikan fakir miskin, yakni melalui program pemberian beasiswa bidik misi, beasiswa keagamaan maupun beasiswa lainnya.


Jika mahasiswa tersebut IPK nya rendah, pihak kampus dalam hal ini IAIN Cirebon masih memperhatikan kalangan mahasiswa yang fakir miskin yakni melalui program UKT, yakni mahasiswa hanya cukup membayar SPP saja sebesar Rp 400.000/semeseter dan tanpa ada biaya lainnya.

"Inilah komitmen kami, dan dari angka beasiswa tahun ini, anggaran yang disiapkan itu kurang lebih mencapai Rp 6,5 miliar. Jadi IAIN SNJ Cirebon sudah melaksanakan titipan para wali tersebut dengan program-program yang digulirkan," jelasnya disambut riuh tepuk tangan peserta seminar halaqoh.

Sementara itu, kegiatan seminar halaqoh ini, mengundang sejumlah narasumber terkenal yakni KH Abdul Manan, Wakil Ketua PBNU bidang dakwah serta KH Buya Syakur. (din)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat Raih Predikat Provinsi Informatif


FOKUS JABAR - Hasil monitoring dan evaluasi keterbukaan Informasi badan publik yang dilakukan Komisi Informasi Pusat (KIP), Pemerintah Provinsi Jawa Barat meraih predikat provinsi informatif.

Wakil Presiden, Ma’ruf Amin pun memberikan penghargaan kepada Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, dalam "Anugerah Keterbukaan Informasi Publik" Tahun 2019 di Istana Wakil Presiden RI, Jakarta, pada Kamis, 21 November 2019.
Dalam ucapan rasa syukurnya, Ridwan mengatakan, penghargaan tersebut merupakan bukti bahwa Pemda Provinsi Jabar berkomitmen memberikan informasi kepada masyarakat sesuai dengan regulasi dan perundang-undangan.
Dijelaskan, Provinsi Jawa Barat mendapatkan penghargaan dari Komisi Informasi Pusat (KIP) sebagai Provinsi yang informatif. Kategorinya ada informatif, menuju informatif. Kemudian, berkomitmen, cukup informatif, dan kurang informatif.
“Kita mendapatkan yang tertinggi, menandakan komitmen kita dalam memberikan informasi kepada masyarakat itu sudah maksimal sesuai dengan perundang-undangan,” ujar Emil melanjutkan.
Prestasi tersebut, kata Emil, akan dipertahankan atau bahkan ditingkatkan pada tahun-tahun selanjutnya. Terlebih, di era digital, transparansi dan kemudahan akses masyarakat terhadap sebuah informasi harus menjadi atensi. (JP)

Pesan Wali Menjadi Tema Festival Tajug 2019

FOKUS JABAR - "Ingsun titip tajug lan fakir miskin" adalah kalimat sarat makna yang diucapkan Syekh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa khususnya Cirebon.
Kini, pesan sang wali itulah yang menjadi tema Festival Tajug dalam rangka Hari Santri Nasional Tahun 2019 yang digelar di Alun-Alun Keraton Kasepuhan Cirebon, Kota Cirebon.
Festival Tajug resmi dibuka oleh Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Ma’ruf Amin pada Jumat (22/11/19). Turut mendampingi Wapres adalah Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil.
Gubernur yang akrab disapa Emil itu mengatakan, Jabar telah menerapkan pesan Sunan Gunung Jati untuk memakmurkan masjid dalam bentuk program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat yakni Kredit Mesra, One Pesantren One Product (OPOP), serta English for Ulama.
Kredit Mesra contohnya. Sejak diluncurkan November 2018, tercatat sudah belasan ribu warga fakir miskin yang mendapatkan fasilitas kredit usaha tanpa bunga dan agunan melalui masjid. 
Selain itu, OPOP mampu membuat 1.100 pesantren di Jabar sukses dan mandiri melalui pemberian modal dan pelatihan usaha. Adapun lewat English for Ulama, lima ulama muda Jabar, salah satunya dari Cirebon, dikirim ke Inggris untuk menyebarkan tentang Islam yang damai.
“Kami selama 12 bulan ini sudah menerjemahkan nasihat dari Sunan Gunung Jati. Alhamdulillah ada 18.000 lebih fakir miskin sekarang bebas rentenir berkat rajin ke tajug dan mendapatkan pertolongan dari pemerintah,” ujar Emil dalam sambutannya.
“Inilah dakwah kami melalui kekuasaan di Jabar. Mudah-mudahan Bapak Wakil Presiden bisa berkenan menyukseskan Festival Tajug ini sebagai cikal bakal lahirnya peradaban baru Islam yang berjaya melalui kekompakan di antara kita semua,” tambahnya.
Wapres RI Ma’ruf Amin sementara itu sangat mengapresiasi gelaran Festival Tajug karena dinilai merupakan salah satu langkah strategis mengembangkan Islam melalui pembangunan masjid.
Tak hanya itu, Wapres mengimbau agar pesan Sunan Gunung Jati juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran menjaga masjid agar tidak digunakan sebagai tempat menyebarkan ajaran-ajaran menyimpang atau berita yang mengandung kebencian.
Adapun menurut Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, tema 'Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin' dalam Festival Tajug tahun ini memiliki makna mendalam tentang ajakan menjaga negara dan agama.
“Memang inilah tugas kita, yaitu menjaga negara dan menjaga agama. Menjaga negara yakni fakir miskin, menjaga agama yakni tajug,” kata Arief.
“Berangkat dari istilah ini, PBNU menggandeng kesultanan menggelar Festival Tajug untuk bersama-sama menyadarkan bahwa perjuangan harus imbang antara tajug dengan fakir miskin. Antara negara dan ulama, antara dunia dan akhirat, antara putih dan merah, antara kiyai dan pejabat,” ujarnya.
Tak hanya Wapres RI dan Gubernur Jabar, pembukaan Festival Tajug 2019 juga dihadiri raja dan sultan dari berbagai keraton yang ada di Tanah Air. Festival berlangsung pada 22 hingga 24 November mendatang. (JP)

Tak Hadiri Paripurna, Gubernur Tegur Kepala Dinas

FOKUS BANDUNG - Sedikitnya jumlah Kepala Dinas Dinas dan Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, menjadi catatan sejumlah anggota dewan.

Menyikapi masalah tersebut, Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil menyatakan, dirinya sudah memberikan teguran kepada Kepala Dinas atau Kepala OPD yang tidak hadir dalam Rapat Paripurna hingga melakukan pemotongan pendapatan mereka sesuai mekanisme yang ada.

"Ya ini sudah berkali-kali saya tegur mereka beralasan ada tugas di luar , tapi prioritas paripurna itu levelnya macam-macam, saya punya mekanisme nilai disiplin dalam managemen itu, salah satunya teguran, sudah saya tegur keduanya saya potong saja pendapatannya dan itu ada mekanismenya," katanya.

Gubernur meminta, para kepala dinas untuk menghormati dan hadir di forum dimana gubernur mempertanggungjawabkan anggaran yang mereka gunakan.

"Jadi ini peringatan buat kepala dinas untuk selalu menghormati dan hadir diforum yang gubernur mempertanggungjawabkan anggaran anggaran mereka," ucap Gubernur, usai Rapat Paripurna, di Gedung Paripurna DPRD Jawa Barat, Jumat (15/11). 

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Jawa Barat, Daud Achmad menyatakan, adanya kepala dinas yang tidak hadir dalam Rapat Paripurna  karena pada saat yang bersamaan mereka ada yang diundang pemerintah pusat serta bertugas ke luar provinsi dan ada yang sedang menjalani masa pendidikan.

"Beberapa kepala dinas ada yang tugasnya tidak bisa diwakilkan, ada yang mendelegasikan sekretaris dinas untuk hadir dalam rapat paripurna, tadi ada 12 kepala dinas yang hadir di antaranya Kadisnakertrans, Kadishub, dan Kadis PSDA," ucapnya. (JP)

Wapres Ma'ruf Amin : Festival Tajug 2019 Merupakan Refleksi Pesan Sunan Gunung Jati Cirebon


FOKUS CIREBON – Kunjungan Wak Presiden RI ke Cirebon untuk membuka kegiatan Festival Tajug 2019 mendapat respon antusias dari berbagai elemen masyarakat Cirebon. Wakil Presiden RI, Prof. DR KH Ma’ruf Amin memandang bahwa kegiatan tersebut merupakan refleksi pesan Sunan Gunung Jati Cirebon.

Hal itu diungkapkan Wakil Presiden maupun Wali Kota Cirebon, Drs. H. Nashrudin Azis, SH pada pembukaan Festival Tajug 2019 di Alun-Alun Kejaksan, Jumat (22/11).

Ma’ruf Amin mengatakan Festival Tajug sangat tepat dilaksanakan terutama di wilayah Cirebon. Hal ini sejalan dengan pesan Sunan Gunung Jati “Ingsun titip tajug lan fakir miskin”.

Festival Tajug sangat penting dilaksanakan untuk meneruskan semangat Sunan Gunung Jati untuk mengembangkan Islam melalui Masjid. Pembangunan tajug atau masjid langkah strategis dalam penyebaran agama Islam secara damai.


Ma’ruf Amin menambahkan pembangunan tajug oleh Sunan Gunung Jati yang banyak dilakukan membuat penyebaran agama Islam pun menjadi masif di Jabar. Masjid menjadi tempat membangun jiwa dan mental masyarakat hingga sekarang.

“Peran Tajug atau Masjid sangat besar dalam pembangunan, pembinaan dan pendidikan masyarakat. Sekarang ini informasi banyak baik melalui televisi, radio, media massa, sosial media dan lainnya tapi tetap peran tajug atau masjid menjadi startegis di tengah-tengah umat,” kata Ma’ruf Amin.

Pada kesempatan tersebut, Ma’ruf Amin mengajak agar tajug dan masjid diisi dengan narasi yang saling mencintai dan menyayangi. Jangan sampai dijadikan saran untuk mengumbar kebencian. Sehingga dakwah damai seperti Sunan Gunung Jati tetap terjaga.

“Dijaga fungsinya agar tidak menyimpang dari kasih sayang dan kekuatan iman,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Wali Kota Cirebon, Drs. H. Nashrudin Azis, SH mengatakan festival tajug merupakan refleksi pesan Sunan Gunung Jati. Pihaknya mengaku senang mendapat kepercayaan menjadi lokasi Festival Tajug yang digagas santri dan pihak keraton.

“Kami tentu sangat mendukung kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka hari santri nasional ini. Tentunya kami akan terus menggelorakan semangat pesan Sunan Gunung Jati ke masyarakat,” kata Azis.

Sementara itu Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mengatakan masjid akan menjadi pusat peradaban sesuai pesan Sunan Gunung Jati. Hal ini sejalan dengan visi Pemerintahan saat ini yakni Jabar juara Lahir Bathin.

“Kami progresif tapi Islami. Pemerintah Provinsi Jabar menggulirkan Kredit Mesra atau Kredit masjid sejahtera. Per hari ini sudah 18 ribu orang karena sering datang ke masjid dapat kredit tanpa agunan,” ujar Ridwan Kamil.


Sultan Sepuh Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat, SE mengatakan relevansi pesan Sunan Gunung Jati yang sudah mendarah daging di Cirebon yaitu “Ingsun TitipTajug lan fakir miskin”. Dasar kegiatan amanat Sunan Guung Jati sehingga dapat membangun akhlak dan ekonomi umat.

“Inilah menjadi program Negara dan bangsa. Titip akhlak dan ekonomi masyarakat. Harapan kami kegiatan Festival Tajug tidak hanya di Kota Cirebon tapi akan dilaksanakan di kota lain,” tandas Sultan Arief.

Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Presiden, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, Sultan Sepuh Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat, SE, para Raja/Sultan se Nusantara, Ketua Pelaksana, KH Mustofa Aqil Siradj dan lainnya. (Agung)