Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 02 Desember 2020

Melestarikan Tradisi Leluhur Pesantren Benda Kerep yang Toleran

JEMBATAN PENGHUBUNG : Tampak pada jembatan terlihat bebatuan yang ditata dan tertali baja sebagai pegangan untuk penyebrangan warga Pesantren Benda Kerep. (dok, Indah)


FOKUS CIREBON, (FC) - Satu dari sekian banyak pesantren tua di Cirebon, Jawa Barat, adalah Pesantren Benda Kerep. Usianya sudah 194 tahun dengan berpegang teguh nilai-nilai yang diwariskan para pendahulunya. Pesantren dengan corak tradisional ini tak lantas menjadi eksklusif dalam aktivitas kesehariannya. 

Pesantren Benda Kerep berada di Kampung Benda Kerep, Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Kehidupan religius dan praktik tradisional yang masih kental di Pesantren Benda Kerep, yang juga mewarnai warga perkampungannya, menumbuhkan semangat keberagaman dan toleransi. Hal itu dapat dilihat dari sejumlah aktivitas para santri dan warga Benda Kerep yang terbuka, menghargai, dan bekerja sama dengan masyarakat luas di Cirebon yang sangat heterogen, baik agama maupun etnisnya.

Menengok ke dalam perkampungan pesantren ini, pertama yang terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang bergema di setiap penjuru Benda Kerep. Terik matahari pukul 11.00 siang itu pun tak tampak mengusik para santri dan warga di sana yang tengah mengkhidmati ayat demi ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. 

Masjid tertua Pesantren Benda Kerep yang didirikan oleh Mbah Soleh 

Suasana seperti ini menjadi rutinitas para santri, laki-laki dan perempuan, sambil menunggu adzan salat Zuhur tiba.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.45. Terlihat para santri lalu-lalang bergegas mengambil air wudu untuk bersiap mengikuti salat Zuhur berjamaah. Suara bedug dipukul beberapa kali oleh pria paruh baya yang menjadi muadzin di masjid tertua pesantren itu. Di sana tak ada pengeras suara untuk mengumandangkan adzan, namun semua santri mendengarkannya dengan khidmat.

Bangunan rumah pertama yang ada di Kampung Pesantren Benda Kerep 

Kampung pesantren yang hanya dihuni oleh sekitar 100 kepala keluarga itu seakan terpisah dari pusat administrasi Kota Cirebon. Untuk masuk ke lokasi pesantren dari Kota Cirebon terhalang sungai yang cukup besar dan tidak ada jembatan untuk menyebranginya. 

Sedangkan ke arah selatannya berbatasan dengan hutan yang cukup lebat. Penduduk di sana nyaris terisolir dari hiruk-pikuk kehidupan modernitas Kota Cirebon. 

Setiap individu warganya masih memegang teguh budaya dan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun dari leluhur sampai sekarang.

Pengasuh pesantren Benda Kerep, KH Muhammad Miftah atau orang-orang sekitar memanggilnya dengan sebutan Kang Miftah, menceritakan kepada Fokus Cirebon, bahwa sampai saat ini tidak ada satupun alat transportasi yang masuk dan melewati lingkungan pesantren.

Tidak ada barang elektronik seperti televisi, radio, pengeras suara dan jenis lainnya yang dipakai di lingkungan kampung pesantren. Ini semua bukan karena warga di sini tidak mampu membelinya. 

"Kami sengaja tidak menggunakanya demi menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya dari leluhur kami," jelas Kang Miftah saat ditemui di kediamannya yang merupakan rumah pertama yang ada di Kampung Pesantren Benda, Kamis (19/11). 

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga pesantren sesekali pergi ke kota membeli kebutuhan pokok. Mereka turun menyebrangi sungai melewati batu-batuan yang ditata dan tali baja sebagai pegangannya untuk meniti sampai di seberang. Di situ tidak ada akses jembatan untuk melewati sungai besar yang kadang airnya deras saat musim penghujan. 

Ini merupakan wasiat dari KH Maulana Muhammad Soleh atau lebih dikenal dengan panggilan Mbah Soleh, sang pendiri kampung Pesantren Benda Kerep yang melarang didirikannya jembatan. Mbah Soleh berwasiat agar tidak membuat jembatan. 

"Mungkin di dalamnya terdapat rahasia, sehingga saya tidak bisa memaksakan. Karena, katanya, kalau dari utara ke selatan memang tidak boleh dibangun jembatan, tapi kalau untuk menuju makam Mbah Soleh ada jembatan alternatif," ungkapnya.

Untuk menuju pasar terdekat yang jaraknya 7,1 km membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam. Biasanya warga berjalan kaki beberapa kilometer menuju kampung yang sudah dilalui kendaraan. Meski warga Pesantren Benda dikenal kuat mempertahakan budaya dan tradisi, namun mereka tidak menutup diri saat berada di lingkungan luar. Mereka tetap berbaur saling menghormati dan sangat menjunjung semangat toleransi, baik dengan sesama agama maupun dengan agama lain.

Nilai-nilai toleransi yang selalu ditinggikan ini sangat terlihat ketika tahun lalu delegasi dari 24 negara datang mengunjungi pesantren tertua di Cirebon itu. Mereka datang dalam rangka menghadiri budaya Jaga Kali yang biasa dilakukan tiap tahun.

Karena keterbukaan dan penghargaan warga pesantren terhadap para tamu dengan latar belakang identitas yang berbeda-beda sangat dimajukan, delegasi-delegasi yang berkunjung pun menghormati tradisi Pesantren Benda Kerep. Turis perempuan yang berbeda agama, datang dengan inisiatif pakaian tertutup dan menutupi kepalanya dengan kain. Begitu juga para santri dan warga di lingkungan pesantren, mereka menyambut para delegasi dengan antusias dan sangat menghormati keberagaman, baik perbedaan tradisi, budaya, agama, dan kebangsaan.

Sejatinya setiap tahun pesantren ini selalu ada kunjungan dari tamu-tamu dari berbagai negara, dan sudah barang tentu dari sekitar Cirebon dan masyarakat Indonesia lainnya dengan beragam latar belakang. 

"Dulu waktu saya melanjutkan pendididkan doktoral di California University, saya terbiasa menerima pebedaan dan keberagaman. Di saat idil fitri tiba, mereka yang bukan muslim biasa mengucapkan selamat Idul Fitri. Begitu juga disaat Hari Natal tiba, saya pun mengucapkan Selamat Natal pada mereka yang merayakanya. Nilai-nilai toleransi seperti itu saya terapkan juga di sini," jelas Kang Miftah sambil meminum kopi.

Nilai-nilai toleransi yang didorong pesantren tradisional di Cirebon ini sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Cirebon yang meskipun relatif toleran, dengan cara beragama yang sangat moderat, tetapi kerap kali ditingkahi ideologi bahkan aksi warga yang berbasis kekerasan, seperti aksi terorisme di Polresta Cirebon atau penangkapan-penangkapan terduga teroris di Cirebon dan sekitarnya.

Budayawan yang menceritakan tentang Pesantren Benda, saat ditemui di Sangga Seni Kencana Ungu 

Apa yang diutarakan pimpinan Pesantren Benda Kerep terkait upaya menghidupkan toleransi ini juga diceritakan oleh budayawan Cirebon Sofyan Satari. Lelaki yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Kang Opang ini menuturkan bahwa Pesantren Benda Kerep merupakan tempat bersejarah, ketika zaman penjajahan Belanda, Pesantren Benda Kerep sempat menutup diri sekitar 100 tahun lamanya. Semua itu dikarenakan Pesantren Benda Kerep takut pengaruh-pengaruh kolonial masuk dan mengadu domba para santrinya.

"Pesantren Benda sebenarnya menjunjung tinggi nilai-nilat toleransinya sejak dulu. Tapi pesantren itu sempat menutup dirinya pada masa kolonial karena pada saat itu Mbah Soleh takut para santrinya terpecah-belah, diadu domba oleh Belanda," ungkapnya saat ditemui di Sanggar Seni Kencana Ungu (1/11).

Menurut Kang Opang, posisi Mbah Soleh dan pesantren saat ini non-kooperatif terhadap kebijakan para penjajah. Namun setelah era kolonial lewat, pada tahun 1980, Pesantren Benda Kerep mulai terbuka dan bekerja sama dengan masyarakat luas dari berbagai latar belakang.

Permadi Budiatna, kisah Kang Opang, adalah warga Cirebon beragama Kristen yang dengan baik diterima Pesantren Benda Kerep ketika membangun kerja sama mendirikan atau membangun listrik di kampung yang dulunya berdiri pohon benda yang sangat lebat dan rapat (kerep, bahasa Sunda). Sejak saat itu hubungan Permadi dengan pesantren sangat erat. 

Salah satu bukti toleransi yang saya ketahui adalah pada tahun 80-an, Pesantren Benda Kerep bekerja sama dengan seorang non-muslim untuk mendirikan listrik, ceritanya.

Sudut pandang lainnya mengenai toleransi Pesantren Benda Kerep dituturkan pula oleh Effendy yang merupakan tokoh agama Budha di Vihara Dewi Welas Asih, Cirebon. Ia berkawan baik dengan salah seorang warga Benda Kerep yang memegang adat istiadat yang sampai hari ini dilestarikan di pesantren.

Sebagai tokoh agama Budha, ia pun tidak canggung untuk memasuki wilayah pesantren. Ia bersama kawan akrabnya dari Benda Kerep pernah berkunjung ke Pesantren Benda. Ia pun merasa sangat lega karena etnis dan agamanya yang berbeda tetapi disambut hangat oleh para santri dan warga Pesantren Benda Kerep.

Effendy juga menganggap interaksi sehari-hari santri yang sekaligus warga Pesantren Benda Kerep dengan masyarakat luar sangat harmonis, termasuk dengan agama maupun etnis minoritas yang berbeda dengan mereka.

"Saat itu saya ikut dengan teman saya, orang Kampung Benda juga, dia mau mengambil pasir ke sana. Ketika saya sampai di Benda, warga pesantrennya menyambut saya dengan hangat. Mereka mengajak berbincang, dan lain-lain. Mereka memperlakukan saya layaknya seperti kawan-kawannya," tuturnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Tedy, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Cirebon. Ia mengaku dirinya belum pernah ke Kampung Benda, tetapi ia mengetahui keberadaan kampung tersebut langsung dari warga Kampung Pesantren Benda yang sering berhubungan, termasuk ketika mereka mengirim barang-barang material ke klenteng tempatnya beraktivitas.

Bangunan rumah pertama yang ada di Kampung Pesantren Benda Kerep 


Sebagaimana banyak diketahui, interaksi warga Kampung Pesantren Benda dengan masyarakat sekitar Cirebon di antaranya adalah mata pencaharian mereka yang menggali secara tradisional pasir dan batu-batu material untuk bangunan. Dari sanalah Tedy banyak bertemu dan bekerja sama dengan penduduk Kampung Pesantren Benda.

"Saya justru lebih kenal dengan masyarakta Bendanya yang bekerja di sini. Pas saya tanya dari mana, mereka jawab dari Benda," katanya saat ditemui di Klenteng Talang.

Ia juga berpendapat, jika Kampung Pesantren Benda yang masih tradisional merupakan aset negara yang harus dijaga, karena mereka mempertahankan tradisi atau adat dan istiadat yang sekaligus sangat ramah, sederhana, dan menghormati perbedaan.

"Saya rasa seharusnya keasliannya Pesantren Benda itu aset negara yang harus dijaga," imbuhnya.

Harapan-harapan masyarakat terhadap pesantren tersebut, sebenarnya semangat yang selalu diajarkan dan diwariskan Kang Miftah, sebagai pimpinan pesantren yang sangat berpengaruh, kepada para santri dan warganya untuk turut menghidupkan semangat keberagaman dan penghormatan hubungan lintas iman di Cirebon dan di manapun nantinya para santri bersosialisasi. Tidak ada halangan bagi relasi dan kerja sama antaragama, etnis, dan budaya-budaya yang berbeda.

Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) yang sedang menjelaskan kerja sama antara Klenteng Talang dan warga Kampung Pesantren Benda

“Pesantren sangat membolehkan para santri dan warga Pesantren Benda Kerep untuk mengucapkan Natal dan hari raya agama-agama lainnya kepada non-muslim yang sedang merayakan hari besar mereka," tegas Kang Miftah. (Indah)

Tulisan ini bagian dari program Story Grant Pers Mainstream Jawa Barat yang digelar oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung fur die Freiheit (FNF) dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia. 

Selasa, 01 Desember 2020

Pengganti Batik Merah, Pemkab Cirebon Launching Batik Mande Praja Caruban

FOKUS CIREBON, (FC) – Pemkab Cirebon akhirnya melaunching batik baru yang akan digunakan oleh seluruh pegawai dilingkup Pemkab Cirebon hingga ke pemerintah desa. Batik tersebut diberi nama Batik Mande Praja Caruban yang dilaunching di Studio Kaliandra Radar Cirebon, kemarin malam.

Tidak hanya pegawai dilingkungan Pemkab Cirebon, batik Mande Praja Caruban akan digunakan hingga ke tingkat pemerintah desa. Ya, batik tersebut nanti akan menjadi pengganti batik merah yang sudah ada. Design batik tersebut dihasilkan dari lomba atau sayembara design batik yang sudah diselenggarakan pada 2019 lalu yang hak ciptanya menjadi milik Pemkab Cirebon. 

Warna dasar dari batik tersebut perpaduan putih dan coklat dengan motif dominan mega mendung, padasan dan lain-lain yang dipadukan sedemikian rupa sehingga menjadi batik khas dengan ciri Cirebon yang sangat terlihat.

Bupati Cirebon, Drs H Imron MAg saat ditemui Radar mengatakan pihaknya sudah menerbitkan Peraturan Bupati terkait batik tersebut yang nantinya akan digunakan untuk menggantikan batik merah yang sudah ada.

“Sudah ada perbupnya, Ini hasil sayembara yang kemudian pemenangnya diberikan hadiah sementara hak dan motif batiknya digunakan oleh Pemda,”ujarnya.

Ditambahkan Imron, pihaknya sudah menerbitkan Perbup Nomor 47 tahun 2020 tentang perubahan atas peraturan Bupati nomor 40 tahun 2019 tentang pakian dinas kepala daerah, wakil kepala daerah dan pegawai negeri sipil dilingkungan pemerintah Kabupaten Cirebon.

“Untuk pembuatan batik ini Pemkab Cirebon memberdayakan 287 pengrajin batik yang terdiri dari 11 desa  dan dalam 3 Kecamatan yakni Kecamatan Plered, Tengah Tani dan Ciwaringin. Selain jaminan kualitas, pemesanan batik pada pengrajin langsung ini untuk mempercepat proses pemulihan perekonomian ditengah kondisi pandemi,”imbuhnya.

Sementara itu, Kadisbudparpora Kabupaten Cirebon Drs H Hartono MSi kepada Radar mengatakan banyak filosofi yang terkandung dalam batik mande praja caruban yang nanti akan dilaunching oleh Bupati Cirebon tersebut.

Dijelaskannya, motif utama dari batik tersebut yakni Mande (Bale/Tajug) yang berarti suatu bangunan tempat berkumpul untuk berembuk, berbincang, musyawarah mengerjakan ilmu atau komunikasi lainnya, dimana pada jaman dahulu Mbah Kuwu memerintahkan kepada seluruh ki gede/kuwu untuk membangun mande yang fungsi utamanya adalah untuk syiar Islam.

Arti selanjutnya yakni Praja dimana pegawai pemerintah orang-orang yang beraktifitas di lingkungan pemerintah, Praja juga bermakna struktur pemerintah dengan seluruh komponen pendukungnya.

Sementara caruban artinya Cirebon yang menunjuk pada daerah Kabupaten Cirebon dengan segala keanekaragaman penduduknya, kekayaan alamnya serta aneka potensi budayanya, Mengunakan bahasa aslinya nama daerah Cirebon dimasa lalu, Caruban, yang berarti campuran untuk lebih memberikan kesadaran akan daerah yang multi kultur, terbuka dan toleran dengan segala potensi yang dimilikinya.

“Pakain batik ini akan digunakan pada minggu genap setiap hari Kamis. Akan dimulai pada Desember ini penggunaannya,”ungkapnya.

Untuk tahap pertama sambung Hartono pihaknya sudah memesan sebanyak 5000 potong kain batik ke pengrajin melalui Dinas UMKM yang memesan langsung ke pengrajin.

“Rencana launching ini sudah mundur tiga kali. Alhamdulillah baru bisa terealisasi saat ini,”pungkasnya.

Senin, 30 November 2020

HUT KORPRI, Imron Minta Pelayanan Masyarakat Dipercepat

Bupati Cirebon, Drs H Imron MAg


FOKUS CIREBON, (FC) -Pelayanan publik menjadi perhatian Bupati Cirebon, Drs H. Imron, M. Ag dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 KORPRI. 

Dalam sambutan saat pelaksanaan upacara HUT KORPRI di Halaman Kantor Bupati Cirebon, Imron mengingatkan kepada seluruh anggota KORPRI, untuk meningkatkan kinerja, terutama dibidang pelayanan publik. 

Imron juga mendorong kepada seluruh anggota KORPRI untuk bisa berinovasi dan melakukan terobosan, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 

Bahkan Imron tidak segan-segan meminta agar pelayanan kepada masyarakat yang menyulitkan, bisa lebih dipermudah dan dipangkas. 

"Kecepatan melayani, menjadi kunci reformasi birokrasi," ujar Imron, Senin 30 November 2020.

Imron juga menegaskan, bahwa tugas birokrasi bukan hanya sekadar melayani, tapi juga memastikan masyarakat bisa terlayani dengan baik. 

Selain itu, pelayanan yang diberikan juga, harus baik dan diimbangi dengan kemudahan serta kecepatan. Menurut Imron, saat ini bukan lagi saatnya pelayanan hanya berorientasi pada prosedur saja. 

"Namun harus lebih berorientasi pada hasil nyata. Sehingga, pelayanan harus dipercepat dan dipermudah," kata Imron. 

Ketua KORPRI Kabupaten Cirebon Iis Krisnandar menuturkan, ada sejumlah agenda kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka HUT Ke-49 KORPRI ini. 

Diantaranya, yaitu kegiatan bakti sosial untuk sejumlah panti di Kabupaten Cirebon. Selain itu, ada juga penyerahan kadedeuh untuk 591 anggota KORPRI yang sudah purna bakti. "Totalnya mencapai Rp 10Miliar," ujar Iis. 

Iis juga mengatakan, selain KORPRI dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, KORPRI juga harus jadi perekat bangsa. (Nur)

Minggu, 29 November 2020

HMJ IFTAQ IAIN Cirebon Gelar Kegiatan Jurnalisme Wasathiyah: Membicang Jalan Tengah Idealisme dan Bisnis Media Arus Utama

FOKUS CIREBON, (FC) - Kajian al-Qur’an memang lah universal, ia tidak hanya melulu bergulat di kajian Agama saja. Namun juga pada kajian-kajian non agama, salah satunya tentang media.

Demikian disampaikan oleh Dr. H. Hajam, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sykeh Nurjati Cirebon saat membuka acara Rihlah Jurnalistik yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQTAF) pada Sabtu, 28 November 2020.

Acara yang berlangsung via zoom meeting itu mengusung tema “Jurnalisme Wasathiyah: Membicang Jalan Tengah Idealisme dan Bisnis Media Arus Utama” itu dihadiri narasumber Jurnalis Senior Media Indonesia Abdul Kohar, Pemimpin Redaksi Tirto.id Atmaji Sapto Anggoro dan dari Anggota Dewan Pers Asep Setiawan. 

“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya, dan semoga acara ini menjadi motivator walaupun lulusan IAT tapi mampu membuat media dan jurnalistik yang sesuai dengan jati diri agama dan NKRI,” kata Hajam. 

Menurutnya, tema yang diusung sangat menarik, karena mengangkat  jurnalisme wasatiyah. Apalagi sedang muncul-munculnya ekstrimisme dan radikalisme serta peran media sangat penting agar pemberitaan media tidak ekstrim kanan atau kiri.

Abdul Kohar, selaku narasumber pertama menyampaikan, dua identitas hal antara idealisme dan bisnis bisa berjalan beriringan.  Idealisme butuh dikembangkan dan sebagai penggeraknya adalah bisnis.

“Karena itu pers harus tetap hidup berada di titik tengah. Dengan memperkuat dan fokus pada idealisme pers, pada hal-hal yang menjadi cita-cita pers didirikan,” ujar Dewan Redaksi Media Group itu.

Pasalnya, Media akan tetap hidup dalam situasi sekarang apabila bisa menjaga kuewarasan publik dengan bersikap independen,  jujur,  perspektif baik dalam masyakarat akan tetap dipercaya.

“Pers akan tetap hidup, juga idealisme harus terus berjalan dan harus hadir dalam ruang-ruang publik. Untuk tetap hidup dengan managemen yang sehat dan dengan ide-ide cemerlang,” tandasnya.

Sementara itu, Asep Setiawan selaku pemateri kedua mengatakan, ilmu jurnalisme wasatiyah ini adalah pengetahuan yang langka.

“Saya mencoba mengaitkan dan ternyata ada poin-poin secara implisit dalam kode etik jurnalistik, di sana sudah ada bagaimana jurnalisme harus mengambil jalan tengah,  sebagai mediator dengan penyambung lidah antara publik dengan stakeholder lainnya,” katanya. 

Ia menambahkan, pers Indonesia adalah wujud kedaulatan rakyat,  unsur ini sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis,” kata Anggota Dewan Pers itu.

“Selain itu, fungsi pers Nasional yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial dan lembaga ekonomi,” kata Asep.

Narasumber terakhir, Atmaji Sapto Anggoro, berdirinya tirto ini karena dilandasi dari keinginan naik kelas.

“Sekarang ini media berlomba untuk cepat-cepatan, tidak harus cepat cepat, karena ini multimedia boleh cepat boleh tidak, semua itu bisa dilakukan,” ungkapnya.

Ia meyakini bahwa orang kreatif tidak ingin menjadi seperti orang lain, tetapi ingin menjadi lain dari pada yang lain. (Nur)

Presiden RI Joko Widodo : Pemerintah Tengah Mempercepat Reformasi Birokrasi dan Struktural

 

Presiden RI, Ir Joko Widodo


JAKARTA, (FC) - Peringati HUT ke-49 Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), Presiden RI Joko Widodo menyampaikan apresiasi atas semangat anggota Korpri di tengah situasi pandemi saat ini tetap menjalankan tugas pengabdian dari negara.

Di tengah kesulitan dan keterbatasan yang ada di tengah pandemi, Kepala Negara berharap agar hal itu tak menjadi penghalang bagi para ASN untuk dapat bekerja dengan sigap dan cepat.

“Saya tahu dalam menjalankan tugas dari negara pasti ditemui banyak kesulitan, pasti memiliki banyak keterbatasan. Namun, saya berharap kesulitan dan keterbatasan itu tidak menjadi penghalang bagi kita untuk dapat bekerja dengan sigap dan cepat untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan baik di bidang kesehatan maupun ekonomi,” ujar Presiden dalam sambutannya secara virtual sebagaimana ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden pada Minggu (29/11/2020).

Ditegaskan Presiden, saat ini pemerintah harus terus mempercepat reformasi birokrasi dan struktural. Pandemi yang melanda saat ini memberi momentum perubahan fundamental dari cara-cara biasa menjadi cara-cara luar biasa.

Menurut Presiden, para birokrat kini harus terbiasa memanfaatkan teknologi. Era pandemi sekarang ini adalah momentum sebagian besar birokrat harus bekerja dari rumah, mempercepat transformasi digital, serta menjadikan aparat birokrasi lebih adaptif dan lebih terampil memanfaatkan teknologi dengan mengedepankan inovasi dan kreativitas.

“Selain itu, reformasi struktural sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi. Regulasi yang rumit dan menghambat kreativitas kerja harus dipangkas dan disederhanakan. Kelembagaan pemerintahan yang gemuk, tumpang tindih, dan tidak efisien harus segera diintegrasikan,” imbuhnya.

Jenjang eselonisasi yang panjang harus dapat dipangkas untuk mempercepat pengambilan keputusan. SOP yang panjang dan kaku harus dapat diringkas dan lebih fleksibel serta berorientasi pada hasil. Konsekuensinya, kompetensi SDM aparatur sipil negara harus menyesuaikan.

Selain itu, Presiden melanjutkan, aparatur sipil negara juga harus tetap menjalankan tugas kebangsaan. Keberadaan ASN di seluruh wilayah Indonesia sampai ke pelosok perbatasan negara dan pelosok desa merupakan simpul pemersatu bangsa yang selalu mengamankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, setia menjaga dan tunduk pada Negara Kesatuan Republik Indonesia, terus menjaga nilai-nilai bhinneka tunggal ika, serta menjaga nilai-nilai toleransi dan kerukunan.

“Keberadaan ASN di seluruh wilayah Indonesia juga harus bekerja untuk memotori pembangunan di seluruh pelosok Indonesia, menyampaikan prioritas program pembangunan nasional kepada masyarakat, aktif dalam pendidikan masyarakat, memberikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat, serta menjadi motor pembangunan dan perubahan, terutama untuk masyarakat di daerah-daerah pinggiran dan terpencil,” ucap Presiden.

Oleh sebab itu, dalam kesempatan tersebut, Presiden juga sekaligus mengajak seluruh anggota Korpri untuk menjadi bagian penting dari proses perubahan besar-besaran yang sedang pemerintah jalankan dan memberikan warisan berharga dalam sejarah perjalanan bangsa untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Maju. (Dade)

Pemkab Cirebon Apresiasi Pernikahan Winda-Biondi Contoh Penerapan Protokol Kesehatan

Prosesi Pernikahan Wida-Biondi yang menjadi percontohan dalam penerapan Prokes.

FOKUS CIREBON, (FC) - Pesta pernikahan dr Wida Rahmawati dan Biondo Bintang Prasetyo S.Hum  (Wida-Biondi),  Jadi Contoh Penerapan Protokol Kesehatan.

Hal ini sejalan dengan Pemerintah Kabupaten Cirebon yang terus berupaya untuk menekan angka penyebaran covid 19. Salah satunya yaitu dengan menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan dalam berkegiatan.

Penerapan protokol kesehatan dalam kegiatan hajatan, terlihat dalam pelaksanaan hajatan yang digelar oleh Rahmat Sutrisno. Bukan sekadar menggelar hajatan, namun Rahmat juga sangat memperhatikan penerapan protokol kesehatan dalam acara pernikahan putrinya tersebut.

Untuk memastikan penerapan protokol kesehatan dilaksanakan, setiap tamu undangan harus melewati beberapa tahap, sebelum masuk ke area utama acara.

Saat tiba di lokasi acara, panitia akan memastikan seluruh tamu untuk menggunakan masker dan berjaga jarak. Selain itu, tamu juga nanti diwajibkan untuk menggunakan handsanitizer.

"Setelah itu, tamu baru diperbolehkan masuk ke tahap selanjutnya, yaitu pemeriksaan suhu tubuh," ujar ketua panitia acara, Hilmy Rivai.

Hilmy melanjutkan, dalam tahap tersebut, tamu dipastikan memiliki suhu dibawah 37,5. Jika nanti ditemukan tamu yang memiliki suhu diatas 37,5, tamu tersebut tidak diperbolehkan untuk melanjutkan ke lokasi acara utama.

Tamu yang kedapatan memiliki suhu diatas 37,5, akan langsung diarahkan untuk melakukan rapid test yang sudah disediakan dilokasi acara. Jika nanti reaktif, maka pihak panitia akan langsung berkoordinasi dengan tim kesehatan untuk dilakukan swab.

"Jika non reaktif tapi suhunya diatas 37,5 tamu akan tetap diarahkan untuk meninggalkan lokasi acara," kata Hilmy.

Hilmy memastikan, bahwa acara pernikahan tersebut sudah sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan, Nomor 382 Tahun 2020 terkait Protokol Kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian covid 19.

Terkait proses perizinan, pihaknya juga sudah mendapatkan izin dari seluruh instansi terkait. Ia juga mengungkapkan, panitia akan mengatur batas maksimal jumlah tamu undangan yang berada di area utama. Selain itu, tamu juga diberikan batasan waktu berada di area utama.

"Maksimal 30 menit berada di area utama," kata Hilmy.

Data mengenai waktu dan jumlah tamu di area utama, nantinya akan tercantum dalam monitor yang terpasang disejumlah titik, seperti area parkir, ruang tunggu, ruang acara dan pintu keluar.

Sedangkan di area utama acara, tamu yang akan bertemu dengan kedua mempelai, tidak diperkenankan untuk berjabat tangan saat menyampaikan doa ataupun ucapan selamat.

Panitia tidak menyediakan makan ditempat, untuk menghindari adanya kerumunan dalam acara. Hilmy juga menuturkan, pihak panitia akan terus mengingatkan kepada seluruh tamu, untuk selalu menjaga jarak.

"Tidak ada makam ditempat, tapi nanti ada souvenir dan launch box," kata Hilmy.

Guna memastikan sterilnya tempat acara, pihak panitia juga sudah melakukan sterilisasi dengan cara penyemprotan disinfektan satu hari sebelum acara, sebelum acara dan setiap jeda sesi undangan.

Menurut Sekretaris Satgas percepatan penanganan penanggulangan  covid-19 Kabupaten Cirebon hajatan ini secara normatif sudah sesuai dengan aturan. 

Alex menuturkan kami berpegang pada protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kemenkes selanjutnya diatur oleh regulasi teknis dan selanjutnya diatur dengan regulasi daerah yang dibreakdown menjadi Perbup 477 dan Kepbup 53 berkenaan dengan monitoring evaluasi, kami berharap ini menjadi prototype atau contoh apabila akan mengadakan hajat di masyarakat.

Ipda mimid Kanit Sabara Polsek Kedawung mewakili Kapolsek kedawung menanggapi, menurut-nya; sebagai pengamanan pam terbuka dalam hajatan ini semua protokol kesehatan sudah diatur sedemikian rupa dan kami mendukung hajatan ini menjadi contoh bagi siapapun yang akan melaksanakan hajat.

Dengan teknis acara seperti ini, kegiatan jumlah tamu yang besar tetap bisa dilaksanakan, namun tetap melakukan pencegahan penyebaran covid-19. (Nur)

Jumat, 27 November 2020

HMJ IFTAQ IAIN Cirebon Gelar Pelatihan Jurnalistik

FOKUS CIREBON, (FC) - Dalam rangka mengenalkan dunia jurnalistik, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQTAF) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon belum lama ini menggelar pelatihan jurnalistik.

Acara yang berlangsung via zoom meeting itu mengusung tema “Teknik Dasar Jurnalistik” dengan pemateri Taufik Hidayat selaku Pemimpin Redaksi pada surat kabar harian di cirebon. Jum’at, (27/11/2020).

Ketua HMJ IQTAF, Fasfah Sofhal Jamil mengatakan dalam sambutannya, kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari divisi Komunikasi dan Informasi di HMJ IQTAF.

“Tujuannya memang tak lain untuk memperkenalkan seputar dunia jurnalistik khususnya kepada mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir itu sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, pelatihan jurnalistik ini juga diharapkan mampu diterapkan pada karya ilmiah yang memang sudah akrab pada kehidupan mahasiswa

Taufik Hidayat, selaku pemateri menyampaikan dalam pendapatnya bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan.

“Menulis itu mudah dan menyenangkan dan berguna bagi diri sendiri apalagi bagi orang yang membacanya,” kata Taufik

Ia melanjutkan, tradisi menulis adalah tradisi intelektual, namun belum menjadi kultur di kalangan masyarakat kita, padahal media memberi ruang terbuka untuk ide-ide atau pikiran-pikiran orang.

“Menulis beritapun sangat mudah, namun ada rambu-rambu dalam menulisnya, 5W +1 H merupakan rumus berupa pertanyaan mengenai inti pokok suatu berita guna mengembangkan berita," tandasnya