Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 08 Desember 2020

FUAD IAIN Cirebon Gelar Seminar Nasional Tentang "Ngaji Manuskrip Cirebon"

FOKUS CIREBON, (FC) - Laboratorium Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon belum lama ini menggelar Seminar Nasional.

Acara yang berlangsung via Zoom Meeting itu mengusung tema “Ngaji Manuskrip Cirebon Terkait Al-Qur’an, Tafsir, dan Hadis,” Senin, (7/12/2020).

Dr. H. Hajam, M.Ag, Selaku Dekan Fuad mengatakan dalam sambutannya, kajian ini merupakan kajian yang langka dan pertama kali dilakukan. 

“Harapannya semoga kajian ini menjadi rutin guna mengenai kajian-kajian naskah berupa naskah keagamaan, tasawuf, tafsir,  hadis, fiqih, nahwu, dan lain sebagainya,” kata Hajam. 

Ia menambahkan, Mudah-mudahan setelah kajian ini tetap berlanjut secara rutin, karena ini urgent berkaitannya dengan distensi keilmuan FUAD yaitu salah satunya mengkaji naskah.

Sementara itu, Ketua Pelaksana, Dr. Hartati, MA mengaku, Seminar ini berawal dari perbincangan antara Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Hadis (ILHA) yang kemudian ditindaklanjuti. 

“Tujuan diadakan kegiatan ini untuk membekali mahasiswa  dan IAT untuk proposal baik proposal skripsi ataupun penelitian lainnya,” katanya. 

Ia berharap kajian ini dapat membantu pemerintah terutama Kemenag dalam wilayah kajian manuskrip terkait sumber data manuskrip di Cirebon.

M. Mukhtar Zaedin, selaku Narasumber menyampaikan, Manuskrip atau naskah kuno merupakan sumber informasi yang paling otentik pada masanya. 

“Ada dua aliran naskah kuno yaitu aliran pesantren dan aliran keraton. Tempat penulisan naskah terjadi hanya di dua tempat itu sebagai pusat pendidikan,” ujarnya.

Menurutnya, naskah itu hal yang amat penting sehingga perlu konservasi dan pemanfaatan.  Pemanfaatan yang paling utama adalah kajian.

“Saya menyambut baik Tafsir Hadis melakukan kajian terhadap naskah yang secara tidak langsung telah masuk dalam konservasi naskah kuno,” ujar Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon itu.

Dalam pemaparannya, ia berhasil mengidentifikasi naskah yang ada di Cirebon selama 20 tahun, kurang lebih ada 600 naskah kuno, di mana diklasifikasikan mengenai mushaf kurang lebih 20 naskah, naskah mengenai tafsir 2, dan hadis sampai hari ini belum menemukan.

“Naskah di Cirebon yang saya jumpai memakai 4 aksara, di antaranya aksara Arab,  Cacarakan,  aksara pegon serta aksara latin,” tandasnya.

Guru Besar di IAIN SNJ Cirebon Kembali Bertambah

 

Prof Dr H E Sugianto SH MH, guru besar di bidang Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Tata Negara dan Otonomi Daerah, IAIN SNJ Cirebon.


FOKUSCIREBON, (FC) - Kabar gembira datang dari kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, di mana saat ini memiliki guru besar baru di bidang Ilmu Hukum konsentrasi Hukum Tata Negara dan Otonomi Daerah. Dia adalah Prof Dr H E Sugianto SH MH.

Menurut informasi yang dihimpun, Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof Sugianto telah ditetapkan sebagai guru besar di bidang Ilmu Hukum tersebut terhitung sejak 1 November 2020 dengan angka kredit 894.

Dalam SK bernomor 117754/MPK/KP/2020 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen Menteri Pendidikan dan kebudayaan tersebut pun disebutkan, unit kerja Prof Sugianto di Kementerian Agama pada IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

“Alhamdulillah, tinggal menunggu pengukuhan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon saja dan waktunya kita masih menunggu,” kata Prof Sugianto, Selasa (8/12/2020).

Diketahui, dengan ditetapkanya Prof Sugianto sebagai guru besar, maka saat ini IAIN Syekh Nurjati Cirebon telah memiliki 11 guru besar.

Untuk itu, menurut Prof Sugianto, penambahan jumlah guru besar tersebut tentu dapat menunjang dan mendorong rencana transformasi lembaga dari IAIN Syekh Nurjati Cirebon menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang ditargetkan dapat terwujud di tahun 2021 mendatang.

Terlebih, imbuh dia, guru besar di bidang Ilmu Hukum yang konsentrasinya Hukum Tata Negara dan Otonomi Daerah yang disandangnya, merupakan satu-satunya di wilayah III Cirebon.

“Tentu sangat berkontribusi besar terhadap rencana transformasi tersebut (IAIN menjadi UIN). Dengan adanya penambahan ini pasti berdampak pada penguatan transformasi dari IAIN ke UIN,” jelasnya.

Prof Sugianto mengungkapkan, saat ini IAIN Syekh Nirjati Cirebon telah membuka Program Magister (S2) Studi Perdata Islam (Akhwal Syakhshiyyah). Sehingga, dengan dimilikinya guru besar di bidang Ilmu Hukum, maka kampus setempat dapat membuka program doktoral atau S3 di bidang tersebut.

Karena, lanjut dia, selain harus memenuhi unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dengan membuat jurnal internasional terindeks scopus, dan pengabdian kepada masyarakat, syarat untuk menjadi guru besar pun salah satunya harus mengajar dan menguji tugas akhir mahasiswa di jenjang S3, yaitu disertasi.

“Saat ini prodi Ilmu Hukum di IAIN Syekh Nurjati Cirebon baru sampai jenjang S2 dan untuk jenjang S3-nya sedang digagas. Apalagi IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini akan menjadi UIN, maka pengembangannya akan lebih luas,” papar Prof Sugianto.

Untuk itu, menurut dia, dengan rencana transformasi IAIN Syekh Nurjati Cirebon menjadi UIN, maka penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) di kampus setempat menjadi keharusan.

"Secara pribadi saya merasa bangga dapat berkontribusi terhadap pengembangan kelembagaan dari IAIN menjadi UIN. Semoga ke depan guru besar di IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini semakin bertambah dan transformasi menjadi UIN dapat segera terwujud,” tandasnya. (din)














Isi Waktu Isolasi, Bupati Manfaatkan Baca Al-Qur'an dan Buku

Bupati Cirebon, Drs H Imron,M.Ag


FOKUS CIREBON, (FC) - Di hari ke enam menjalani isolasi mandiri, kesehatan Bupati Cirebon Drs H Imron,M.Ag, pasca terkonfirmasi positif covid 19, semakin membaik dan stabil. Bupati mengisinya dengan baca Al Qur'an dan buku.

Imron menganggap, bahwa kondisinya saat ini, memiliki hikmah tersendiri. Diantaranya, yaitu bisa beristirahat dan bisa melakukan aktivitas yang sebelumnya cukup tersita oleh kesibukannya sebagai bupati.

Saat dihubungi oleh sejumlah wartawan melalu video call, Imron menceritakan tentang aktivitas kesehariannya selama menjalani isolasi. Ia mengaku sudah memiliki jadwal rutin, yang dilaksanakan tiap hari.

"Diantaranya yaitu mengaji Al-Qur'an dan baca buku," kata Imron.

Dalam setiap hari, Imron bisa membaca Al-Qur'an hingga empat juz . Ada beberapa waktu yang ia gunakan untuk membaca Al-Qur'an dan diselingi aktivitas lainnya, seperti membaca buku, membaca koran dan olahraga.

Imron menuturkan, setiap harinya ia bangun pada pukul 04.00 untuk bersiap melakukan sholat subuh. Setelah salat subuh, Imron melanjutkan aktivitasnya dengan membaca Al-Qur'an.

" Habis ngaji, dilanjutkan baca koran dan olahraga selama dua jam," kata Imron.

Usai olahraga, mantan kemenag ini melanjutkan aktivitasnya dengan mandi dan dilanjutkan dengan melakukan sholat dhuha. Usai melaksanakan salat dhuha, Imron kembali membaca Al-Qur'an, dilanjutkan membaca buku dan nonton tv.

Imron menyebutkan, bahwa aktivitasnya tersebut, dilakukan secara berulang setiap harinya. Hanya diseling dengan salat dan istirahat. 

Ia mengungkapkan, bahwa kesehatannya selalu diperiksa setiap hari oleh tim kesehatan. Beberapa hal yang diperiksa, seperti darah, jantung, fisik dan kolesterol. Bahkan saat ini, kondisi kolesterolnya sudah normal.

"Sebelumnya kolesterolnya tinggi, sekarang sudah normal," ujar Imron.

Imron mengaku belum melakukan swab yang kedua, untuk mengetahui kondisi terbarunya, apakah masih positif atau sudah negatif covid 19. Karena berdasarkan saran dari tim kesehatan, swab akan dilaksanakan pada hari kesepuluh isolasi.

Salah satu hal yang membuat kondisinya saat ini tetap prima, yaitu rasa optimisnya untuk bisa sehat dari virus covid 19. Selain itu, ia terus memanfaatkan waktu isolasinya dengan sesuatu yang ia senangi.

"Jangan jenuh, tapi dinikmati. Isolasi ini juga, akhirnya membuat beberapa aktivitas yang sebelumnya sulit dilakukan secara rutin, bisa dilakukan rutin. Seperti baca Al-Qur'an dan buku," kata Imron.

Menanggapi terkait vaksin covid 19 yang diinformasikan sudah tiba di Indonesia, Imron masih menunggu keputusan dari provinsi. Salah satunya, terkait berapa jatah yang akan diberikan untuk Kabupaten Cirebon.

Jika sudah ada keputusan jumlah kuota vaksin untuk Kabupaten Cirebon, pihaknya akan meminta dinas kesehatan, untuk segera menjemput bola vaksin tersebut ke provinsi.

"Agar segera diberikan kepada masyarakat," ujar Imron.

Jumat, 04 Desember 2020

Ditengah Menjalani Isolasi Mandiri, Bupati Imron Pimpin Kabupaten Cirebon Secara Virtual

FOKUS CIREBON, (FC) - Tiga hari pasca positif Covid-19 Bupati Cirebon, Drs. H. Imron Rosyadi, M.Ag kini menjalani isolasi mandiri dan tetap menjalankan roda pemerintaha secara virtual. 

Mantan kepala Kemenag tersebut bahkan merasa sehat dan tanpa merasakan gejala apapun, ia berpesan agar masyarakat Kabupaten Cirebon membantu pemerintah dalam menekan penyebaran Covid-19 dengan mentaati protocol Kesehatan.

“Cukuplah saya yang sudah merasakan terconfirmasi Covid-19 dan saya  berdoa dan memohon kepada Allah SWT, semoga tidak ada lagi masyarakat Kabupaten Cirebon yang terconfirmasi COVID-19.” ungkapnya.

Imron meminta kepada kepala SKPD beserta seluruh jajaran aparatur pemerintah Kabupaten  Cirebon untuk tetap melayani masyarakat dengan baik dan dengan ketat menerapkan protocol Kesehatan dalam semua  pelayanan

“Terima kasih  yang setinggi-tinginya kepada  Tenaga Kesehatan, Satgas Covid 19 yang terus berupaya melayani masyarakat di dalam masa pandemic covid-19  ini,” ucapnya.

Imron menegaskan bahwa covid itu ada dan tidak terlihat, oleh karenanya pihaknya mengajak agar secara Bersama-sama bergandengan tangan untuk menang melawan covid-19, 

“Insya allah  Cirebon akan segera terbebas dari COVID-19.” tutupnya. (Yar)

Kamis, 03 Desember 2020

Kondisi Stabil, Bupati Cirebon Diizinkan Untuk Lakukan Isolasi Mandiri

FOKUS CIREBON, (FC) -Perkembangan kesehatan Bupati Cirebon, Drs H Imron, M.Ag, pasca diinformasikan terkonfirmasi positif covid 19 kemarin, dalam kondisi stabil.

Direktur Rumah Sakit Arjawinangun, dr Bambang Sumardi menuturkan, bahwa hasil pemeriksaan fisik, bupati dalam kondisi baik dan stabil.

Bahkan, hasil dua pemeriksaan yang dilakukan kemarin, yaitu rontgen Thorax dan CT Scan, juga tidak ditemukan masalah. Sehingga berdasarkan hasil tersebut, tim dokter mengizinkan bupati jika ingin melakukan isolasi mandiri.

" Jika Pak Bupati menginginkan untuk isolasi mandiri, kami izinkan. Karena kondisinya bagus dan stabil," ujar Bambang, Kamis 3 Desember 2020.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh tim dokter, tidak ditemukan juga tanda-tanda pneumonia. Hanya saja, kolesterolnya cukup tinggi.

Bambang menambahkan, tim dokter hanya menyarankan kepada bupati, untuk lebih menjaga kondisi badan dan makanan yang cukup.

"Tentunya, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan," kata Bambang.

Sebelumnya diinformasikan, Bupati Cirebon Drs H Imron, M.Ag terkonfirmasi positif covid 19. Bupati sempat mengalami demam, sebelum akhirnya berinisiatif untuk melakukan swab.

Imron mengaku, swab yang ia lakukan, merupakan swab yang kelima kalinya. Ia juga belum tahu darimana dirinya bisa terkonfirmasi positif covid 19, karena selalu menerapkan protokol kesehatan.

"Mohon doanya saja, semoga saya cepat sembuh dan pandemi covid 19 ini cepat selesai," kata Imron. (Agus)

Rabu, 02 Desember 2020

Bupati Cirebon Terkonfirmasi Positif Covid 19

FOKUS CIREBON, (FC) - Bupati Cirebon Drs H. Imron, M.Ag terkonfirmasi positif covid 19.hal tersebut diketahui, setelah mantan Kemenag Kabupaten Cirebon itu, melakukan uji swab kemarin. 

Imron mengatakan, bahwa dirinya selalu menerapkan protokol kesehatan dan rutin melakukan tes swab. Menurutnya, ia sudah melakukan empat kali swab, untuk mengetahui kondisi kesehatannya itu. 

"Swab yang kelima kalinya, dilakukan selasa kemarin. Dan ternyata dinyatakan positif," ujar Imron. 

Sebelum dilakukan swab, Imron mengaku sempat mengalami gejala demam. Namun kondisi tersebut sudah membaik. Untuk lebih mengetahui kondisi kesehatannya, ia kemudian meminta untuk dilakukan swab oleh tim medis dan ternyata hasilnya positif. 

Menurut Imron, saat ini kondisinya cukup stabil dan masih bisa menjalankan aktivitasnya melalui daring. Sehingga ia memastikan, aktivitas kepemerintahan tidak terganggu. 

Untuk tindaklanjut dari kondisinya tersebut, Imron menuturkan, bahwa seluruh keluarga dan crew sudah dilakukan swab. 

Imron juga meminta kepada seluruh masyarakat Kabupaten Cirebon, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, yaitu menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan. 

"Mohon doanya, agar saya segera diberikan kesembuhan dan pandemi covid 19 segera selesai," katanya. 

Direktur RSUD Arjawinangun, dr Bambang menuturkan, bahwa menjalani pemeriksaan medis di RSUD Arjawinangun. Sebelum dinyatakan positif, bupati sempat mengalami demam dengan suhu sekitar 37,5 derajat. 

Untuk pemeriksaan lanjutan, pihaknya berencana untuk melakukan rontgen thorax dan juga CT Scan. Langkah selanjutnya, menunggu hasil dari kedua pemeriksaan tersebut. 

"Kalau hasilnya bagus, bisa isolasi mandiri. Tapi kalau kurang bagus, maka nanti harus dilakukan perawatan di rumah sakit," ujar Bambang. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni menambahkan, pihaknya juga sedang melakukan tracing yang melakukan kontak erat dengan bupati. 

Jika ada yang merasa pernah melakukan kontak erat dengan bupati dalam tempo 14 hari kebelakang. Ia meminta untuk bisa melakukan swab melalui Puskesmas terdekat, atau datang ke Dinas Kesehatan. 

"Satu minggu kedepan, kami juga akan melakukan pemeriksaan swab lagi kepada bupati," kata Eni. (Nur)

Terpilih Jadi Wabup, Ayu Siap Terima Masukan Masyarakat

Wahyu Tjiptaningsih, Wabup Cirebon terpilih untuk sisa jabatan 2019 - 2014


FOKUS CIREBON, (FC) - Wahyu Tjiptaningsih akhirnya terpilih menjadi Wakil Bupati Cirebon, mendampingi Bupati Cirebon, Drs H Imron,M.Ag. Sebelumnya, Imron yang diposisikan sebagai Wakil Bupati, naik jabatan menjadi bupati, menggantikan posisi Sunjaya Purwadi Sastra.

Dalam proses pemilihan Wakil Bupati Cirebon ini, PDI Perjuangan sebagai partai pengusung, mengusulkan dua nama calon, yaitu Wahyu Tjiptaningsih dan Cunadi.

Sejak awal pencalonan, nama Ayu memang lebih banyak diprediksikan untuk memenangkan pemilihan ini. Hal itu kemudian dibuktikan, dengan hasil pemilihan yang dilaksanakan di Gedung DPRD Kabupaten Cirebon, Rabu 2 Desember 2020.

Dalam pemilihan tersebut, Ayu unggul jauh dari lawannya, dengan mendapatkan dukungan sebanyak jumlah 36 suara. Sedangkan Cunadi, hanya mendapatkan 1 suara. Dengan kemenangan tersebut, Ayu nantinya akan menjabat Wabup Cirebon di sisa masa jabatan 2019-2024.

Proses pemilihan dihadiri sebanyak 49 anggota DPRD Kabupaten Cirebon. Namun dari jumlah tersebut, hanya 37 suara yang sah, sedangkan 10 suara lainnya tidak sah. Terdapat juga dua anggota DPRD Kabupaten Cirebon, yang berhalangan hadir dalam pemilihan.

Ayu mengucapkan terima kasih, kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada dirinya, terutama kepada Ketua Umum PDI Perjuangan.

Ia mengaku siap untuk menerima segala saran dan masukan, untuk bisa ikut mendorong Kabupaten Cirebon menjadi lebih maju lagi.

" Saya mengharapkan masukan dan saran dari seluruj elemen masyarakat, untuk bisa membangun Kabupaten Cirebon lebih maju," ujar Ayu.

Smeentara itu, Ketua Penitia Pemilihan Wakil Bupati Cirebon, Mustofa menuturkan, bahwa dengan berakhirnya pemilihan, maka berakhir pula tugas panlih.

Proses selanjutnya, yaitu pengurusan Surat Keputusan (SK) dan pelantikan. Namun menurut Mustofa, hal tersebut bukan lagi merupakan tugas panlih.

"Namun merupakan tugas DPRD," ujarnya.

Dengan lengkapnya  pimpinan daerah di Kabupaten Cirebon, Mustofa berharap tugas yang dilakukan oleh pemerintah daerah bisa lebih maksimal lagi.

Selain itu, ia juga beraharap, sinergitas anatara pemerintah daerah dan DPRD untuk bisa lebih ditingkatkan lagi. Dengan harapan, penyelenggaraan pemerintahan bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan visi misi yang sudah direncanakan.

"Semoga dengan lengkapnya pimpinan daerah ini, visi dan misi Kabupaten Cirebon bisa terwujud," ujar Mustofa. (din)

LPM IAIN Cirebon Sukseskan Pelaksanaan Surveillence ISO 9001 : 2015

Rektor IAIN SNJ Cirebon bersama Ketua LPM IAIN Cirebon


FOKUS CIREBON, (FC) - Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Syekh Nurjati Cirebon menggelar kegiatan dengan tema Suksesksan Pelaksanaan Surveillence ISO 9001: 2015 di ruang Auditorium FITK kampus setempat, Rabu (3/12/2020).

Ketua LPM IAIN SNJ Cirebon, Dr Ayus Ahmad Yusuf SE, M.Si kepada Fokus Cirebon mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen dari kampus IAIN Syekh Nurjati terkait dengan penjamin mutu.

Kaitan dengan Penjaminan Mutu ini yang dilakukan secara nasional yaitu yang dilakukan dengan Badan Akreditasi Nasional, ada juga penjaminan muti bersertifikat internasional. 

"Jadi ini adalah sejenis sertifikat internasional sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi dan ini adalah tahun ketiga, proses sertifikat ini berlakunya satu tahun, jadi setiap tahun kita melakukan surveillence ISO," katanya.

Dengan adanya sertifikat ini, nanti ada beberapa dokumen-dokumen ISO yang akan dilakukan proses surveillence. Artinya dengan adanya sertifikat ini berarti kita memiliki standar mutu secara internasional.

Ayus juga menjelaskan, item-item yang diangkat pada proses ISO di kampus ini dilakukan di semua aspek, seperti sisi SDM dan pelaksanaannya serta lainnya.

Menurut Ayus, nanti yang di surveillence terdapat enam item, di antaranya Rektorat, Akademik dan Kemahasiwaan, Lembaga Penjaminan Mutu sendiri, Pascasarjana dan Fakultas FUAD.

Untuk itu Ayus berharap, sesuai dengan Renstra kita bahwa saat ini adalah penguatan penjaminan mutu di IAIN SNJ Cirebon dan akan dilakukan setiap setahun sekali.

"Proses menjaga mutu itu sudah menjadi kewajiban kita, yakni IAIN SNJ Cirebon sebagai penyedia kegiatan pendidikan tinggi maka kita harus memastikan bahwa proses pelaksanaan kegiatan kegiatan di kampus itu dilakukan secara proses yang baik dengan memenuhi standar yang sudah disepakati. Baik itu standar akreditasi nasional maupun standar ISO. Artinya, dengan kita memenuhi aspek aspek standar itu untuk menjamin bahwa lulusan kita itu memiliki kualifikasi baik dan mereka bisa memiliki keunggulan dan ketika lulus mereka bisa diterima masyarakat dan bisa beraktualisasi diri. Dan ini harapan kedepan mutu itu menjadi sebuah aktifitas yang sifatnya habbit, kebiasaan kita semua," terangnya sambil menunjukkan sebuah tulisan TUVPainland Certified, yang artinya IAIN Cirebon sudah mendapatkan sertifikat ISO Internasional. (Nurudin)



Melestarikan Tradisi Leluhur Pesantren Benda Kerep yang Toleran

JEMBATAN PENGHUBUNG : Tampak pada jembatan terlihat bebatuan yang ditata dan tertali baja sebagai pegangan untuk penyebrangan warga Pesantren Benda Kerep. (dok, Indah)


FOKUS CIREBON, (FC) - Satu dari sekian banyak pesantren tua di Cirebon, Jawa Barat, adalah Pesantren Benda Kerep. Usianya sudah 194 tahun dengan berpegang teguh nilai-nilai yang diwariskan para pendahulunya. Pesantren dengan corak tradisional ini tak lantas menjadi eksklusif dalam aktivitas kesehariannya. 

Pesantren Benda Kerep berada di Kampung Benda Kerep, Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Kehidupan religius dan praktik tradisional yang masih kental di Pesantren Benda Kerep, yang juga mewarnai warga perkampungannya, menumbuhkan semangat keberagaman dan toleransi. Hal itu dapat dilihat dari sejumlah aktivitas para santri dan warga Benda Kerep yang terbuka, menghargai, dan bekerja sama dengan masyarakat luas di Cirebon yang sangat heterogen, baik agama maupun etnisnya.

Menengok ke dalam perkampungan pesantren ini, pertama yang terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang bergema di setiap penjuru Benda Kerep. Terik matahari pukul 11.00 siang itu pun tak tampak mengusik para santri dan warga di sana yang tengah mengkhidmati ayat demi ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. 

Masjid tertua Pesantren Benda Kerep yang didirikan oleh Mbah Soleh 

Suasana seperti ini menjadi rutinitas para santri, laki-laki dan perempuan, sambil menunggu adzan salat Zuhur tiba.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.45. Terlihat para santri lalu-lalang bergegas mengambil air wudu untuk bersiap mengikuti salat Zuhur berjamaah. Suara bedug dipukul beberapa kali oleh pria paruh baya yang menjadi muadzin di masjid tertua pesantren itu. Di sana tak ada pengeras suara untuk mengumandangkan adzan, namun semua santri mendengarkannya dengan khidmat.

Bangunan rumah pertama yang ada di Kampung Pesantren Benda Kerep 

Kampung pesantren yang hanya dihuni oleh sekitar 100 kepala keluarga itu seakan terpisah dari pusat administrasi Kota Cirebon. Untuk masuk ke lokasi pesantren dari Kota Cirebon terhalang sungai yang cukup besar dan tidak ada jembatan untuk menyebranginya. 

Sedangkan ke arah selatannya berbatasan dengan hutan yang cukup lebat. Penduduk di sana nyaris terisolir dari hiruk-pikuk kehidupan modernitas Kota Cirebon. 

Setiap individu warganya masih memegang teguh budaya dan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun dari leluhur sampai sekarang.

Pengasuh pesantren Benda Kerep, KH Muhammad Miftah atau orang-orang sekitar memanggilnya dengan sebutan Kang Miftah, menceritakan kepada Fokus Cirebon, bahwa sampai saat ini tidak ada satupun alat transportasi yang masuk dan melewati lingkungan pesantren.

Tidak ada barang elektronik seperti televisi, radio, pengeras suara dan jenis lainnya yang dipakai di lingkungan kampung pesantren. Ini semua bukan karena warga di sini tidak mampu membelinya. 

"Kami sengaja tidak menggunakanya demi menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya dari leluhur kami," jelas Kang Miftah saat ditemui di kediamannya yang merupakan rumah pertama yang ada di Kampung Pesantren Benda, Kamis (19/11). 

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga pesantren sesekali pergi ke kota membeli kebutuhan pokok. Mereka turun menyebrangi sungai melewati batu-batuan yang ditata dan tali baja sebagai pegangannya untuk meniti sampai di seberang. Di situ tidak ada akses jembatan untuk melewati sungai besar yang kadang airnya deras saat musim penghujan. 

Ini merupakan wasiat dari KH Maulana Muhammad Soleh atau lebih dikenal dengan panggilan Mbah Soleh, sang pendiri kampung Pesantren Benda Kerep yang melarang didirikannya jembatan. Mbah Soleh berwasiat agar tidak membuat jembatan. 

"Mungkin di dalamnya terdapat rahasia, sehingga saya tidak bisa memaksakan. Karena, katanya, kalau dari utara ke selatan memang tidak boleh dibangun jembatan, tapi kalau untuk menuju makam Mbah Soleh ada jembatan alternatif," ungkapnya.

Untuk menuju pasar terdekat yang jaraknya 7,1 km membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam. Biasanya warga berjalan kaki beberapa kilometer menuju kampung yang sudah dilalui kendaraan. Meski warga Pesantren Benda dikenal kuat mempertahakan budaya dan tradisi, namun mereka tidak menutup diri saat berada di lingkungan luar. Mereka tetap berbaur saling menghormati dan sangat menjunjung semangat toleransi, baik dengan sesama agama maupun dengan agama lain.

Nilai-nilai toleransi yang selalu ditinggikan ini sangat terlihat ketika tahun lalu delegasi dari 24 negara datang mengunjungi pesantren tertua di Cirebon itu. Mereka datang dalam rangka menghadiri budaya Jaga Kali yang biasa dilakukan tiap tahun.

Karena keterbukaan dan penghargaan warga pesantren terhadap para tamu dengan latar belakang identitas yang berbeda-beda sangat dimajukan, delegasi-delegasi yang berkunjung pun menghormati tradisi Pesantren Benda Kerep. Turis perempuan yang berbeda agama, datang dengan inisiatif pakaian tertutup dan menutupi kepalanya dengan kain. Begitu juga para santri dan warga di lingkungan pesantren, mereka menyambut para delegasi dengan antusias dan sangat menghormati keberagaman, baik perbedaan tradisi, budaya, agama, dan kebangsaan.

Sejatinya setiap tahun pesantren ini selalu ada kunjungan dari tamu-tamu dari berbagai negara, dan sudah barang tentu dari sekitar Cirebon dan masyarakat Indonesia lainnya dengan beragam latar belakang. 

"Dulu waktu saya melanjutkan pendididkan doktoral di California University, saya terbiasa menerima pebedaan dan keberagaman. Di saat idil fitri tiba, mereka yang bukan muslim biasa mengucapkan selamat Idul Fitri. Begitu juga disaat Hari Natal tiba, saya pun mengucapkan Selamat Natal pada mereka yang merayakanya. Nilai-nilai toleransi seperti itu saya terapkan juga di sini," jelas Kang Miftah sambil meminum kopi.

Nilai-nilai toleransi yang didorong pesantren tradisional di Cirebon ini sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Cirebon yang meskipun relatif toleran, dengan cara beragama yang sangat moderat, tetapi kerap kali ditingkahi ideologi bahkan aksi warga yang berbasis kekerasan, seperti aksi terorisme di Polresta Cirebon atau penangkapan-penangkapan terduga teroris di Cirebon dan sekitarnya.

Budayawan yang menceritakan tentang Pesantren Benda, saat ditemui di Sangga Seni Kencana Ungu 

Apa yang diutarakan pimpinan Pesantren Benda Kerep terkait upaya menghidupkan toleransi ini juga diceritakan oleh budayawan Cirebon Sofyan Satari. Lelaki yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Kang Opang ini menuturkan bahwa Pesantren Benda Kerep merupakan tempat bersejarah, ketika zaman penjajahan Belanda, Pesantren Benda Kerep sempat menutup diri sekitar 100 tahun lamanya. Semua itu dikarenakan Pesantren Benda Kerep takut pengaruh-pengaruh kolonial masuk dan mengadu domba para santrinya.

"Pesantren Benda sebenarnya menjunjung tinggi nilai-nilat toleransinya sejak dulu. Tapi pesantren itu sempat menutup dirinya pada masa kolonial karena pada saat itu Mbah Soleh takut para santrinya terpecah-belah, diadu domba oleh Belanda," ungkapnya saat ditemui di Sanggar Seni Kencana Ungu (1/11).

Menurut Kang Opang, posisi Mbah Soleh dan pesantren saat ini non-kooperatif terhadap kebijakan para penjajah. Namun setelah era kolonial lewat, pada tahun 1980, Pesantren Benda Kerep mulai terbuka dan bekerja sama dengan masyarakat luas dari berbagai latar belakang.

Permadi Budiatna, kisah Kang Opang, adalah warga Cirebon beragama Kristen yang dengan baik diterima Pesantren Benda Kerep ketika membangun kerja sama mendirikan atau membangun listrik di kampung yang dulunya berdiri pohon benda yang sangat lebat dan rapat (kerep, bahasa Sunda). Sejak saat itu hubungan Permadi dengan pesantren sangat erat. 

Salah satu bukti toleransi yang saya ketahui adalah pada tahun 80-an, Pesantren Benda Kerep bekerja sama dengan seorang non-muslim untuk mendirikan listrik, ceritanya.

Sudut pandang lainnya mengenai toleransi Pesantren Benda Kerep dituturkan pula oleh Effendy yang merupakan tokoh agama Budha di Vihara Dewi Welas Asih, Cirebon. Ia berkawan baik dengan salah seorang warga Benda Kerep yang memegang adat istiadat yang sampai hari ini dilestarikan di pesantren.

Sebagai tokoh agama Budha, ia pun tidak canggung untuk memasuki wilayah pesantren. Ia bersama kawan akrabnya dari Benda Kerep pernah berkunjung ke Pesantren Benda. Ia pun merasa sangat lega karena etnis dan agamanya yang berbeda tetapi disambut hangat oleh para santri dan warga Pesantren Benda Kerep.

Effendy juga menganggap interaksi sehari-hari santri yang sekaligus warga Pesantren Benda Kerep dengan masyarakat luar sangat harmonis, termasuk dengan agama maupun etnis minoritas yang berbeda dengan mereka.

"Saat itu saya ikut dengan teman saya, orang Kampung Benda juga, dia mau mengambil pasir ke sana. Ketika saya sampai di Benda, warga pesantrennya menyambut saya dengan hangat. Mereka mengajak berbincang, dan lain-lain. Mereka memperlakukan saya layaknya seperti kawan-kawannya," tuturnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Tedy, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Cirebon. Ia mengaku dirinya belum pernah ke Kampung Benda, tetapi ia mengetahui keberadaan kampung tersebut langsung dari warga Kampung Pesantren Benda yang sering berhubungan, termasuk ketika mereka mengirim barang-barang material ke klenteng tempatnya beraktivitas.

Bangunan rumah pertama yang ada di Kampung Pesantren Benda Kerep 


Sebagaimana banyak diketahui, interaksi warga Kampung Pesantren Benda dengan masyarakat sekitar Cirebon di antaranya adalah mata pencaharian mereka yang menggali secara tradisional pasir dan batu-batu material untuk bangunan. Dari sanalah Tedy banyak bertemu dan bekerja sama dengan penduduk Kampung Pesantren Benda.

"Saya justru lebih kenal dengan masyarakta Bendanya yang bekerja di sini. Pas saya tanya dari mana, mereka jawab dari Benda," katanya saat ditemui di Klenteng Talang.

Ia juga berpendapat, jika Kampung Pesantren Benda yang masih tradisional merupakan aset negara yang harus dijaga, karena mereka mempertahankan tradisi atau adat dan istiadat yang sekaligus sangat ramah, sederhana, dan menghormati perbedaan.

"Saya rasa seharusnya keasliannya Pesantren Benda itu aset negara yang harus dijaga," imbuhnya.

Harapan-harapan masyarakat terhadap pesantren tersebut, sebenarnya semangat yang selalu diajarkan dan diwariskan Kang Miftah, sebagai pimpinan pesantren yang sangat berpengaruh, kepada para santri dan warganya untuk turut menghidupkan semangat keberagaman dan penghormatan hubungan lintas iman di Cirebon dan di manapun nantinya para santri bersosialisasi. Tidak ada halangan bagi relasi dan kerja sama antaragama, etnis, dan budaya-budaya yang berbeda.

Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) yang sedang menjelaskan kerja sama antara Klenteng Talang dan warga Kampung Pesantren Benda

“Pesantren sangat membolehkan para santri dan warga Pesantren Benda Kerep untuk mengucapkan Natal dan hari raya agama-agama lainnya kepada non-muslim yang sedang merayakan hari besar mereka," tegas Kang Miftah. (Indah)

Tulisan ini bagian dari program Story Grant Pers Mainstream Jawa Barat yang digelar oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung fur die Freiheit (FNF) dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.