Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 14 Juli 2020

Mantan Menteri Agama Lukman Hakim, Ingatkan Kondisi Faktual Keberagamaan Di Indonesia


CIREBON, FC - Lukman Hakim Saifuddin, selaku narasumber pertama mengatakan, kondisi faktual keberagamaan kita saat ini berada pada dua titik ekstrem, sehingga perlu ada pemahaman dan upaya untuk memoderasi cara beragamanya, bukan agamanya. 

“Mengutip data penelitian yang dilakukan oleh Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. tentang literatur keislaman Generasi milenial, hasilnya menunjukkan bahwa generasi milenial sangat memiliki minat untuk untuk melakukan akses terhadap literatur keagamaan,” ujar Menteri Agama Periode 2014-2019 itu.

Ia menegaskan, letak masalahnya adalah pada pilihan topik, di mana jihad dan khilafah paling banyak diminati. Sehingga pemahaman agama dengan cinta dan kasih sayang harus ditanamkan pada setiap generasi muslim.

Senior Lecturer in the Study of Islam and Society, Griffith University, Australia, Adis Dudireja yang hadir sebagai narasumber kedua menyampaikan perlunya filtrasi paham dan ekspresi keberagamaan dengan cinta dan wawasan yang baik. Sehingga generasi muslim tidak terjebak dalam pemahaman keagamaan yang ekslusif dan ekstrem. 

Lebih lanjut, menurut Mohammad Sobri, selaku narasumber ketiga mengungkapkan, Indonesia sesungguhnya memiliki perangkat yang ideal untuk mewujudkan kehidupan keberagamaan yang tengah-tengah, yaitu dengan Pancasila. 

“Pancasila sangat relevan dengan ajaran Islam, sehingga menjadi muslim sekaligus bagian dari warga negara adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Menutup sesi diskusi, Alissa Wahid selaku narasumber keempat  menekankan pentingnya pengarusutamaan moderasi beragama di Indonesia. Melalui Komitmen kebangsaan, Toleransi antar kelompok, Anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi dan adat istiadat. 

“Signifikansi pengarusutamaan ini paling tidak dilandasi oleh tiga alasan. Pertama, kehadiran agama untuk menjaga martabat manusia dengan pesan utama rahmah (kasih-sayang). Kedua, pemikiran keagamaan bersifat historis, sementara realitas terus bergerak secara dinamis. Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dirawat melalui strategi kebudayaan,” ujar puteri Gus Dur dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian itu.

Dr. Faqihudin Abdul Kadir, dosen senior IAIN Syekh Nurjati mempertegas bahwa perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan kehidupan praksis sosial sangat penting untuk dilakukan. 

Ia melanjutkan, bagaimana perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan ini bukan hanya menjadi standar operasional dalam kajian tetapi juga merasuk  dan membudaya dalam kehidupan praksis sosial. 

“Tantangan lain yang lebih nyata adalah bagaimana perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan kehidupan praksis sosial ini menjadi life style bagi kalangan milenial yang tengah lelap dengan pola kehidupan disruptif,” ujarnya.

Ia berharap, dengan menghadirkan unsur pembuat kebijakan, akademisi, dan kalangan muda milenial pada kegatan hari ini dapat mengahsilkan rekomendasi-rekomendasi yang cerdas dan membumi dalam upaya pengarusutamaan moderasi beragama dalam menyongsong kehidupan masyarakat yang lebih damai, aman, dan sentosa. (Fal)

Rumah Moderasi Beragama Dan FUAD IAIN Syekh Nurjati Cirebon Bedah Radikalisme Melalui Seminar Webinar


CIREBON, FC - Seminar webinar yang diselenggarakan oleh Rumah Moderasi Beragama & FUAD IAIN Syekh Nurjati Cirebon membedah radikalisme dan intoleransi, Selasa (14/2), di kampus setempat.

Dalam seminar webinar tersebut, atau International Online Seminar for Moderation in Islam I, dengan tema Moderation Perspectitve in Understanding the Religious Texts and Social Practices diikuti oleh hampir seluruh PTKIN di indonesia.

Dalam.seminar internasional ini, sebagai Opening Speech yakni Dr.H.Sumanta, M.Ag Rector of IAIN Syekh Nurjati dan 
Keynote Speaker, Jenderal (Purn) Fachrul Razi, Minister of Religious Affair RI.

Turut hadir sebagai Speakers dalam kegiatan seminar Zoom tersebut, diantaranya Lukman Hakim Saifuddin (Minister of Religious Affair, 2014-2019), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, MA, Ph.D. (Head of BPIP RI), dan Adis Duderija, Ph.D. (Senior Lecturer In the Study of Islam and Society at Griffith University, Australia), serta Alissa Qotrunnada Wahid (National Coordinator Gusdurian, Indonesia), dengan moderator Mamay Mudjahid, M.Hum dan Host H. Debi Fajrin Habibi, M.Pd.

Rektor IAIN SNJ Cirebin, Dr H Sumanta Hasyim MAg mengatakan, bahwa ancaman radikalisme bagi usia muda itu, berdasarkan hasil penelitian UIN Jogyakarta dan UIN Jakarta, kerawanan berada di antara usia 15 sampai 24 tahun dan usia 16 sampai 18 tahun. Tentu ini sangat mengkhawatirkan, meskipun sikap moderat masih mewarnai mereka.

Kata Sumanta, usia 15 tahun masih sangat memiliki akses terhadap literatur keagamaan linier, persoalannya justru terletak pada pemilihan topik yakni jihad dan khilafah, dua tema ini yang cenderung paling banyak diminati, dan ini adalah dari hasil penelitian UIN Jakarta dari 16 sampai 18 kota di Indonesia. 

Untuk itu, IAIN SNJ Cirebon ikut mengambil peran untuk bagaimana mewujudkan moderasi beragama, baik dalam kontek agama maupun.pengamalannya, sehingga dilaksanakanlah kegiatan seminar International Moderation in Islam seri 1.

Sementara itu, Menteri Agama RI, Jendral (Purn) Ir Fachru Rozi menyatakan bahwa merujuk hasi riset baik dari lembaga penelitan kampus dan juga kementerian agama yang tengah marak tentang sikap intolerasi ancaman radikalisme serta etnimisme pada remaja usia 15 hingga usia 24 tahun.

Pada kondisi tersebut, dimungkinkan mereka sangat mudah dipengaruhi oleh yang memiliki ilmu agama yang tinggi, tetapi radikal. Maka, untuk itu kondisi ini jika tanpa diimbangi dengan ilmu agama yang mendalam, mereka di usia yang dimaksud sangat mudah dipengaruhi oleh sikap radikal.

Untuk itu dunia pendidikan harus dapat mengajarkan dan menekankan pentingnya aspek moderasi beragama tidak secara formalistik dan tekstual. 

Dipenguhujung seminar internasional webiner ini, Menteri Agama secara resmi meluncurkan Rumah Moderasi Beragama IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Sementara Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa yang penting dan perlu di moderasi adalah cara beragama. Terkadang masih salah persepsi, jadi bukan agama tetapi yang di moderasi itu adalah cara beragama.

Untuk itu nenjadi penting untuk kita memahami nilai nilai esensial kedalam agama itu sendiri dan kenudian mewujud kepada prilaku, kepada tindakan dan amalan-amalan dari nilai yang kita pahami itu.

Ini yang harus senantiasa dijaga agar tidak terjerumus pada pemahaman dan tidakan yang berlebih-lebihan yang extrim.

"Jadi moderasi agama sesungguhnya adalah ikhtiar dan upaya kita bersama untuk senantiasa menjaga dan pengamalan keagamaan," katanya.  (din)







Senin, 13 Juli 2020

Melalui Webiner, SPK Bekerjasama IAIN Cirebon Angkat Tema 'Literasi Untuk Mengabdi Dan Mengabadi'


CIREBON, FC - Dr. Haidar Bagir, yang hadir selaku narasumber menyampaikan, Menulis bersifat eksistensial,  hidup kita bermakna bila menulis.  

Ia menegaskan dengan mengutip dari Pramoedya Ananta Toer, bahwa orang boleh pandai setinggi langit tapi selama tak menulis akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah.

“Mengutip juga dari cucu Rasulullah,  seorang ulama besar yaitu Imam Ja'far al-Shadiq bahwa, ikatlah ilmu dengan menulisnya,” ujar direktur Mizan itu.

Bahkan, lanjut dia, Sejarah Islam adalah sejarah literasi. Al-Farabi jika tidak salah, selama 20 tahun menacari buku karya Aristoteles dan beliau baru menemukannya di pasar Bagdad.  Sejak saat itu, begitu dahsyatnya para pemikir Islam untuk menulis karya.

Narasumber lainnya, Habiburrahman El-Shirazy, juga menyampaikan, Menulis itu wajib dengan makna seluas-luasnya. Al- Imam Asy-Syuyuti telah menulis 600 judul buku lebih yang satu bukunya saja berjilid-jilid.  

Menurutnya, Menulis bisa wajib karena bila seseorang yang memiliki ilmu bila tidak ditulis akan hilang seiring meninggalnya orang tersebut . 

“Wahyu Al-Qur’an yang pertama turun juga merupakan penekanan terhadap membaca dan menulis.  Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui manusia,” Ujar pria yang juga novelis itu 

Ia menegaskan, Banyak peristiwa besar yang terjadi yang dimulai dari goresan pena.  Seperti yang terdapat pada QS. An-Naml,  mengisahkan Nabi Sulaiman yang mengirim surat kepada Ratu Balqis, sehingga negeri yang dipimpin Ratu Balqis masuk islam. 

“Banyak juga pemimpin-pemimpin besar yang merupakan seorang penulis ulung. Seperti Ir. Soekarno, Bung Hatta,  Pak Nasir, KH.  Hasyim Asyari,  KH. Sholeh Darat.  Merupakan tokoh-tokoh yang bisa kita teladani dalam hal keseriusan mereka dalam berliterasi,” tandasnya 

Sementara itu, dalam sesi lounching buku, Prof. Dr M.  Chirzin, M. Ag, mengatakan, Mengapa perlu menulis buku?,  karena buku merupakan barometer zaman,  penggerak sebuah perubahan.  Tulisan adalah warisan peradaban yang tidak akan akan mati. (Jamil)

Melalui BPTJ, Damri - Kemenhub Bekerjasama Melayani Bus Bantuan Dari Bogor


JAKARTA - Damri bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) untuk melayani Bus Bantuan dari Bogor (Botani Square) menuju Jakarta (Stasiun Juanda & Dukuh Atas).

Kegiatan monitoring Bus Bantuan diadakan di dua tempat, yaitu di Stasiun Bogor dan Botani Square.

Hadir pada kegiatan tersebut Direktur Komersial & Pengembangan Usaha, Sandry Pasambuna, Kepala BPTJ, Polana Pramesti, Direktur Angkutan Jalan, Ahmad Yani, Sekretaris BPTJ, Rosita Sinaga, Direktur Utama PPD, Pande Putu Yasa, serta Wali Kota Bogor, Bima Arya. 
Sedangkan di Botani Square juga dihadiri oleh Direktur Utama Damri, Setia N. Milatia Moemin, Direktur Komersil & Pengembangan Usaha DAMRI, Sandry Pasambuna, Kepala BPTJ, Polana Pramesti, serta Direktur Angkutan Jalan, Ahmad Yani. 

"Damri menyediakan 10 armada Bus Bantuan yang dilengkapi dengan protokol COVID-19. Dlengan jadwal keberangkatan mulai jam 05.00 WIB sampai dengan jam 09.00 WIB dari Botani Square, yang selanjutnya akan di berangkatkan setiap 15 menit sekali. Layanan tersebut dapat dinikmati pelanggan selama satu hari penuh," kata Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan Damri, Nico R Saputra, Senin (13/7).

Dengan adanya Bus Bantuan Damri, diharapkan dapat mengurangi kemacetan jalan serta mengurai kepadatan penumpang yang kerap terjadi setiap Senin pagi, terutama kepadatan di stasiun kereta yang dibatasi jumlah penumpangnya. 

"Lebih lanjut, kata Nico mengungkapkan 
Damri menghimbau untuk tetap mematuhi ketentuan perjalanan yang sesuai dengan Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nomor 9 Tahun 2020, yakni pelanggan yang memiliki suhu < 37,3 derajat celcius, penerapan physical distancing, penggunaan masker sebelum perjalanan, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, serta hindari berbicara saat di dalam bus. (dade)

Konstrad Terus Mendukung Gugus Tugas Percepatan Penaganganan Covid-19


JAKARTA - Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) terus mendukung Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menahan penyebaran wabah virus corona. Salah satunya dengan melaksanakan uji usap (swab test) bagi prajurit dan PNS Markas Kostrad Senin (13/7), di Markas Kostrad, bertempat dilapangan Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat. 

Dalam kesempatan tersebut, Kesehatan Kostrad bekerja sama dengan Rumah Sakit Ridwan Meuraksa. Langkah ini merupakan bagian dari program mewujudkan Kostrad yang terbebas dari virus corona.

Kepala kesehatan (Kakes Kostrad) Kolonel Ckm dr. Masri Sihombing, Sp.OT., M.Kes., menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk kepedulian pimpinan TNI AD kepada anggota dalam membantu Pemerintah memerangi Pandemi Covid-19.

 "Menilai kegiatan yang dilakukan ini sangat baik dan sangat berguna dalam memerangi pandemi covid-19 dan berharap seluruh Prajurit dan PNS  bisa melakukan Test Swab Covid-19 sehingga penyebaran covid-19 dapat ditekan seminimal mungkin," kata Masri.

Pelaksanaan Test Swab Covid-19 yang dilaksanakan bagi prajurit dan PNS Markas Kostrad, agar dalam melaksanakan tugas dapat terlaksana dengan baik dan terbebas dari virus covid 19.

Kakes Kostrad berpesan agar seluruh prajurit dan PNS lebih disiplin mematuhi anjuran pemerintah khususnya pendisiplinan protokol kesehatan dengan menerapkan sosial dan physical distancing maupun pola hidup sehat untuk selalu gunakan masker, jaga jarak, jaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan. (dade)