Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 02 Februari 2026

Rektor UIN Siber Cirebon: Guru Agama Pilar Peradaban Bangsa

CIREBON, FC - Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menegaskan bahwa masa depan pendidikan agama di Indonesia sangat ditentukan oleh keberpihakan negara terhadap guru. Menurutnya, guru agama tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga penanam nilai, pembentuk karakter, dan penjaga moral generasi bangsa.

“Pendidikan yang unggul tidak lahir dari kebijakan seremonial, melainkan dari keberpihakan nyata terhadap guru sebagai aktor utama pendidikan. Guru agama adalah pilar peradaban bangsa,” ujar Prof. Aan, di Cirebon, Senin, (2/1/2026)

Pernyataan tersebut disampaikan menyikapi langkah Kementerian Agama RI yang menjadikan tata kelola dan kesejahteraan guru agama dan madrasah sebagai prioritas nasional. Kebijakan itu, kata Prof. Aan, menandai arah baru reformasi pendidikan keagamaan yang lebih berkeadilan dan berorientasi mutu.

Ia mengapresiasi pernyataan Sekretaris Jenderal Kemenag RI, Prof. Dr. Kamaruddin Amin, MA, yang menegaskan komitmen negara dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Kenaikan Tunjangan Profesi Guru (TPG) dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta, percepatan sertifikasi melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta afirmasi terhadap guru non-ASN dinilai sebagai bukti kehadiran negara.

“Kesejahteraan guru bukan tujuan akhir, tetapi fondasi agar guru dapat bekerja secara profesional, fokus mendidik, dan terus meningkatkan kompetensi,” kata Prof. Aan.

Selain kesejahteraan, Prof. Aan menilai penataan tata kelola rekrutmen guru, khususnya guru madrasah swasta dan guru agama di sekolah umum, menjadi agenda penting. Ia menekankan perlunya koordinasi lintas sektor antara yayasan, pemerintah daerah, sekolah, dan Kementerian Agama.

Keputusan Menteri Agama Nomor 1006 Tahun 2021 disebutnya sebagai regulasi penting dalam memastikan proses rekrutmen guru yang transparan dan akuntabel, mulai dari analisis kebutuhan melalui SIMPATIKA hingga pengawasan yang lebih terstruktur.

“Pendataan yang valid menjadi kunci agar kebijakan afirmatif, termasuk sertifikasi dan peningkatan kesejahteraan, tepat sasaran,” ujarnya.

Terkait masih adanya lebih dari 423 ribu guru madrasah yang belum tersertifikasi, Prof. Aan menyebut kondisi tersebut sebagai tantangan besar yang harus dijawab secara kolaboratif. Program akselerasi PPG, menurutnya, membutuhkan dukungan aktif dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Sebagai PTKIN berbasis siber, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menyatakan kesiapan berperan dalam percepatan peningkatan kompetensi guru melalui pengembangan PPG berbasis daring dan inovasi pembelajaran digital.

“Transformasi digital dalam pendidikan guru adalah keniscayaan. Sertifikasi guru harus dimaknai sebagai upaya menjaga mutu dan profesionalisme, bukan sekadar administrasi,” tegasnya.

Prof. Aan menegaskan, komitmen pemerintah dalam membenahi tata kelola dan kesejahteraan guru harus dipandang sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional. Pendidikan agama yang unggul dan berdaya saing hanya dapat terwujud jika guru ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan.

“Memuliakan guru berarti memuliakan masa depan bangsa. Dari ruang kelas dan madrasah, guru menyiapkan generasi yang berkarakter, moderat, dan berdaya saing,” pungkasnya. (din)

Sya’ban: Bulan Menyucikan Hati, Menata Takdir, dan Menyambut Cahaya Ramadan

H.M.Arifin M.Ag, Humas UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon 


CIREBON, FC - Humas UIN Siber Cirebon, H.M. Arifin M.Ag menegaskan, tatkala kalender Hijriah memasuki bulan Sya’ban, ada getaran lembut yang menyentuh relung batin umat Islam. Ia hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan isyarat spiritual bahwa Ramadan kian mendekat. 

Sya’ban menjadi jembatan sunyi ruang perenungan tempat jiwa membersihkan diri, menata niat, dan mempersiapkan hati sebelum menyambut bulan suci.

Dalam khazanah Islam, Sya’ban menempati posisi istimewa. Rasulullah ï·º bahkan menyebutnya sebagai “syahri” bulanku. Sebutan ini bukan tanpa makna. Para ulama memaknai Sya’ban sebagai momentum memperbanyak shalawat dan menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad ï·º. Jika Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, maka Sya’ban adalah bulan mahabbah, keteladanan, dan kedekatan spiritual dengan Sang Rasul.

Ulama besar Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki menjelaskan, Sya’ban dinamakan demikian karena dari bulan inilah memancar cabang-cabang kebaikan. Setiap amal, doa, dan taubat yang dipanjatkan memiliki potensi besar melipatgandakan keberkahan. Ia menjadi ladang subur bagi siapa pun yang ingin menata ulang kehidupan batinnya.

Keistimewaan Sya’ban mencapai puncaknya pada malam Nisfu Sya’ban. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, pada malam pertengahan bulan ini Allah SWT menetapkan dan mencatat perjalanan hidup manusia untuk satu tahun ke depan. Kesadaran akan hal tersebut sejatinya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak manusia merenung.

Betapa sering manusia larut dalam hiruk-pikuk dunia mengejar harta, jabatan, dan ambisi tanpa menyadari bahwa ajal, rezeki, dan nasibnya tengah dituliskan. Dari perenungan inilah lahir tiga sikap utama dalam beragama: rasa takut akan dosa, harapan terhadap rahmat Allah, serta sikap berserah sepenuhnya kepada ketentuan-Nya.

Karena keagungannya, para ulama menganjurkan umat Islam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah: shalat sunnah, istighfar, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa. Di Indonesia, tradisi membaca Surah Yasin tiga kali selepas Magrib dengan niat panjang umur, keselamatan, dan kecukupan rezeki telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar ritual, amalan tersebut merupakan proses penyucian batin. Di hadapan Allah, manusia mengadu tentang dosa yang menumpuk, rezeki yang terasa sempit, hidup yang penuh ujian, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Doa-doa Nisfu Sya’ban mengajarkan kerendahan hati: bahwa manusia tak memiliki daya dan upaya kecuali dengan rahmat-Nya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistik, Sya’ban hadir sebagai oase rohani. Saat masyarakat diliputi kecemasan kolektif krisis ekonomi, kegelisahan sosial, retaknya relasi keluarga, hingga kekosongan makna Sya’ban mengajak manusia berhenti sejenak untuk menata ulang orientasi hidup.

Spiritualitas Sya’ban menawarkan terapi jiwa. Ia mengajarkan bahwa ketenangan sejati tidak selalu lahir dari kepemilikan, melainkan dari kepasrahan dan kedekatan kepada Allah SWT.

Hakikatnya, Sya’ban adalah madrasah persiapan menuju Ramadan. Ia melatih konsistensi ibadah, memperkuat doa, memperbanyak shalawat, serta membersihkan hati dari iri, dengki, dan dendam. Siapa yang memuliakan Sya’ban, insyaallah akan lebih siap memuliakan Ramadan.

Sebab Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan transformasi spiritual. Dan Sya’ban adalah pintu masuknya.

Maka, mari sambut Sya’ban dengan kesungguhan. Hidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan doa dan harap. Perbanyak shalawat sebagai tanda cinta. Luruhkan kesombongan dalam sujud panjang. Siapkan jiwa agar pantas menjadi tamu Ramadan. Sebab bisa jadi, inilah Sya’ban terakhir kita. (din)


DPRD Terima Usulan Mayor Tan Tjin Kie dan Kang Ayip Muh Peroleh Penghargaan

CIREBON – Pimpinan DPRD Kota Cirebon bersama Anggota Komisi II dan III Cirebon menerima usulan masyarakat pegiat seni dan budaya untuk memberikan penghargaan kepada Mayor Tan Tjin Kie.

Rapat yang digelar pada Senin (2/2/2026) tersebut turut dihadiri Staff Ahli wali Kota Cirebon, pejabat dari Disbudpar, Bappelitbangda, DPRKP, DPUTR dan BPKPD Kota Cirebon.

Saat rapat berlangsung, Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani mengatakan, DPRD dan pemerintah daerah mmerupakan bagian dari enyelenggara pemerintahan, sehingga DPRD mesti menjembatani usulan masyarakat kepada pemerintah eksekutif.

Terlebih, pemberian penghargaan bagi tokoh masa lalu yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan budaya Cirebon, yakni Mayor Tan Tjin Kie dan tokoh Keagamaan yakni Al Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya (Kang Ayip Muh) Cirebon.

“Faktanya Mayor Tan Tjin Kie banyak peninggalannya, seperti rumah sakit, pabrik gula, kemudian rumah di santa maria, pabrik di Karangwusuwung, dan ada bangunan yang sudah tidak ada menjadi mal,” terangnya di Griya Sawala gedung DPRD.

Harry menambahkan, peran Kang Ayip Muh membangun umat pun sangat besar. Seperti menghilangkan praktik perjudian di sejumlah wilayah di Cirebon dan sekitarnya.

Ia juga mengatakan, momentum ini bisa menegaskan Kota Cirebon seperti namanya, Caruban yakni akulturasi kebudayaan dan toleransi.

Hal serupa disampaikan oleh Ketua Komisi III DPRD, yusuf MPd. Ia mengatakan, momentum ini mengembalikan literasi kebudayaan di Kota Cirebon. Komisi III mengapresiasi dan berterimakasih karena semua elemen yang hadir mengembalikan ingatan kepada warga terhadap orang-orang yang berjasa membangun Kota Cirebon.

“Ini sebagai bentuk terimakasih kita, maka hal ini mesti diseriusi dan mencari formulasi untuk menjawab usulan yang sudah disampaikan dengan berdiskusi dengan walikota Cirebon, mendorong agar usulan budayawan dan masyarakat bisa terealisasi,” tuturnya.

Anggota Komisi III DPRD, Umar Stanis Klau juga mengatakan, Kota Cirebon memiliki kekayaan budaya dan sejarah, jangan sampai ramai di permukaan tetapi belum memuliakan tokoh besar yang sudah membangun Kota Cirebon.

“Ini pun merupakan motivasi yang positif untuk kebangkitan kembali peradaban Cirebon. Hari ini tokoh tionghoa, mungkin tokoh lain, baik suku arab, india dan lainnya yang pernah berperan membangun Kota Cirebon,” jelasnya.

Masih kata Umar Klau, secara genetika sejarah Cirebon berasal dari berbagai latar belakang negara. “Sepaham dan sepakat, tinggal nanti kita tidak sampai di sini saja, diharapkan tahun ini respon positif dari pemerintah, yakni penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Abah Ayip Muh,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua MESTi Cirebon, Dedi Setiawan mengungkapkan, meminta agar Pemerintah Daerah Kota Cirebon memberikan perhatian dan penghargaan kepada dua tokoh tersebut.

“Jasa kedua tokoh ini jelas, maka sudah seharusnya Pemkot memberikan penghargaan,” ungkap Dedi.

MESTi pun memberikan catatan, jika dalam satu tahun tidak ada respon dari Pemkot Cirebon, maka makam Mayor Tan Tjin Kie akan dipindahkan ke Kota Malang. Karena mereka meminta secara langsung.

“Jika pemda diam, kita akan pindahkan makam Mayor Tan Tjin Kie, karena pemda disana meminta, dan siap memberikan penghargaan,” kata Dedi.

Sebagai informasi, Mayor Tan Tjin Kie (1853-1919), sosok saudagar yang menurut cerita sejarah merupakan sosok saudagar kaya, dermawan dan menjadi pahlawan dalam membangun ekonomi di Kota Cirebon pada masa lampau.

Kemudian sosok Habib Muhammad bin Syekh bin Abu Bakar bin Yahya, atau yang dikenal dengan Kang Ayip Muh dari Pondok Pesantren Jagasatru untuk sama-sama diangkat, atas nama besar dan jasanya dalam hal keagamaan di Kota Cirebon. (Ara)

Minggu, 01 Februari 2026

PTKIN Siber Pertama di Indonesia, Menyemai Masa Depan Pendidikan Islam Global

 

CIREBON, FC - Kehadiran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berbasis siber pertama di Indonesia menjadi penanda transformasi besar pendidikan Islam menuju masa depan yang lebih terbuka, inklusif, dan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar inovasi teknologi, PTKIN siber hadir sebagai frontier advokasi gerakan Open Islamic Educational Resources (OIER) di tingkat global. Melalui tata kelola berbasis siber, universitas ini memosisikan diri sebagai pusat pertumbuhan ilmu pengetahuan Islam yang terbuka, saling terhubung, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

“PTKIN siber bukan hanya tentang digitalisasi kampus, tetapi tentang membangun peradaban ilmu yang terbuka, berjejaring, dan berkeadilan,” ujar H. Mohammad Arifin, M.Pd.I, saat menyampaikan pandangannya.

Dengan menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dan pendidikan berbasis teknologi (cyber university), PTKIN siber membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat lintas wilayah dan latar belakang. Sistem pembelajaran dirancang networked, digital, dan virtual, sehingga mahasiswa dapat belajar secara fleksibel namun tetap berkualitas.

Pendekatan pembelajaran berbasis multimedia digital menjadi kekuatan utama dalam mencetak sumber daya manusia dan lulusan yang kreatif, adaptif, serta profesional. Model ini mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga pelaku aktif dalam proses penciptaan pengetahuan.

Di tengah cepatnya perubahan dunia, PTKIN siber terus melakukan inovasi pendidikan futuristik dengan mengembangkan berbagai model pembelajaran digital yang interaktif dan kontekstual. Inovasi ini menjadi jawaban atas kebutuhan generasi baru yang tumbuh dalam ekosistem teknologi dan informasi.

Tak hanya pada bidang pendidikan, PTKIN siber juga berkomitmen meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan perspektif global. Penelitian diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta menghadirkan layanan publik yang bermutu dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Menurut H. Mohammad Arifin, M.Pd.I, orientasi global ini penting agar perguruan tinggi Islam tidak hanya menjadi pusat kajian keilmuan, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial.

“Perguruan tinggi harus hadir sebagai solusi, memberi manfaat, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa,” tegasnya.

Dengan semangat keterbukaan, inovasi, dan keberlanjutan, PTKIN siber pertama di Indonesia menegaskan dirinya sebagai simbol transformasi pendidikan Islam—menghubungkan tradisi keilmuan dengan teknologi, serta merajut masa depan pendidikan yang lebih adil, inklusif, dan berdaya saing global.

Sabtu, 31 Januari 2026

Pemkab Cirebon Perkuat Tata Kelola melalui Pelatihan Manajemen Risiko Eksekutif

 

BOGOR — Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Inspektorat Kabupaten Cirebon berkolaborasi dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Risiko Eksekutif di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, dimulai tanggal 26 hingga 28 Januari 2026, bertempat di Pusdiklatwas BPKP Ciawi Bogor.

Pelatihan tersebut diikuti oleh 20 kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman pimpinan perangkat daerah dalam mengelola risiko strategis, operasional, dan lintas sektor pemerintahan.

Perlu diketahui, manajemen risiko eksekutif memiliki peran penting dalam tata kelola pemerintahan daerah.

Melalui penerapan manajemen risiko yang baik, perangkat daerah diharapkan mampu mengantisipasi potensi hambatan program, meminimalkan kegagalan kebijakan, serta meningkatkan efektivitas dan akuntabilitas kinerja.

Pada hari pertama, peserta menerima materi Pengembangan Kebijakan Manajemen Risiko Sektor Publik dan Manajemen Risiko Sektor Publik bagi Pimpinan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Widyaiswara Utama BPKP, Danang Wijayanto, menegaskan bahwa proses manajemen risiko harus dilakukan secara terstruktur dan melibatkan berbagai pihak.

“Proses manajemen risiko harus dilakukan secara sistematis, iteratif, dan kolaboratif, memanfaatkan pengetahuan dan pandangan para ahli dan pemangku kepentingan,” ujar Danang saat menyampaikan materi.

Ia menambahkan bahwa pengelolaan risiko tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan memerlukan komunikasi yang intensif dengan seluruh pemangku kepentingan.

“Mereka yang menilai dan mengelola risiko harus berkonsultasi dengan pemangku kepentingan eksternal dan internal yang sesuai untuk memfasilitasi pertukaran informasi dan bukti yang faktual, tepat waktu, relevan, akurat, dan dapat dipahami, sambil mempertimbangkan kerahasiaan dan integritas informasi ini,” lanjut Danang.

Pada hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan pemaparan materi Manajemen Risiko Sektor Publik untuk Pimpinan, serta pengawalan, pemantauan, dan pengawasan implementasi manajemen risiko di lingkungan pemerintah daerah.

Kegiatan ditutup dengan penelaahan materi pengelolaan risiko strategis dan risiko lintas sektor, sebagai upaya memperkuat sinergi antarperangkat daerah dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah yang semakin kompleks.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Cirebon diharapkan mampu membangun budaya sadar risiko di setiap lini organisasi, sehingga penyelenggaraan pemerintahan berjalan lebih efektif, adaptif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. (din)